Sha, Ladyboy asal Thailand yang Menginspirasi Lewat SK-II Change Destiny

 Awal bulan lalu, saya diundang menghadiri acara SK-II #ChangeDestiny Global Forum di Singapura. Ada dua Key Opinion Leader (KOL) yang turut hadir dalam acara ini yaitu Anggun C. Sasmi dari Indonesia dan Sha dari Thailand.

Dua sosok ini berbagi kisah sukses mereka dalam acara mini talkshow #ChangeDestiny yang diadakan di hotel St. Regis. Baik Anggun maupun Sha “buka-bukaan” tentang kesulitan-kesulitan yang mereka alami dan bagaimana mereka berusaha untuk mengubah hidup mereka. Cerita Anggun bisa dibaca di artikel “Anggun Bicara Karier, Haters, dan Kontroversi Kulit Putih”, dan kali ini, saya akan menceritakan hasil obrolan saya dengan Sha.

SK-II Change Destiny

Terlahir sebagai pria, Sha yang memiliki nama asli Theetawit Settachai ini sudah menyadari bahwa ia “berbeda” dari anak laki-laki lain sejak kecil. Sebagaimana anak laki-laki pada umumnya, ketakutan terbesar Sha pada saat itu adalah mengecewakan keluarganya, terutama Ayahnya. Selama bertahun-tahun Sha memutuskan untuk stay behind the closet dan menyembunyikan jati diri yang sebenarnya.

Salah satu cerita yang paling diingat Sha adalah saat masih remaja dulu, Ayahnya pernah meminta ia memegang kunci mobil. Saat diminta kembali, bukannya mengeluarkan kunci mobil, Sha secara tidak sengaja malah mengeluarkan kotak bedak miliknyaDi situlah turning point dimana Sha merasa bahwa ia tidak bisa menyembunyikan identitasnya lebih lama lagi dan memutuskan untuk jujur pada keluarganya dan terutama pada dirinya sendiri.

SK-II Change Destiny Sha

Setelah jujur pada keluarganya, Sha merasa beruntung bahwa seluruh anggota keluarganya bisa menerima ia apa adanya. Namun, Sha tidak ingin berhenti sampai disitu. Ia ingin membuat sesuatu, menghasilkan sesuatu, dan menginspirasi orang-orang lewat karyanya.

“Saya ingin kaum alternative gender merasa percaya diri untuk menghasilkan suatu karya yang bisa membuat diri mereka dan lingkungannya bangga. Keputusan saya untuk menjalani hidup sesuai dengan yang saya inginkan tidak membatasi saya untuk meraih mimpi-mimpi saya.”

Sha akhirnya menulis buku berjudul “Diary of a Tootsie” yang bercerita tentang kisahnya menjadi seorang ladyboy. Dikemas dalam bahasa yang santai, “Diary of a Tootsie” menjadi best-seller dimana-mana dan Sha sendiri sudah menjadi influencer terkenal di Thailand. Sayangnya, buku “Diary of a Tootsie” baru tersedia dalam bahasa Thai, belum ada versi bahasa Inggris atau Indonesia. Saat ini Sha sedang dalam proses menerbitkan bukunya dalam bahasa Inggris dan saat bukunya sudah terbit, semoga saya bisa memahami kisah inspiratif Sha lebih dalam lagi.
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Dari Sha, saya belajar bahwa sebelum membuktikan sesuatu pada dunia, kita harus berdamai dulu dengan diri sendiri. Hambatan dari luar pasti akan selalu ada, tapi tidak akan sekuat hambatan yang datang dari dalam diri sendiri. Berusaha jujur tentang keadaan dirinya pada lingkungan sekitar bukanlah hal mudah, tapi menurut Sha, itu adalah langkah awal yang ia tempuh untuk menjalani hidup sebaik-baiknya.

You’re the only person you’re stuck with and the only person you can count on for the rest of your life. Make sure you like who that is.” Bukan begitu, Sha? :)