Tried & Tested: History of Whoo Gongjinhyang Soo Camellia Oil

ACM09192_E05_etc_3Kalau sebelumnya Anda sudah membaca artikel tentang manfaat minyak biji kamelia, yang sebenarnya merupakan pengantar beberapa artikel saya ke depannya, pasti sudah tahu, dong, bahwa minyak ini banyak manfaatnya? Kalau belum, jangan lupa dibaca, ya, supaya tahu lebih jelas kenapa saya sekarang jadi camellia oil-believer. Sebenarnya, keingintahuan saya dimulai ketika saya menemukan produk History of Whoo Gongjinhyang Soo Camellia Oil. Walaupun saya pengguna rutin beauty oil, tapi ini tipe minyak yang baru buat saya. Yang sering saya dengar adalah argan oil, rosehip oil, tamanu oil, atau ginseng oil. Setelah riset panjang, ternyata camellia oil bukanlah hal baru, melainkan sudah semacam rahasia kecantikan umum di Jepang, serta banyak disukai karena teksturnya yang ringan dan dry.

Whoo Camellia Oil sendiri susah sekali dicari informasinya. Tapi, kebanyakan ulasan yang saya baca selalu mengatakan bahwa produk ini multifungsi – bisa digunakan pada wajah dan rambut. Apalagi di rambut, bisa membuat rambut jadi kuat dan berkilau. Berbekalkan informasi yang sedikit ini, saya nekat mencobanya. Biasanya saya menggunakannya di malam hari, karena saat itu kulit biasanya perlu lebih banyak nutrisi dan juga terasa lebih kering. Saya menggunakannya setelah emulsion dan sebelum night cream. Jika dirasa sudah cukup, terkadang saya melewatkan night cream.

Kesan awal yang saya dapatkan dari produk ini adalah wanginya enak sekali! Tidak seperti beauty oil lain yang baunya agak membuat saya mengernyitkan mata. Apalagi ketika dipakaikan di wajah, saat mau tidurpun masih tercium bau bunga kamelia yang tidak terlalu kencang dan sangat lembut. Rasanya sangat rileks mencium wangi yang enak seperti ini pada saat mau tidur. Teksturnya, oh the texture… it’s so heavenly! Seperti klaimnya, tekstur minyak ini memang sangat ringan, bahkan lebih ringan dari ginseng oil yang tergolong cukup ringan. Begitu dipakaikan di wajah, minyak ini tidak terlihat mengilap dan langsung menyatu dengan kulit. Biasanya, kalau memakai argan oil atau rosehip oil, saya akan mencampurkannya dengan Avene Thermal Spray agar teksturnya menjadi agak cair, tapi tidak demikian dengan Whoo Camellia Oil ini. Begitu dipakai sudah terasa cukup ringan. Bahkan saat dipakai siang hari pun tidak terasa berminyak. Jangan salah, walaupun kulit saya kering, kalau pakai beauty oil di siang hari masih terasa berminyak sekali, lho. Biasanya, kalau memakai Whoo Camellia Oil di siang hari, saya akan memakaikannya langsung setelah serum/essence dan tidak memakai emulsion/pelembap lagi.

Fungsi lain yang paling menonjol dari minyak ini adalah kegunaannya untuk rambut. Sedikit saja dapat membantu melemaskan rambut saya yang frizzy dan membuatnya mudah diatur. Selain itu, minyak ini memang memberikan kilau ke rambut tanpa terasa memberatkan di rambut. Saya juga suka mencampurkan beauty oil dengan foundation untuk hasil akhir yang dewy. Sayangnya, biasanya tekstur foundation akan menjadi slick sekali dan terasa lebih slippery kalau dicampur dengan beauty oilLess so with this beauty oil, walaupun tekstur foundation memang berubah, tapi tidak se-slippery kalau saya campur dengan beauty oil sendiri.

Baca juga: 5 Produk Perawatan Rambut Terfavorit

So, that’s why I’m becoming a camellia oil-convert. Sayangnya, satu saja kekurang camellia oil ini. Harganya mahal! Dari ketiga produk yang saya lihat, yaitu Whoo Camellia Oil ini, Boscia Tsubaki Oil dan Tatcha Camellia Beauty Oil, tidak ada yang berada di kisaran harga terjangkau. Jadi, agak sayang juga kalau mau dipakai di rambut, padahal hasilnya bagus. I would have a second thought in repurchasing this beauty oil because of its price.