Juicing; How It All Started

Saya!!!! Itu jawaban saya ketika membaca artikel Hanzky yang ini. Sebagai generasi 90-an, saya fans beratnya Nadya Hutagalung dan sudah lama follow akun Instagram Nadya. As Hanzky said, who doesn’t adore Nadya Hutagalung for her eco-friendly life?

Beberapa waktu yang lalu setelah menonton film dokumenter Fat, Sick and Nearly Dead, Nadya yang terbiasa minum jus, mengajak followers-nya untuk juice fast selama 10 hari. Juice fast di sini mengganti makan pagi, siang dan malam dengan minum juice. No solid food at all. Wah, siapa yang nggak tertantang. Maju mundur ikutan atau tidak, akhirnya saya memutuskan untuk ikutan tapi selama 7 hari saja dan hanya mengganti makan pagi dan malam dengan jus. Makan siang saya tetap makan seperti biasa, tapi mengganti nasi putih dengan jenis karbohidrat yang lain seperti kentang, pasta, ubi, dll.

Kenapa ikut-ikutan Nadya ngejus? Pertama, siapa yang nggak mau punya kulit bagus dan sehat seperti Nadya? Kedua, manfaat yang didapat dari jus yaitu nutrisi yang baik bagi tubuh. Ketiga, saya lagi malas masak, hahaha, kebetulan waktu itu suami lagi keluar kota dan rasanya malas kalau masak hanya untuk saya sendiri, jadinya ngejus deh. Terakhir, saya bisa mengonsumsi buah yang selama ini saya kurang suka, seperti melon. Setelah dicampur dengan buah lain dan menjadi jus, ternyata rasanya enak juga.

Awal-awal ngejus, sempat bingung cari resep jus di mana, ya? Untungnya di Instagram ada fasilitas hashtag, mulailah saya mencari #greenkampongjuicefast #juicingwithnad #juicing dan tak lupa mencari via Google. Resep jus favorit saya adalah orange juice. Alasannya simple karena di kota tempat saya tinggal (Pontianak) mudah sekali memperoleh jeruk Pontianak, harganya pun murah. Selain itu favorit saya adalah smoothie: yoghurt + pisang + apel + kiwi + mixed berries + ground flax seed. Sementara untuk jus: apel + wortel + nanas + seiris jahe. Rasanya enak dan mengandung vitamin, antioksidan, serat dan omega 3. Saya jarang mencampur sayuran ke dalam jus karena saya suka makan sayur dan lebih memilih untuk mengonsumsinya dalam bentuk utuh daripada menjadikannya jus. Namun ternyata ke depannya mencampur sayur dan buah menarik juga. Nanti akan saya ceritakan tentang perkenalan saya dengan #greensmoothie dan #greenjuice.

Biasanya buah-buahan yang saya gunakan adalah pisang, apel, pear, stroberi, kiwi, papaya, nanas, belimbing. Sebagian besar adalah buah-buahan yang bisa didapatkan di kota ini. Kendala saya hanyalah tidak semua jenis buah tersedia di sini. Kadang ingin mencoba menambahkan seledri (jenis impor), kale, persik, blueberry ke dalam jus, tapi di kota ini tidak ada yang jual. Selain itu, di sini buah-buahan tidak ada yang organik, jadi mau tidak mau semua buah harus saya kupas, walaupun katanya kulit apel itu mengandung lebih banyak nutrisi. Better safe than sorry, right?

Setelah 7 hari ‘juice fast’, saya merasa badan lebih segar dan fit. Biasanya sore hari saya jogging dan rasanya badan lebih berenergi. Kulit muka pun nggak gampang jerawatan, terasa lebih mulus walaupun belum sekinclong Nadya :). Karena merasakan manfaat yang positif, akhirnya sampai sekarang saya rutin minum jus di pagi hari. Biasanya saya minum jus pada saat perut masih kosong, kemudian 30 menit – 1 jam berikutnya baru sarapan. Kalau sedang rajin, malamnya saya minum jus lagi. Dan nggak terasa sekarang berat badan turun 4 kg, padahal tujuan dari minum jus ini bukan untuk menurunkan berat badan. Anggap saja ini bonus dari rajin ngejus, ya :) Mudah-mudahan kebiasaan ini bisa diteruskan untuk selamanya demi tubuh yang Fit N Fab ;)