Luxury Makeup: Untuk Koleksi atau Dipakai?

Betulkah semua produk makeup high-end atau luxury kualitasnya sudah pasti di atas produk drugstore? Apa aja yang harus dipertimbangkan saat ingin membeli luxury makeup?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, hari Selasa lalu saya duduk bareng Adani (@adanink), member FD yang sempat berprofesi sebagai makeup artist dan punya hobi koleksi luxury makeup. Sambil ngopi cantik di daerah SCBD (well, coffee for me and smoothie bowl for the pretty bumil :D), Adani cerita soal passion-nya di dunia beauty sambil “menggelar” produk-produk luxury favoritnya di atas meja.

Sebelum hamil, Adani aktif blogging dan menjadi makeup artist. Sekarang ini, blogging masih berjalan, tapi job makeup di-hold untuk sementara.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

SAMSUNG CAMERA PICTURES

SAMSUNG CAMERA PICTURES“Saat ini aku lebih fokus ke mempersiapkan punya anak. Kalau masih sambil makeup kan tentengannya banyak, terus aku belum sampai tahap di mana aku dibantu asisten, apalagi aku juga nggak bisa nyetir!” ujar Adani, “Untungnya suami understanding banget dan membolehkan break dulu tapi masih tetap menjalani passion di dunia makeup, which is blogging.

Kapan pertama kali koleksi luxury makeup ?

“Semakin rajin koleksi waktu mulai serius jadi MUA kali ya, sekitar tahun 2010. Saat itu profesi MUA belum se-“rame” sekarang, tapi tuntutannya udah lumayan banyak. Semakin ke sini, demand untuk punya produk bagus itu semakin besar. Apalagi di Jakarta, ya. Lagipula orang-orang kan sekarang udah makin tahu produk apa yang dipakai makeup artist.

Waktu belum paham-paham banget mana produk drugstore, high-end, dan luxury, produk ‘mahal’ yang pertama kali aku beli itu NARS Blush / Bronzer Duo dan nggak nyesel sama sekali karena emang bagus banget. Setelah itu baru mulai beli produk-produknya Dior. Butuh banyak eksperimen sih, untuk bener-bener tahu taste dan produk yang kita suka itu seperti apa.”

Your biggest weakness?

“Weakness aku blush! Aku seneng banget beli blush, meskipun sekarang aku udah tau yang disuka yang kayak gimana. Akhirnya lama-lama nyadar sendiri kok, sebenernya kita butuh nggak sih sebanyak ini? Meskipun ini semua sangat menyenangkan untuk dilihat. Tapi kalau diterusin, kayaknya konsumerisme banget. Hahaha.

Screen Shot 2017-12-17 at 4.54.34 PMinstagram.com/adanink

Apa yang jadi pertimbangan ketika beli luxury makeup?

“Sekarang kan brand kosmetik udah banyak banget ya. Yang memenuhi kebutuhan kita nggak harus mahal, pake yang murah juga udah bisa. Jadi ketika mau dive into luxury makeup, yang pertama kali terpikir pasti packaging, karena untuk produk luxury tentu barangnya harus cantik dipegang. Feel-nya pasti beda kan, ngeluarin lipstik luxury sama lipstik yang tiga puluh ribuan misalnya. Experience kita saat ngeluarin produknya, make produknya, nyimpen produknya gimana, pasti jadi pertimbangan juga.

Kedua, buat aku pribadi, misalnya beli luxury makeup dari designer brand, aku nyari yang brand personality-nya memang cocok sama aku. Kayak Chanel misalnya, Chanel kan image-nya klasik banget, dan sekarang jadi agak grungey dengan make Kristen Stewart sebagai salah satu spokesperson-nya. Nah, karena luxury makeup itu pasti ada sense of experience-nya, aku udah tahu deh, Chanel itu nggak “aku banget”. Personality-wise, aku lebih suka Dior. Buat aku, Dior itu modern, timeless, tapi tetep ada touch of youthfulness.”

Kalau untuk kualitas produknya sendiri gimana? Pasti jadi pertimbangan juga, dong?

“Sama aja kayak yang lainnya, produk mahal bukan berarti selalu bagus. Zaman dulu, brand-brand kayak Chanel dan Dior kan target market-nya bukan orang-orang kayak aku. Target mereka lebih ke ibu-ibu sosialita yang dengerin apa kata beauty assistant-nya, nggak perlu banyak mikir, tapi bisa beli banyak. Sekarang, dimana kultur orang-orang udah mulai bisa review, kualitas produk mau nggak mau harus meningkat. Beda banget deh, beli luxury makeup zaman dulu dan sekarang. Highlighter Dior tahun 2014 dan tahun lalu aja beda banget, lho. Zaman sekarang kan gampang aja dibanding-bandingin sama Becca gitu, misalnya.”

Sambil cerita, Adani nge-swatch dua highlighter Dior, yang satu dibeli tahun 2014 dan satu lagi dibeli tahun 2016 lalu. Yang tahun 2014 ternyata sheer banget!

SAMSUNG CAMERA PICTURES

SAMSUNG CAMERA PICTURES

SAMSUNG CAMERA PICTURES

“Bisa dimaki-maki orang nggak sih kalau zaman sekarang mereka ngeluarin highlighter kayak gitu?” tambah Adani. Hahaha :D

“Kualitas pastinya jadi pertimbangan, tapi balik lagi, kita harus tahu alasan kita beli produk ini buat apa: buat sekedar koleksi atau memang untuk dipakai. Kayak aku beli cream eyeshadow Tom Ford atau Hourglass palette misalnya, itu aku beli untuk dipake karena memang tahu performa produknya bagus banget. Produknya punya teknologi yang brand lain nggak punya. Tapi kalau untuk Dior, karena emang suka sama brand-nya jadi ada beberapa yang dibeli memang untuk dikoleksi aja, produknya sendiri nggak pernah dipakai.

Jadi kalau ada orang nanya, “worth it nggak sih beli produk A, B, atau C?” ya, semuanya balik lagi ke niat beli barangnya. Kalau dari segi fungsi, harus pastiin dan research dulu apakah mereka punya special value. Buat koleksi pun, kayak powder Givenchy aku misalnya, ini kan ada emboss khusus untuk limited edition mereka, which is ‘cetakan’-nya ini nggak akan dipakai lagi ke depannya. ”

Ternyata, hobi Adani koleksi luxury makeup agak di-rem dulu di tahun 2017 ini. Salah satu alasannya tentu karena persiapan menyambut the upcoming baby boy :D

“Jadi daripada belanja terus, sekarang aku fokusin nge-blog. Pernah sempet ngerekam-rekam buat Youtube juga sih, tapi pas ditonton lagi, malu ah!” kata Adani.

Well, berhubung belum banyak influencer lokal yang bahas soal luxury makeup di Youtube, we’d totally love it if Adani jumps into the mix! Setuju, nggak? :D