#FDInsight: Seberapa Besar Pengaruh Beauty Influencer?

Social media influencers are everywhere, and they are constantly promoting brands. 

Saat ini semakin banyak brand yang menggunakan influencer untuk mempromosikan produknya karena media tradisional seperti iklan televisi dan media cetak dianggap sudah tidak efektif lagi. Sebetulnya apa sih definisi dari influencer itu sendiri? Studi dari lembaga riset AC Nielsen mendefinisikan social media influencer sebagai seseorang dengan jumlah followers yang sangat banyak di sosial media yang memiliki kemampuan untuk menciptakan perubahan perilaku pada orang lain.

Perubahan perilaku yang dimaksud sebetulnya sederhana saja. Misalnya kamu sedang melihat foto-foto Instagram di feed-mu, lalu kamu melihat ada foto seorang blogger berpose memperlihatkan ombre lip-nya. Kemudian kamu berpikir “Wah bagus banget tuh warna lipstiknya, pakai produk apa ya?” That’s why it’s called influence.

Pertanyaan berikutnya, memangnya ngaruh banget ya posting-an dari social media influencer untuk para brand? Bagaimana cara mengukurnya? Dilihat darimana?

Salah satu alasan social media influencer bisa mendapatkan bayaran dari konten yang mereka unggah sebetulnya simpel – mereka memiliki audiens sendiri. Mereka membangun jumlah followers mereka secara berkala, bisa di Instagram, Snapchat, Facebook, Youtube, dan lain-lain.

Female Daily sudah pernah melakukan survei kepada kurang lebih 1000 anggota komunitas, rata-rata dari mereka menyatakan bahwa selain melihat informasi di Female Daily saat mencari rekomendasi sebuah produk, mereka juga menjadikan para beauty blogger sebagai salah satu acuan utama. Dengan kata lain, informasi yang disampaikan oleh beauty blogger dianggap meyakinkan dan dapat dipercaya oleh para pembaca.

info5 Beauty Influencers Terfavorit Pilihan Komunitas Female Daily

Hal yang masih menjadi perbincangan adalah bagaimana seorang influencer menentukan rate-nya untuk para brand. Dua orang blogger yang memiliki jumlah pageviews hampir sama dan jumlah followers Instagram yang juga serupa, bisa saja memiliki rate yang jauh berbeda. Hal ini disebabkan karena dalam menentukan rate, tidak ada indikator pasti yang dapat menjadi acuan. Misal, jumlah followers? Seperti yang kita ketahui followers Instagram saat ini sudah sangat mudahnya bisa dibeli. Jumlah engagement? Lebih kompleks lagi untuk diukur.

So, should a brand get an influencer to promote their products? Jawabannya ya dan tidak. Ya, karena tentu saja brand akan mendapatkan exposure tapi hal tersebut belum tentu berpengaruh terhadap tingkat konversinya. Walaupun ada seratus ribu orang yang melihat produk sebuah brand di foto Instagram seorang influencer, hal tersebut belum tentu berarti orang-orang tersebut akan langsung membeli produk yang dilihat. Selain itu, brand juga harus pintar-pintar memilih influencer supaya biaya yang dikeluarkan untuk influence marketing dapat memberikan hasil yang efektif.

Salah satu cara yang penting dilakukan brand dalam memilih influencer adalah mempertimbangkan aspek 3R: Relevance, Reach, dan Resonance.

Relevance: Apakah konten yang dibuat oleh influencer tersebut sesuai dengan nilai yang diusung oleh brand?

Reach: Apakah influencer tersebut dianggap mampu untuk menjangkau target konsumen tertentu?

Resonance: Apakah konten dari influencer menjadi sesuatu yang juga akan di share oleh audiens-nya?

Sebagai kesimpulan, besarnya pengaruh dari seorang influencer masih menjadi suatu hal yang sulit untuk diukur. Namun tentu saja, karena para influencer sudah memiliki audiens-nya sendiri, mereka adalah orang-orang yang tepat untuk memprosikan sebuah brand, asalkan brand-nya sendiri sudah mempertimbangkan berbagai aspek sebelum akhirnya menentukan influencer mana yang akan mempromosikan produk-produknya.