SK-II dan Nia Dinata Ajak Perempuan Muda untuk Berkarya

Melalui kampanye #ChangeDestiny-nya, misi utama SK-II adalah mengajak perempuan untuk mengembangkan potensi dan mengejar mimpi yang ingin mereka raih. 

Dalam acara Kartini Day yang diadakan tepat pada tanggal 21 April 2016 lalu, SK-II mengundang Nia Dinata, salah satu tokoh perempuan yang ikut memajukan dunia seni Indonesia. Sutradara film Berbagi Suami (2006) yang juga dibintangi oleh brand ambassador SK-II Dominique Diyose ini menceritakan pengalamannya berkarier di bidang yang tidak banyak diminati perempuan di Indonesia dan apa arti #changedestiny menurut perspektifnya.

Awal mula berkarier, Nia sempat terjun di bidang jurnalisme. Hobi menulis dan mencari berita membuat Nia merasa profesi jurnalis merupakan pilihan yang tepat, sampai akhirnya ia merasa bahwa pada waktu itu, ia tidak bisa sepenuhnya jujur dalam menyampaikan suatu berita atau isu. “Berita yang kita tulis kan pada akhirnya harus disortir dulu oleh editor, seringkali saya merasa tidak bisa sepenuhnya bersuara dalam tulisan saya. Sementara, dalam membuat film, saya merasa lebih bebas dalam menyampaikan suara. I can tell whatever I want.”
Dominique, Nia D, Susan BAtas dasar itulah akhirnya Nia memutuskan untuk berangkat kuliah dan mengambil jurusan filmmaking di New York University. Menurut Nia, menembus glass ceiling dan membangun karier di bidang yang tidak didominasi oleh perempuan tidaklah mudah, karena itu kita harus punya modal dari awal.

“Saya ingin jadi sutradara, karena itu saya mengambil jurusan filmmaking. Perempuan yang kuat itu harus punya modal, kalau memang ada mimpi yang diraih, bekali diri sebanyak-banyaknya dengan ilmu. Jangan pernah malu untuk memulai dari bawah, karena dulu saya pun pernah menjadi asisten sutradara dan kerja serabutan. Dari situ lah saya bisa mendapat ilmu sebanyak-banyaknya dan tidak hanya fokus untuk jadi terkenal secara instan saja.”

SAMSUNG CAMERA PICTURESNia menceritakan bahwa saat ini di Indonesia, masih banyak orang tua yang melimitasi potensi anak-anak perempuannya. Salah satu contohnya adalah dengan tidak memperbolehkan anak perempuannya sekolah tinggi-tinggi atau memaksakan jodoh supaya cepat menikah. Dalam video campaign terbaru dari SK-II, “Marriage Market Takeover”, isu ini pun diangkat secara blak-blakan.

Perempuan yang sudah berusia akhir 20-an di Tiongkok diminta oleh orangtua mereka untuk segera menikah dan status single dipandang sebagai sesuatu yang tabu. Mereka dianggap sebagai perempuan “sisa”, kemudian dibawa ke Marriage Market, sebuah taman di Shanghai dimana orangtua berbagi informasi tentang anak mereka untuk dicarikan jodoh.

Fenomena seperti ini, menurut Nia, terjadi juga di Indonesia, walaupun mungkin tidak se-esktrem yang terjadi di Tiongkok. Budaya seperti ini adalah yang Nia sebut sebagai “budaya mendikte.”

“Kadang orang suka merasa bahwa mereka tahu apa yang bisa membuat orang lain bahagia. Padahal, kebahagiaan seseorang, ya, hanya orang itu sendiri yang bisa menentukan. Maka dari itu, kampanye #ChangeDestiny ini sangat penting karena semua perempuan harus sadar bahwa merekalah yang berperan akan takdir dan kebahagiaan mereka sendiri.”

Untuk merayakan semangat dan mengingat jasa R.A Kartini, SK-II mengeluarkan Facial Treatment Essence edisi khusus dengan desain kupu-kupu yang melambangkan kekuatan perempuan untuk mentransformasi diri dan nasib mereka. Kupu-kupu ini juga menjadi simbol keanggunan dan keberanian perempuan dari seluruh dunia yang mengubah takdir dengan cara mereka sendiri.

Kalau kamu, adakah cerita #ChangeDestiny yang ingin di-share? Tulis di komentar, ya. :)