Womenpreneur: Menghadapi Tantangan Dalam Usaha

Di akhir tahun 2010, saya mengambil langkah besar untuk memulai usaha pertama saya sebagai wedding planner & organizer di bawah bendera Amaya Wedding. Alasannya sederhana, bidang ini memang sudah lama disukai dan saya selalu terlibat aktif dalam kepanitiaan acara pernikahan keluarga. Selain itu, saya juga rutin menjadi freelancer di beberapa WO dan EO ternama di Jakarta selama 4 tahun kuliah. Bisa memanfaatkan passion untuk mencari uang? That sounds like my dream job!

 

Ketika itu, saya baru 2 bulan lulus kuliah dari Prasetiya Mulya Business School dan baru saja mulai berkarir di Female Daily Network. Usaha ini pun dimulai tanpa adanya partner, hanya saya sebagai satu-satunya pemilik sekaligus karyawan. Beruntung sekali di kantor saya memiliki para atasan yang sangat mendukung kewirausahaan. Hanzky, Affi, dan Nopai tidak pernah pelit membagi pengalaman dalam manajemen perusahaan dan bagaimana mereka membangun Female Daily Network hingga berada di posisi sekarang. Banyak membaca kisah sukses dari para pengusaha juga bisa memberikan inspirasi. Salah satu yang menjadi favorit saya adalah Majalah Sukma Inspirasi yang menampilkan banyak figur pengusaha wanita di berbagai bidang usaha dalam 3 jenjang usia: Young on Top, Prime Time, dan Maestro. Ssstt.. I even secretly wished to be featured in Sukma Inspirasi someday……..in the near future.

Kembali ke cerita mengenai usaha saya mengembangkan Amaya Wedding. Dalam waktu dua tahun beroperasional, puji syukur Amaya Wedding kini telah menghemat waktu dan energi lebih dari 25 pasang calon pengantin dalam mempersiapkan hari besarnya, berkoordinasi dengan puluhan wedding vendors ternama, menyelenggarakan acara pernikahan yang melayani ribuan tamu undangan, dan bahkan menjadi penengah drama keluarga yang terjadi. Starting your own business is not an easy peasy job, it’s a lifelong learning process. Berikut saya akan membagi lima tantangan terbesar yang saya alami di awal berdirinya usaha ini.

 

1. Tentangan Orang Tua

Ayah saya bekerja sebagai profesional di industri otomotif dan metal selama lebih dari 4 dekade hidupnya. Dalam bayangannya, membangun usaha = memerlukan modal ratusan hingga miliaran rupiah. Oleh karena itu, beliau menyarankan untuk bekerja dulu di perusahaan multinasional hingga usia 30-an, baru kemudian berkecimpung di dunia bisnis. Bidang yang saya pilih pun tidak ‘masuk akal’ bagi ayah yang memang konservatif. Dalam pikirannya, acara pernikahan cukup dibantu oleh panitia keluarga saja. Sebaliknya, ibu saya memiliki latar belakang pengusaha otodidak di bidang kuliner. Dengan dukungan beliau, saya nekat untuk memulai usaha, walaupun di awalnya agak sembunyi-sembunyi.

Solusinya? Dalam beberapa kesempatan santai, saya ceritakan bahwa usaha ini dimulai dengan modal yang ringan, ada konsumen atau pasarnya, ada masa depan dan peluang yang menjanjikan. Setiap klien Amaya bertambah, saya juga melaporkannya ke orangtua. Dengan cara ini, ayah pun lama-lama dapat melihat bahwa usaha ini memang profitable dan sesuai dengan harapan saya tersebut.

 

2. The joy of juggling a small business in addition to your full-time job…………is there any?

If you think you’re busy now, wait until you have a company to run while doing a daily 9-to-5 professional job. Jika dalam kondisi beban kerja sedang padat, saya terbiasa tidur kurang dari 3 jam per hari. Pekerjaan administratif Amaya Wedding biasa saya kerjakan di tengah malam atau subuh sebelum berangkat ke kantor. Untuk bertemu dengan klien atau vendors, saya tempatkan setelah pulang bekerja atau di akhir pekan. Saya bahkan pernah nggak tidur sama sekali selama 36 jam sampai pembuluh darah di mata pecah. Ketika akhirnya saya dirawat di rumah sakit akibat typhus setelah mengerjakan 6 weddings berturut-turut dalam waktu satu bulan, saya sadar bahwa cara kerja ini perlu diubah.

Buat jadwal kerja dengan kalkulasi waktu yang seimbang. Jam kerja di Female Daily Network tidak dapat diganggu gugat, tapi jam kerja di Amaya Wedding harusnya bisa lebih fleksibel. Janji bertemu dengan klien kini dibatasi kurang dari 3 kali seminggu. Di akhir pekan, luangkan satu hari untuk dimanfaatkan bersama keluarga, teman, atau kebutuhan personal lainnya. Waktu ini perlu di–SISIH-kan, bukan di–SISA-kan.

 

3. “Wedding organizernya masih muda banget ya! Sudah menikah?”

Kalimat tersebut sering sekali ditanyakan. Apalagi, ketika itu saya masih fresh graduate berumur 23 tahun! Mungkin yang ada di dalam pikiran mereka, “Can she be trusted? How can she plan other people’s weddings when she doesn’t have any personal experience about it?”

Dress up menjadi salah satu solusinya. Setiap bertemu dengan klien, saya menghindari pakaian bergaya kasual dan berbicara dengan nada suara yang profesional dalam menjelaskan layanan Amaya Wedding agar mereka  menaruh hormat. Cari celah juga dengan mendekati orang-orang yang berperan penting dalam keluarga, seperti ibu calon pengantin, pakde, atau eyang dan para pinisepuh lainnya. Jika mereka sudah percaya dengan layanan ini, maka dapat dipastikan anggota keluarga lainnya akan ikut mengekor.

A thoughtful thank you note for Amaya Wedding


4. Everybody can be a wedding organizer!

Industri ini dapat dikategorikan memiliki low barriers to entry. Nama-nama baru terus bermunculan, sementara nama-nama besar semakin menguat. Semua orang dapat dengan mudahnya membuka WO tanpa memiliki sertifikasi dan mungkin kompetensi yang sesuai. Bagaimana caranya supaya Amaya Wedding dapat terus bertahan?

Memberi layanan yang berkualitas rasanya sudah menjadi jawaban yang basi. Saya mencoba cara lain yaitu dengan membangun hubungan yang personal dengan klien dan keluarganya. They are my family, not just some regular clientele. Ketika mereka sudah merasa nyaman dengan peran saya, mereka tidak sungkan untuk mereferensikan kepada orang lain.

Jangan lupakan peranan sesama wedding vendors lainnya, seperti para fotografer, dekorator, pemusik, sanggar adat, dll. Dengan membangun jaringan yang terintegrasi dengan mereka, maka klien akan percaya bahwa Amaya memang one-stop wedding solution untuk kebutuhan mereka. Saya percaya bahwa dengan melayani klien dan para vendors secara ikhlas dan tidak perhitungan, maka rezeki pun akan mengikuti. Hingga saat ini, Amaya belum pernah beriklan di mana pun. Semua klien berasal dari word of mouth para klien maupun vendors yang pernah bekerja sama.

Manfaatkan jejaring sosial yang tersedia untuk stay in touch dengan para vendors

 

5. Keterbatasan Modal

Hampir semua pemula mungkin menghadapi tantangan yang sama. Kuncinya, start small – dream big. Saya mengawali usaha hanya dengan memanfaatkan mobil dan laptop pemberian orangtua untuk keperluan mobilitas, serta satu kotak kartu nama. Pembelian seragam crews dan perlengkapan produksi dilakukan bertahap setelah beberapa kali weddings. Terdengar mudah untuk di awal, tetapi tidak jika sudah dalam kondisi berkembang seperti saat ini. Karena adanya keinginan untuk memiliki kantor sebagai showroom dan ekspansi ke layanan yang lebih lengkap, beberapa sumber pendanaan sedang saya pertimbangkan.

Opsi pertama, adalah meminjam kepada orangtua dengan sistem bagi hasil. Opsi kedua, mencari partner untuk sama-sama membesarkan usaha ini dengan pembagian modal yang seimbang. Opsi ketiga adalah mengikuti kompetisi serupa Sukma Inspirasi dengan total hadiah hingga Rp250.000.000! Tempting, isn’t it?

Sayangnya, Sukma Inspirasi tahun ini sudah ditutup. Catatan tentang kompetisi ini sudah saya masukkan dalam agenda agar tidak lupa ikut di periode berikutnya. Kalau Anda ingin tahu lebih lanjut mengenai ajang Sukma Inspirasi, dapat langsung dibaca langsung di sini.