Dandan ke Kantor, Siapa Takut?

Berdandan ke kantor itu susah-susah gampang, ya. Di satu sisi, kita ingin tampil cantik, segar, dan profesional di tempat kerja. Di sisi yang lain, berdandan berarti menambah lama waktu persiapan sebelum berangkat bekerja. Padahal banyak sekali yang harus dikerjakan sebelum meninggalkan rumah. Kalau ditambah lagi kegiatan berdandan, semakin pagilah kita harus bangun atau semakin siang kita meninggalkan rumah.

Selain hal yang saya sebut di atas, menurut saya ada satu lagi faktor yang memengaruhi keputusan kita untuk berdandan, yaitu kebiasaan atau budaya di tempat kita bekerja. Jika kita bekerja di bidang creative seperti di biro iklan, majalah berbau fashion/lifestyle atau production house, rasanya tidak akan ada yang berkomentar miring saat kita muncul di kantor dengan lipstik ungu atau smokey eyes. Lain halnya jika kita bekerja di kantor yang cukup konservatif, bisa jadi kita merasa tampil aneh sendiri kalau datang ke kantor dengan bibir merah menyala atau eyeshadow dengan paduan tiga warna.

Ketika saya memasuki dunia kerja formal setelah sekian lama menjadi mahasiswa, saya sempat merasakan masa-masa “pencarian” jati diri dalam berpenampilan. Saya bekerja di sebuah NGO, dimana teman-teman seunit saya kebanyakan adalah sarjana teknik yang sering melakukan peninjauan sampai ke desa-desa di pelosok Indonesia. Gaya berpakaian di kantor umumnya business casual, dalam artian tidak mengenakan blazer dan dasi kecuali untuk acara-acara tertentu. Selain itu, saya perhatikan bahwa yang lain rata-rata berdandan sederhana dengan bedak dan lipstik tipis. Intinya, praktis, ringkas, dan siap tempur.

Sebagai mantan mahasiswa yang juga bekerja sebagai asisten peneliti di kampus, gaya berpakaian saya memang relatif santai. Tapi, tidak demikian dengan kebiasaan berdandan saya! Semenjak menjadi anggota FD di tahun 2007, saya mulai belajar berdandan dengan arahan para ‘bencong’ di forum. Saya mulai mencermati kegunaan dan cara pemakaian kosmetik, memberanikan diri untuk bertanya-tanya di toko jika kebetulan SA-nya ramah, bahkan mengikuti kelas dandan yang diselenggarakan oleh FD, sehingga pelan-pelan saya mulai mengerti cara berdandan yang sesuai untuk saya.

Buat saya, makeup berguna untuk menutupi bekas-bekas jerawat di wajah. Selain itu, berguna juga untuk memberi sedikit warna di wajah saya yang cenderung pucat dan tampak lesu. Ketika saya mulai belajar memakai eye shadow, saya melihat bahwa warna-warna tersebut membantu “membuka” mata saya. Selain itu, saya juga menyadari bahwa bermain dengan makeup itu menyenangkan, ibaratnya seperti menggambar dengan pinsil aneka warna tentu lebih menyenangkan daripada hanya menggunakan satu warna saja. Sejak itulah, saya mencoba untuk paling tidak menggunakan concealer, bedak two-way, dan blush saat keluar rumah.

Ketika memasuki tempat kerja yang baru, saya memutuskan untuk tetap mempertahankan gaya berdandan saya walaupun yang lain tampaknya tidak menggunakan makeup sebanyak yang saya pakai. Setelah beberapa bulan hanya menggunakan eyeshadow dengan warna “aman” seperti coklat dan coklat keemasan, saya menjadi bosan dan mulai menggunakan warna-warna lain di eyeshadow palette saya. Jadilah sekali-sekali saya pergi ke kantor dengan riasan mata berwarna biru, toska, bahkan lime green. Satu hal yang juga membuat saya memutuskan tetap berdandan warna-warni adalah ketika saya melihat seorang ibu yang jauh lebih senior tapi selalu tampil cantik dan PD dengan eyelinernya yang berwarna biru elektrik! Beliau tampil modis dan chic, dan tetap mempertahankan aura profesionalismenya. Jadi saya melihat sendiri, bahwa eyeshadow atau dandanan warna-warni tidak selalu berarti berdandan berlebihan atau tidak profesional.

Untuk saya pribadi, berdandan ke kantor berarti saya ingin tampil dengan baik karena saya menghargai diri saya, pekerjaan saya, institusi tempat saya bekerja, juga klien yang saya hadapi. Selain itu, warna warni di riasan dan busana juga sesuai dengan kepribadian saya dan membantu memberi semangat untuk menghadapi pekerjaan sehari-hari. Yang paling menyenangkan adalah ketika ada rekan yang mendekati saya dan berkata, “Lucu, deh, lihat kamu pake eyeshadow biru, bagaimana, sih, caranya?” yang berlanjut dengan saya memberikan saran mengenai kegunaan eyeshadow base dan cara pemakaian eyeshadow secara mudah. Kalau ada acara khusus, saya juga sering membawa tumpukan makeup saya dan kami akan rame-rame berdandan sedikit lebih bold daripada biasanya. It’s always fun to do makeup together!

Untuk menjaga tampilan tetap office appropriate walaupun dengan dandanan berwarna-warni, berikut adalah hal-hal yang saya lakukan:

  • Pusatkan warna di satu area saja. Kalau memilih menggunakan eyeshadow berwarna-warni, jangan padukan dengan lipstik yang bold. Sebaliknya, jika menggunakan lipstik dengan warna yang mencolok, padukanlah dengan eyeshadow yang bernuansa netral.
  • Memakai eyeshadow di kelopak saja, sehingga area yang diwarnai tidak terlalu luas dan menjadi pusat perhatian. Untuk kantor saya yang bergerak di bidang pembangunan dan banyak berhubungan dengan pemerintah, saya merasa riasan smokey eyes tidak sesuai untuk dikenakan ke kantor
  • Light handed saat menggunakan blush, lebih karena warna blush akan kelihatan sekali di siang hari, apalagi jika kulit Anda berwarna terang
  • Menghindari pemakaian produk yang terlalu shimmery. Kalau terlalu mengilat, sepertinya berlebihan untuk dipakai bekerja

Ada banyak petunjuk mengenai riasan wajah yang cocok untuk dikenakan ke kantor tersedia internet. Walaupun saya belum menemukan thread sendiri mengenai office appropriate makeup, kita juga bisa menemukan berbagai kiat and trik berdandan di FD sehingga kita bisa memilih gaya tampilan mana yang sesuai dengan kepribadian dan atmosfer tempat bekerja kita.

Nah, demikian pengalaman saya mengenai berdandan ke tempat kerja. Bagaimana dengan Anda, terutama yang bekerja di lapangan? Yuk, saling berbagi lewat comment di bawah ini!

sumber foto: iamjustbee.wordpress.com, watching-tv.ew.com