MP MP MP (as in MarketPlaza)

mp.JPG“Gue nyari ini, beli di mana ya?”

”Itu ada yang jual di MP, coba deh ke lapaknya…”

MP? Apa itu? Click url Fashionese Daily Forums, scroll ke bawah. MP MP… Market Plaza. Ini kali. Click. Mengernyit. Ada fashion outlet dan beauty warehouse. Coba click satu-satu. Wah banyak. Kayak toko serba ada buat bencong pesyen n meik ap. Ih bajunya lucu-lucu. Click PM, book, tukar info rekening transfer dan alamat pengiriman. Stila? Apa itu? Cari di makeupalley. Wah menarik. BBSB (Bukan Backstreet Boys lho)? Ada juga. Pikir-pikir… Beli yang mana ya…. Makin mikir, makin butek, kebawa mimpi juga. Ah bodo, beli. Total biayanya? Gak taulah. Urusan akhir bulan.

Setidaknya itu jalan pikiran dan pergulatan hati saya ketika saya masuk ke Market Plaza alias MP. Mpok-mpok mejengin dagangan di lapaknya, saya menanti sambil mengeces-ngeces. Rutinitas baru saya, melihat-lihat barang di lapak-lapak, mikir-mikir, lihat duit tabungan yang makin menipis. Kadang saya memang tidak mencari sesuatu untuk dibeli ataupun mejeng sesuatu untuk dijual. Saya senang saja melihatnya. Window shopping menjadi benar-benar virtual. Kebiasaan ini setidak-tidaknya cukup menggantikan kebiasaan saya lirik-lirik barang di mal karena saya tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk jalan tapi saya tetap bisa memenuhi kebutuhan lapar mata saya. Apa berhenti sampai di situ saja? Tentu saja tidak. Saya cukup sering tergoda untuk membeli. Sekarang saya hanya tertawa-tawa melihat lemari baju saya bertambah sesak dan meja saya bertambah penuh dengan lenongan baru. Kalau ditanya, bagaimana rasanya? Senang. Saya sedikit banyak bangga kalau bisa mendapatkan barang yang jarang dipakai teman-teman saya. Kalau ditanya beli di mana, saya dengan bangga akan menjawab, ”beli online lewat anak-anak FD.”

Seperti yin dan yang, sesuatu yang menyenangkan juga punya cost tersendiri. Dompet saya makin menipis, tabungan saya makin berkurang nominalnya. Pemasukan tidak pernah utuh. Berhenti ke MP? Rasanya itu tidak mungkin. Saya pernah mencoba dan saya gagal. Saya berpikir-pikir, adakah jalan lain yang bisa mengakomodasi kebutuhan leisure saya ini tanpa mengorbankan tabungan saya. Beberapa hari yang lalu, saya mendengar diskusi financial planning di salah satu siaran radio terkemuka. Financial planner di acara radio itu memberikan tips yang menarik dan saya rasa cukup berguna. 50% untuk pengeluaran rutin, 30% untuk investasi, dan 20% untuk leisure. Leisure yang dimaksud, selain untuk jalan-jalan, ke cafe, bioskop, tentu saja untuk ber-MP ria. Saya sedikit ragu dengan persentase ini, apakah bisa applicable untuk semua orang. Saya pikir, tidak. Tergantung kondisi setiap orang, pemasukan, dan pengeluarannya. Tapi saya pikir, urutan prioritasnya masih bisa diadopsi segala situasi. Nomor satu pengeluaran rutin, nomor dua investasi, dan nomor tiga untuk leisure.

Cara lain? Jualan di MP supaya bisa beli juga di MP. Sistem tambal sulam. Cukup paradoks tapi saya rasa bisa memenuhi kebutuhan untuk belanja tanpa harus overbudget.

*image courtesy veer.com