Thornandes James; Fashion Editor

James just hit his legal age, but he already had that fancy Fashion Editor title to go along with his name. An accomplishment that can’t be ignored. Right now he is the Fashion Editor at SOAP Magazine, and still do some freelancing jobs for other magazines. He wrote a review about Biyan Fashion show not too long ago in FD. Here, he shares some of his experiences in the industry. Enjoy ladies..=)
Warning: this is a long post….so don’t forget to grab some snacks first..:D

What were some of your first memories of fashion?

Yang gue inget itu, dari kecil gue udah selalu dimatching-in sama kakak gue! Udah berasa anak kembar. Nyokap gue kebetulan quite a fashion junkie, jadinya anaknya bisa dibilang kayak bonekanya dia gitu…especially me. Mungkin gara gara itu juga ketertarikan awal gue sama fashion dan sejak di elementary school me already want to be a fashion designer. Gue suka gambar some night gowns gitu lah….elegan elegan mewah gimanaa gitu…hahahaha..

Tell us about your very first photo shoot!

My 1st photo shoot as a stylist bisa dibilang gue lupa han yang mana, tapi kalo untuk yang di published itu kalo nggak salah waktu gue ngebantuin temen yang jadi kontributor untuk edisi ulang tahun A+ Magazine yang ke-6 (edisi June 2006). Temen gue itu fotografer majalah Free! Magz yang diminta untuk jadi salah satu fotografer untuk bikin foto dengan tema “Enam” .

Konsepnya sendiri hasil rembukan berdua, jadi dia came up with this main idea, dan gue yang ngembangin dan visualisasi-in. Modelnya senior gue di SMA yang mukanya emang unik, make-up nya gue turun tangan sendiri, untuk hair-do nya di kerjain temen gue yang saat itu lagi magang di majalah Dewi. Shotnya waktu itu lebih ke beauty shot dan accessorized with jewelry. Awalnya gue pengen minjem Heliopolis, tapi karena berujung ribet dan gak jelas, akhirnya gue beralih ke butik temen gue, dan gue ambil yang dari pearl and gold.

Dari beberapa shot, terpilih lah si Pearl Bracelet Watch from Anne Klein. Make-up nya sendiri yang agak aneh aneh gitu, Japanese Geisha look tapi gue tambahin 6 kristal-kristalan di bawah matanya. Make-up + hair donya sendiri udah sampe 2 jam lebih! Hahaha. . hasilnya yang keluar di A+ sendiri gue agak kurang suka karena hasil fotonya dieditnya lumayan gila dan make-upnya sendiri yang penuh perjuangan itu jadi gak begitu kelihatan. .thou it looks great, tapi mau diapain lagi toh? Terima sajalah. . oiyah it was called “Six Universe”.

Photo credit: Model: Dona — Accesories: Anne Klein — Make-up: James R. — Hair-do: Belina Ramadina — Photographer: Insan Kurniawan — Digital Artist: Mbah Uyo


Cerita dong tentang kerjaan yang kayanya puas banget sama hasilnya?

So far kalo yang bener bener puas sih belum ada han…hehe, soalnya gue itu orangnya gak gampang puas. Tapi kalo harus milih gue akan milih fashion spreads SOAP Oktober untuk stylingan cowok (titled Mr. Reality Show), dan rubric Belle SOAP September kemarin utk stylingan cewek (titled Death of Goddess). Untuk Mr. Reality show gue bisa dibilang puas karena everything turned out like what I’ve imagined. The model was great, the clothes were fabulous, the photographer got my direction exactly.


click to enlarge
Photo credit: Model: Aldi –Wardrobe: Dolce & Gabbana, Alexander McQueen, Dries Van Notten, TOPMAN — MUA + Hair-do: James R. — Photographer: Bona Soetirto

Untuk yang Death of Goddess, karena the model itself, Juanita. She’s one of my favorite models and very inspiring. The make-up artist was totally great (she’s my fixed make-up artist partner), the dresses were magnificent, the photographer was also cooperative and fun to work with (he’s my hi-school mate so.. haha).

Photo credit: Model: Juanita –Wardrobe: Sally Koeswanto — MUA + Hair-do: Norma Moii –Photographer: Raditya Pratama

Untuk tulisan, gue sendiri bingung yang mana harus gue pilih, mungkin salah satu tulisan fashion gue yang first published on SOAP April Koleksi Ermenegildo Zegna SS’07 yang judulnya Inspirasi Maritim. Soalnya bisa dibilang tulisan itu yang bikin gue diakui sebagai fashion editor oleh bos gue (penilaian tulisan). Gue sempet dipuji sama dia “E. Zegna itu termasuk salah satu label yang susah di review karena sangat klasik dan standar, gak semua editor bisa menterjemahkan koleksi Zegna untuk jadi tulisan yang benar benar menarik, bahkan yang udah senior pun belum tentu bisa dapet semangatnya. Tapi ternyata kamu bisa, saya sempet gak berharap banyak loh padahal awalnya pas ngasih kamu koleksi ini.” Bisa dibayangin gak sih betapa tersanjung dan senengnya gue dipuji gitu sama chief editor? Hihihihi.

What’s the upcoming trend for men’s fashion ?

Fashion cowok sih seperti biasa nggak terlalu ekstrim perubahannya, lebih ke cutting dan palet warnanya. Untuk spring 2008 mendatang some of the well known labels bikin cropped pants, palet warnanya jauh lebih colorful dibandingkan SS kemarin…tapi warna warna terang yang muncul disini justru gak memberi kesan playful and cheerful, tapi masih berkesan serius dan edgy. Beberapa designer juga masih menyediakan warna aman seperti hitam, putih, beige, tapi untuk kali ini lebih diwarnai dengan motif motif yang sebagian besar di dominasi motif geometris. Siluetnya sendiri ada perpaduan antara siluet oversize dengan siluet skinny, tapi beberapa designer ada juga yang tertarik mengangkat celana celana besar era tahun 80an *but chill, it’s not as disastrous as in that era*. Bahan bahan yang muncul didominasi bahan bahan yang punya efek shiny…and since last SS, me felt that these SS collection are very cold, gak terlihat kayak koleksi SS, more to fall or pre-fall collection look. Overall untuk tampilan formal, well fitted and slim look still on the air…while the casual and experimental looks tend to be on loose and oversize side.

Oh ya kan SOAP itu majalah cowo yah, so is Men’s Fashion where your passion lies? Atau tertarik juga dengan Women’s Fashion?

Honestly, justru ketertarikan gue itu malah ke women’s fashion dibandingin men’s fashion loh. Gue masuk SOAP awalnya kan memang as an intern stylist, dan gue saat itu emang pengen belajar tentang styling cowok dan nulis fashion, karena gue ngerasa kelemahan gue ya di situ….tapi malah keterusan, yah sudah lanjut aja selagi ada kesempatan. Di SOAP, gue gak sendirian di bagian fashion, ada 1 partner gue namanya Seto and he is brilliant in men’s styling, but not that good with women..jadinya yah saling mengisi. Gue memang akhirnya mengambil porsi styling lebih banyak untuk cewe, dan dia untuk cowo. Jadi klo boleh jujur, sebenernya jiwa gue bukan di men’s magazine.


Fenomena yang ada sekarang nih, kayanya semua orang pengen jadi fashion stylist/fashion editor deh, sekolah fashion pun bermunculan. Kayanya fashion memang lagi booming. Kalo di tanya, jawaban mereka ingin kerja di fashion industry itu karena kayanya kerjaannya seru, jalan jalan dari butik ke butik, kerja nya glamour, party all the time dan kayanya nggak susah. Nah lhoo…gimana tuuh? I know it’s far from that description, tapi kalo dari fashion editor nya sendiri gimana?

Hmm suka bingung sendiri mau nanggepin apa ke orang orang kayak gitu sih sebenernya, di satu sisi rasanya pengen gue kerjain abis-abisan dengan ngegembleng mereka, tapi di satu sisi lagi gue MALES banget harus kerja bareng atau dibantuin sama orang kayak gitu, jadi sampai saat ini gue gak tau harus ngapain sama orang orang kaya gitu.. mungkin cukup tersenyum saja and ignore them.

What’s the hardest part of being a fashion editor?

Menurut gw sih tanggung jawab dari jabatan itu sendiri han. IMO, citra sebuah majalah itu gak cuma ditanggung sama si chief editornya, tapi juga si fashion editornya, terlebih penilaian awal datang dari tampilan visualnya. Terus dengan ngebawa titel fashion editor, kayaknya pandangan dan bayangan orang orang juga udah berekspetasi tinggi, the way you look is gonna be judged. Me personally feel that the hardest part nya itu yah mengemban posisi itu di tengah tengah publik. Gue memang masih terbilang sangat junior dengan posisi ini, baru 7 bulan, masih belum ada apa apanya, jadi sebenernya sampai sekarang pun jujur gue masih merasa takut dengan embel embel posisi fashion editor ini. But on the other side, me very berry proud with the position itself, especially that I achieved that position before I turned 21 y/o dan bisa dibilang gw bener bener dari nol, fashion stylist serabutan yang bermodalkan nekat dan learning by doing, bukan dari assisting someone dan belajar dari seseorang atau suatu institusi secara formil.

Percaya atau gak, gue belajar step-step nya ini bener-bener sendirian dan trying figure it out on my own, through trials and errors of course. Untuk mengembangkan koneksi koneksi masuk ke dunia ini, gue lakuin dengan cara joining deviantart (di invite temen gue yang akhirnya sekarang berujung jadi partner kerja gue di soap, Raditya Pratama) and trying to be active in the community with other artists.

What makes a great fashion editor? Skill apa aja dan personality seperti apa yang harus di miliki?

– For me, passion is number one. Skill bisa dipelajari, tapi passion harus dari dalam diri. You have to love it or else…

– Kedua itu taste, gimana bisa mengarahkan dan membuat great fashion kalo gak punya taste yang baik terhadap fashion? Yang milih, mix and match kan kita.

– Ketiga kreatifitas, bisa berupa ide ide kreatif yang segar bisa juga kreatifitas kita dalam menghadapi problems. In every photo shoot pasti akan ada masalah muncul, entah itu besar atau kecil, nah gimana kita figure the solution in a short time, it needs creativity to figure the way out.

– Sisanya mungkin baru skill…gak harus bener bener bisa, tapi at least mengerti. Kayak modeling, how to pose, expression, etc. Juga fotografi dan digital imaging untuk tampilan akhirnya supaya gak terlalu ngerepotin si digital artist dan fotografernya. Mengerti make-up dan rambut utk mengarahkan si MUA supaya bisa merealisasikan imajinasi dan konsep kita. Mungkin lebih sederhananya bisa ngerasain in other people’s (who work with us) shoes kali yah. Untuk nulis sih udah pasti lah…styling pun juga berujungnya kan harus nulis.

– In terms of personality, standard sih seperti supel, committed, details-oriented, strict, fun, cooperative, sensitive, etc. Yang paling penting sih be professional. Prinsip gue dari dulu, although you’re an amateur, don’t act like one, act like a pro then you are a real professional.

Favorite fashion editor?

Wah…hmm kayaknya gak ada han….huhuhu…kalo sekedar mengagumi paling Syahmedi Dean (ya iyalah mentor dan bos gw gitu! Hahaha), Mas Boedi Basoeki, Mbak Ria Lirungan, sama Mas Ai Syarief. So far sih itu kali ya…klo yang dari luar…hmm have no idea..jarang memperhatikan sejujurnya.

What do you think about Indonesian fashion industry? Is there anything wrong with it?

Fashion Indonesia itu menurut gue very classy! Coba aja bandingin sama beberapa negara Asia lain…maaf maaf ya kadang suka norak dan kurang oke. Untuk masalah taste, gue rasa Indonesia yang paling berkelas. Untuk industrinya sendiri, kayaknya kurang dapet dukungan dari publiknya sendiri. Coba deh dilihat banyak banget orang yang mengeluh “Ih, kok mahal sih? Kan buatan Indo..” tapi kalo buatan Paris atau Italy, siap ngeluarin uang berapa pun nol nya demi menyandang status prestisius atau sekedar ‘liat nih ini buatan luar’. Kalo bukan kita yang menghargai buatan negara kita sendiri, mau siapa lagi? Kita aja gak bisa ngehargain, gimana bisa bikin orang lain menghargai?! Ini yang menurut gue bikin dunia fashion kita gak maju maju. Peran media disini pun juga kayak nya hanya sekedar meng-informasikan tapi gak boleh mengkritik, yah gimana bisa belajar orang-orang nya? Padahal si media ini pun juga kalo mengkritik diharapkan bukan kritik yang menjatuhkan, tapi kritik yang memang punya dasar dan bisa memberikan solusi dan masukan bukan sekedar hujatan.

Kalo ditanya apa ada yang salah ya itu, mental orang orangnya nya ini, baik dari masyarakatnya sama pelakunya..masih perlu untuk mempelajari arti menghargai. Gue sempet nanya sama temen gw yang memang udah senior di dunia ini, kenapa sih kok gak ada Jakarta Fashion Week? Padahal fashion di Jakarta kurang maju apa coba? Dan jawabannya, gue agak-agak lupa, sempet ada atau sempet mau ada (JFW)…tapi karena keterbatasan waktu dan model jadi para model-model nya ini dibagi seadil mungkin, tapi berujung beberapa desainer gak puas dengan model yang didapet untuk shownya dan mendaulat undur diri gak ikutan. Jadi intinya mereka disini masih belum menyatu untuk memajukan fashion Indonesia tapi masih egois. Tapi itu kan dulu, gue harap sih sekarang ini udah gak kayak gitu. Gue sendiri sekarang ngeliat desainer Indo udah mulai saling support satu sama lain, terlebih sejak batik dipatenin sama Malaysia, baru deh rasa nasionalisme dan bersatunya muncul. Mungkin emang perlu cambukan dulu baru bisa solid. Hopefully ngeliat fenomena ini Jakarta Fashion Week bisa ada, kalo perlu malah Indonesia Fashion Week dan bisa terekspos secara global.

What are your latest fashion obsessions?

Fashion obsession sekarang masih di sekitar tas dan sepatu. . haahahahah! Klo ngomongin pengen tas apa. Aduh semua tas juga mau kayaknya. . if only I have all money in the world…duh…gue bikin museum tas kali. …hihihi. Tapi sekarang ini masih terbayang bayang dengan Big Gucci Pelham GG Canvas and beige leather, Louis Vuitton Epi Passy GM, Stella McCartney Large Felt Tote, dan YSL Muse Oversized Chocolate leather bag…hahahhaa serakah.

Kalo in terms of career, yah gue sih pengen nanti-nanti nya jadi editor-in-chief fashion magazine tapi yang local bukan franchise…hehehe aneh ya? I find it more interesting working in local magazine since you can create the image of its own and make interesting covers! Kreatifitasnya bisa lebih bebas dan fresh. Gue juga pengen punya fashion modeling agency dan gue akan turun tangan langsung untuk training si model-model itu. Lainnya, gue pengen punya line fashion juga… yaahh hopefully lah…hehehehe mohon doanya aja deh!

What would be the perfect photo-shoot for you?

Foto ala-ala couture yang ekstrim-ekstrim kali yaaa…Lokasinya outdoor, dari padang rumput, rawa-rawa, tebing sampe danau-danau gt, bajunya yang haute couture dress tapi boleh dicelupin ke air, kena lumpur, atau yang aneh-aneh laennya dan gak usah takut harus ngeganti harga bajunya…hihihihihi. Designernya kalo dari luar pengen John Galliano for Dior Couture atau Victor & Rolf. Dalam negeri pengennya Barli, Irsan atau Sally koeswanto. Modelnya klo yang internasional Gemma Ward, Snejana Onopka, Hillary Rhoda, Coco Rocha, Ai Tominaga, dan Milla Jovovich. Make-upnya partner gue aja deh Norma Moii, fotografernya juga partner gue aja Bona Soetirto atau Raditya Pratama atau kalau perlu gue yang turun tangan sendiri…hahahahaha!

Fashion sense elo kan seru banget nih James. Cowo tapi seneng berdandan ala wanita. Seneng pake heels dan bawa tote bag, rambut panjang pula..:D Nah orang orang di sekitar tuh suka nyebelin nggak sih reaksi nya? Apa pada cuek cuek aja??

Hmm so far sih di depan gue gak ada yang resek, malah most of them bisa dibilang mereka salut sama gue karena bisa berani dan segala-gala nya terawat dan look great (hair, nails). Banyak juga sih yang di belakang gue bertanya-tanya. Sering kok gue dapat laporan dari temen-temen deket gue yang jadi sasaran ditanyain sama orang-orang itu. Kalo orang-orang sekitaran yang gak kenal sih malah gak peduli, karena mereka semua ngira gue itu cewe..bahkan terkadang gue udah ngomong dan suara gue lumayan berat tetep dipanggil mbak atau ibu… hihihi terkadang gue juga heran sebegitu anggun kah gue sampe orang bener-bener mengira gue cewe?!. Tapi kalo pada mau ngomongin atau apa, terserah mereka lah..I don’t give a d*mn about it. Cuma perlu bukti aja, look who’s gonna be on top? Me for sure! Hahahahahah! *diva bitchnya keluar*

Wow..see I told you this was going to be a long post. Thanks a lot James for taking the time to do this..wishing you all the best in working your way to the top..=)