Sudahkah Kita Merdeka?

merdeka.jpg

Pada tanggal 17 Agustus besok, bangsa Indonesia akan berpesta merayakan kemerdekaan Republik Indonesia yang telah mencapai tahun ke 62. Ya, 62 tahun silam Indonesia berjuang keras untuk lepas dari penjajahan yang mengungkung mereka berabad-abad lamanya. Sekarang, bangsa Indonesia dapat bernafas dengan leluasa menikmati hasil tumpah darah para Pahlawan Bangsa yaitu kemerdekaan. Tapi, when it comes to fashion, apakah Anda sudah benar-benar merdeka?

Mari kita beranalogi sejenak. Lets say that Fashion is a nation. Sebuah Negara besar dengan rakyatnya yang multikultural dan dengan sistem kepemerintahan yang terdiri dari designers, clothings, accessories, shoes, labels and brands, dan lain sebagainya. Lalu datanglah penjajah bernama Trend. Penjajah ini pun memaksa Negara Fashion untuk tunduk kepadanya, mengikuti segala komando yang diberikan olehnya: “Musim ini kalian harus mengenakan rok mini, sandal gladiator, pakaian berwarna cerah, dan tas berukuran ekstra! Designer harus merancang koleksi mereka sesuai dengan instruksi di atas! Yang berani menentang Trend, akan dieksekusi!”

Lantas semua orang pun dibuat menjadi Romusha, suka tidak suka mereka harus mengikuti Trend Fashion yang ada. Ada yang terpaksa, tapi ternyata malah banyak yang mengikutinya dengan penuh suka cita. Trend pun tertawa gembira melihat banyaknya rakyat Negara Fashion yang rela diperbudak olehnya. Terus menyambut dan mengikuti segala perputaran Trend dengan gegap gempita. Rakyat Negara Fashion pun menjadi kaum hedonista—pengganti kata fashionista. Mereka menjadi gila belanja, saking gilanya sampai kadang-kadang suka gelap mata. Bahkan ada yang rela tidak makan berhari-hari lamanya hanya demi mengikuti Trend Fashion yang berlaku. Entah karena takut dieksekusi atau memang ikhlas dari lubuk hati yang paling dalam.

Mengerikan bukan, dijajah oleh Trend Fashion? Dimana semua mata akan menatap kita dengan pandangan yang tidak menyenangkan hanya karena kita tidak ‘nurut’ dengan tuntutan Trend Fashion. Dimana mulut-mulut iseng akan terus menerus menyemburkan komentar pedas tentang penampilan kita hanya karena–menurut mereka—penampilan kita tidak up-to-date. Kita pun dipaksa untuk memiliki semua kriteria-kriteria Fashionable seperti yang diarahkan oleh Trend Fashion itu sendiri. Sampai kapan kita mau dijajah seperti ini?

Fenomena ini cukup dekat di lingkungan sekitar kita. Not being a hypocrite, saya juga pernah merasakan dijajah oleh Trend Fashion. Menarik memang, apalagi saat melihat para wanita heboh hunting The Latest Fashion Trend Items, seperti misalnya di Zara atau Mango. Sempat beberapa kali saya mencuri dengar perbincangan wanita-wanita yang—saya rasa—pantas diberi label ‘sadar trend fashion’. Mereka sibuk meyakini satu sama lain bahwa barang-barang yang mereka ambil adalah the latest fashion trend dan penampilan mereka tidak akan maksimal tanpa barang-barang tersebut.

Hasil observasi saya adalah begitu banyak perempuan yang ‘panik’ apabila tidak mengikuti arus dari trend fashion. Asumsi saya, menjadi bagian dari trend fashion seolah-olah merupakan salah satu ‘doping’ untuk self-esteem mereka. Apabila mereka tidak patuh dengan arah mata angin dari trend fashion, they will be devastated dan bahkan (mungkin) tidak berani untuk melangkah keluar rumah. Lucu ya?

There are loads of evil people when it comes to fashion. Mereka tidak segan-segan untuk ‘menghukum’ orang lain yang—di mata mereka—berpakaian tanpa mengikuti suatu kaidah trend fashion tertentu. Padahal sejatinya fashion adalah suatu hal yang universal, bukan? Ironis memang, betapa sulitnya mengakui kemerdekaan orang lain dalam cita rasa berpakaian. Setiap orang seharusnya memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana mereka akan berpakaian, apa yang akan mereka kenakan, dan apakah mereka akan mengikuti Trend Fashion, atau dengan tidak mempedulikan penampilan mereka sama sekali. We have an equal legal right of styling, don’t we?

Jadi, jangan mau dijajah oleh Trend Fashion! Kita punya hak untuk merdeka dalam menentukan apakah kita akan mengikuti kemana trend melaju atau tidak, dan sejogjanya kita juga mengakui kemerdekaan orang lain dalam berpakaian. Akan lebih baik apabila kita memiliki fashion statement sendiri sehingga kita dapat mengikuti trend yang benar-benar sesuai dengan kepribadian kita, dan keadaan finansial kita juga tentunya. Kalau misalnya nggak nyaman dengan sandal platform, then don’t buy it just because your friends do. Atau kalau misalnya nggak mampu beli Hermes Birkin, then don’t push too hard to afford it just because your ‘arisan’ mates have one. Kalau merasa kurang sreg dengan Trend Fashion yang—katanya—sedang ‘in’, nggak perlu memaksakan diri untuk mengikuti trend itu meskipun semua majalah Fashion seolah-olah mendikte kita the must-have items for this season. Toh, belum ada Undang-Undang yang menyatakan secara resmi bahwa orang yang melanggar trend fashion terkini akan dikenakan pasal sekian dan akan dijerat hukuman mati, kan?

Merdeka untuk semua fashionista!

- Pic courtesy: hint magz