Ketika Amanda Terlanjur Lekat Pada Tenun Baduy

Sejak pertama diluncurkan pada pertengahan 2013, nama Lekat mulai mendapat perhatian publik fashion di Indonesia. Fashion show tunggalnya di JFW 2015 lalu benar-benar mendapat apresiasi yang sangat baik dan menjadi salah satu show yang paling diingat dan disukai oleh penonton. Tidak butuh waktu lama bagi Lekat untuk ‘melekatkan’ brand image-nya ke publik. Banyaknya dukungan dari para selebriti yang suka mengenakan busana Lekat juga merupakan engagement factor tersendiri. Selain itu, dalam waktu singkat, Lekat berhasil membangun brand image-nya secara matang, baik melalui foto, lookbook, storyboard, dan advertisement dengan ide dan konsep yang kuat serta berbeda dari yang lain.

Bagaimana cerita lebih jauh dari Lekat yang tidak hanya membangun brand, tapi juga ingin memberdayakan sebuah komunitas terpencil? Saya berbincang dengan Amanda I. Lestari, sang creative director di Rumah Lekat, di showroom utama Lekat di Jl. Kemang Timur 16 No. 20, Jakarta Selatan.

1-IMG_9972

Bagaimana awalnya menemukan Baduy dan tenun aslinya sebagai karakter utama untuk Lekat?

Saya memang berniat membuat sebuah fashion label yang identik dengan Indonesia. Awalnya, memang kita benar-benar melakukan riset tentang material, kain Indonesia, sampai akhirnya menemukan informasi mengenai tenun Baduy yang masih belum dikenal orang, masih belum dieksplor. Jadi, awalnya, ya tidak ada kedekatan apa-apa dengan Baduy. Setelah itu, kita baru benar-benar datang ke Baduy, mencari kontak orang lokal, mempelajari kerajinan tenun mereka, dan seterusnya.

Unik, karena Baduy sendiri masih merupakan suku terasing dan belum banyak yang benar-benar mengetahuinya. Bagaimana sebenarnya kehidupan di sana?

Benar, Baduy bisa dicapai dari Kabupaten Serang. Sekitar 2 jam lagi berkendara dari Serang. Kemudian setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 1 jam untuk mencapai Kampung Baduy. Di sana, ada suku Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Luar ini yang sudah bisa menerima peradaban modern, mau berkomunikasi. Jadi kita juga mendapatkan perajin di Baduy luar. Sedangkan Baduy dalam masih benar-benar alami dan tidak mau ada persentuhan dengan modernitas sama sekali.

Model busana apa saja yang bisa dibuat dengan tenun Baduy?