Resep Sukses Salon Kiang Bertahan Hingga 35 Tahun

Salon baru boleh bermunculan di sana-sini. Tapi salon yang satu ini, walau sederhana terbukti tetap bisa bertahan hingga sudah 35 tahun. Apa resep suksesnya?

Salon Kiang adalah salah satu salon yang sering saya kunjungi. Setiap bulan saya rutin ke sini untuk melakukan waxing. Bahkan, saya juga rutin mengajak anak-anak saya yang sudah ABG untuk waxing di sini. Saya tertarik dengan salon ini karena tarifnya yang murah dan terapisnya bisa dibilang jago alias trampil semua dalam waxing. Kerjanya cepat dan juga tahu teknik waxing yang tepat, sehingga bulu-bulu mengganggu bisa bersih terangkat.

Salon KiangSalon Kiang memang bukan sebuah salon mewah. Dari sejak awal berdiri, salon yang memang terkenal dengan service waxing ini, memang lekat dengan kesederhanaan. “Dulu, awal berdiri pada 1982, Salon Kiang hanya menempati sebuah area di dalam Toko Mas Hongkong di Pasar Baru, Jakarta” ujar sang owner, Tante Kian,g saat saya tanya tentang sejarah berdirinya Salon Kiang.

“Awalnya, Salon Kiang di Pasar Baru itu tadinya malah salon rambut saja. Tadinya salon saya kurang ramai. Lalu, seorang langganan yang kebetulan berasal dari India, menyarankan kepada saya agar menambah layanan waxing di salon saya.

Kebetulan Pasar Baru itu didiami banyak warga India maupun keturunan. Nah, perempuan India kan memang rutin waxing karena umumnya tubuh mereka ditumbuhi banyak sekali bulu-bulu kasar dan tebal. Customer keturunan India itu yang mengajari saya tentang waxing. Bahkan dari dia juga saya mendapat info tentang bahan sugar wax-nya,” tambah Tante Kiang yang tahun ini telah berusia 56 tahun.

Salon Kiang WaxingTante Kiang yang selalu tampak ramah dan energik ini pun melanjutkan cerita. “Ketika pertama kali bereksperimen untuk membuat sugar waxing sendiri, saya sampai rugi bahan banyak sekali lho, sampai beberapa kilogram, karena kurang pas takarannya. Sempat saya putus asa.

Tapi saya ini orangnya kalau sudah bertekad ingin bisa menguasai sesuatu, harus bisa! Maka saya terus mencoba membuat dan membuat lagi. Kini, Puji Tuhan, ramuan sugar waxing Kiang Salon bahkan juga dijual ke salon-salon menengah atas, lho!,” Tante Kiang pun bertutur sambil tersenyum.

Setelah 10 tahun beroperasi di Pasar Baru, Kiang pun akhirnya memutuskan untuk buka cabang berikutnya di Sunter. “Saat itu, saya memutuskan untuk segera buka cabang di tempat lain, karena Pasar Baru mulai sepi. Mal-mal baru yang lebih menarik mulai banyak dibuka.” Akhirnya, Kiang dan suami pun menemukan sebuah tempat yang tepat untuk djadikan Salon Kiang.

Salon Kiang 2Ternyata, ketika saya pindah ke Sunter, area salon saya juga terletak di tengah-tengah Komunitas India. Maka nggak heran, para pelanggan lama dari Pasar Baru pun juga ikut berdatangan ke Salon Kiang yang baru. Ditambah lagi pelanggan baru dari warga India sekitar.

“Pelanggan salon yang mayoritas orang India ini, bahkan ada yang turun temurun , dari nenek, anak, menantu hingga cucu. Jadi, salon saya ini berkembang dari mulut ke mulut. Satu pelanggan puas, maka dia akan bercerita kepada 100 orang, bahkan membawa 10 orang temannya ke salon. Begitu ibaratnya.”

Sejak pindah ke Sunter, Salon Kiang sebagai salon waxing pun semakin ramai. Hingga akhirnya 10 tahun lalu, buka cabang di daerah Pulo Raya, dekat dengan SMA Tarakanita.

Keberhasilah Tante Kiang untuk membangun bisnis salon ternyata juga tak luput dari dukungan Om Alex, sang suami. Awalnya, Om Alex adalah karyawan di sebuah perusahaan besar. Namun suatu ketika Tante Kiang sendiri yang meminta Om Alex untuk membantunya. Kini, selain berbagi tugas mengawasi salon, Om Alex juga membantu sang istri dalam urusan pembuatan ramuan waxing. Produk mereka yang diberi nama K-waxing ini ternyata banyak disukai oleh salon-salon waxing menengah atas dari berbagai penjuru Indonesia lho!

Salon Kiang 3Resep lain dari Tante Kiang dalam berbisnis salon agar tetap awet, tak lekang dimakan zaman adalah membangun hubungan interpersonal yang baik dengan para karyawan. “Saya selalu berusaha dekat dengan para karyawan. Contohnya saya berbagi menu makan siang yang sama dengan karyawan. Mereka saya anggap sebagai saudara bahkan adik sendiri. Tanpa bantuan mereka, saya nggak akan bisa membangun dan mempertahankan salon sampai seperti sekarang ini.”

Saya tak meragukan kedekatan antara Tante Kiang dengan para karyawannya. Karena selalu rutin berkunjung ke Salon Kiang di Pulo Raya, saya melihat sendiri ada seorang terapis yang bahkan diperbolehkan membawa putri kecilnya ke salon.

Saya sendiri sudah melihat sang terapis ini sudah membawa putrinya ikut serta bekerja di salon sejak masih bayi. Ketika si terapis bekerja melayani tamu yang ingin waxing, maka teman-temannya di salon akan membantu untuk menjagai sejenak anaknya. Bahkan Tante Kiang dan Om Alex juga tak sungkan untuk turut membantu. Berkunjung ke salon Kiang yang sederhana ini bisa membuat kamu merasakan hangatnya sebuah keluarga besar yang menyambut setiap tamu :)