Dari Sahabat Jadi Partner Bisnis di Salon Pink Parlour

Persahabatan para cewek ini telah mengantar mereka jadi pengusaha salon franchise yang cukup sukses. Bagaimana kiat mereka berbisnis tanpa merusak tali persahabatan?

Beberapa hari yang lalu, setelah saya mencoba waxing di Salon Pink Parlour, dua owners cantik Jessica Kawilarang dan Yosephine Go, ngajak saya untuk ngopi bareng dan ngobrol-ngobrol seputar bisnis salon mereka.

Pink Parlour ReceptionistBegitu kami mendapat meja di sebuah café, obrolan pun langsung mengalir lancar, bagai teman lama yang sudah lama nggak berjumpa. Sebenarnya, Salon Pink Parlour cabang Indonesia ini dimiliki oleh 5 cewek yang semuanya saling kenal, saling bersahabat. Ketiga nama lain para pemilik Salon Pink Parlour Indonesia ini antara lain: Dian Sastrowardoyo, Natasha Rasyid dan Putri Soedarjo.

Namun, dalam kesehariannya, Jessica Kawilarang dan Yosephine Go yang bertanggungjawab mengurus operasional Pink Parlour. Saya pun jadi penasaran, bagaimana kisah persahabatan ini bisa berelaborasi menjadi partner bisnis?

Jessica&Yosephine-1

“Sebenarnya, kita sudah saling mengenal karena dulu sama-sama pernah kerja bareng di konsultan keuangan,” ujar Yosephine membuka perbincangan.

“Saat di kantor itu, kita berdua sering terlibat dalam proyek bareng. Akhirnya, kami menemukan kecocokan pertemanan. Dari situ, kami ngobrolin bareng ide untuk bikin usaha bersama. Nah, mulai terpikirlah untuk buka franchise Pink Parlour di Jakarta. Kemudian, untuk memperkuat modal, kami pun mengajak 3 teman kami yang lain,” tambah Jessica, yang akrab dipanggil Chika menimpali.

Seringkali kita mendengar bahwa sebaiknya jangan mencampur pertemanan dengan bisnis, karena banyak yang akhirnya malah jadi bermusuhan. Saya pun menanyakan hal ini pada Jessica dan Yosephine, bagaimana cara mereka mencegah hal tersebut terjadi? “Dari awal, kita sudah bikin kesepakatan sih, bahwa untuk mengurus Pink Parlour day to day-nya dipegang oleh kami berdua saja. Dan pembagian kerja di antara kami juga jelas yaitu: Chika mengurus Operational dan Marketing. Sedangkan saya bertanggungjawab pada urusan Finance,” papar Yosephine.

Ternyata, para perempuan muda ini nggak cuma sekadar tampil sebagai pemodal Salon Pink Parlour, Indonesia. Ketika pertama kali mau buka dan juga di awal-awal beroperasi, maka Chika dan Yosephine juga ikut training tentang cara waxing yang benar. Setelah itu, mereka berdua juga handling customer sendiri selama 1 tahun pertama Pink Parlour Jakarta berdiri. “Kami berdua mulai dari nol. Mulai dengan merekrut karyawan, men-training mereka bahkan juga menghadapi customer,” kata Chika.

Pink Parlour Ruang TreatmentBelajar dari pengalaman waxing di salon lain yang kurang memerhatikan kebersihan dan kenyamanan, Chika dan Yosephine pun optimis bahwa service Salon Pink Parlour pasti akan berhasil merebut hati banyak konsumen. Terbukti kini, Pink Parlour Indonesia telah berusia 4 tahun, sejak beroperasi pertama kali pada tahun 2013. Dan selama 4 tahun ini, Pink Parlour Indonesia juga sudah memiliki 4 cabang yaitu di Kemang Village, Pacific Place, Grand Indonesia dan Lippo Mall Puri Indah. Kini, jumlah karyawan pun sudah semakin banyak. Pink Parlour Indonesia telah memiliki 30 karyawan floor dan 5 karyawan di back office.

Ke depannya, mereka berencana untuk menambahkan service baru lagi yaitu eyelash extension. Yeeaayyy, this is one of our favorite treatment, isn’t it? Okey, ditunggu terus gebrakan-gebrakan terbaru dari Pink Parlour ya! Oh ya, sebelum berpisah, Chika dan Yosephine pun titip pesan bahwa di bulan Oktober ini, akan ada promo Hair Free Day, yaitu seluruh service waxing hanya akan di-charge seharga Rp 99 ribu saja. Wah, jangan sampai terlewatkan nih, ladies!