Stress Bisa Memperparah 3 Masalah Kulit Ini

Masalah kulit bisa timbul karena berbagai macam hal, mulai dari faktor genetik sampai gaya hidup. Tapi sudah tahu belum, kalau tiga masalah kulit berikut ini ternyata bisa semakin parah karena stress?

Waktu ada postingan di Instagram FD yang membahas soal kenapa laki-laki banyak yang punya kulit mulus tanpa harus merawat kulit, ada satu komentar yang mengatakan: “Iya, soalnya cowok kalo ada jerawat pasti nggak dipusingin, nggak kayak cewek yang dikit-dikit stress, jadi jerawatnya malah tambah banyak.” Deg! :)

Sebuah studi menunjukkan bahwa kulit bisa cepat menangkap sinyal otak yang mengindikasikan stress dan efeknya bisa dilihat langsung oleh mata. Pasti sering lihat kan, orang yang stress kadang kulitnya ikut kusam, nggak bercahaya, lingkaran hitam dan keriput juga lebih terlihat jelas? Ini karena stress ada hubungannya dengan inflamasi di dalam kulit dan kulit tiap-tiap orang memperlihatkan dampaknya dengan cara yang berbeda-beda.

Jerawat adalah masalah kulit paling umum yang bisa diperparah oleh stress. Untuk kasus cystic acne, kadang jerawat yang sudah mau sembuh akan pecah dan mengeluarkan komedo di dalamnya. Jerawat yang matanya lepas ini bisa juga dilihat sebagai fresh wound, karena itu kulit kita sebenarnya punya sistem sendiri untuk menyembuhkannya. Ada tiga tahap yang harus dilewati kulit saat self-healing, yaitu inflamasi (ketika lukanya masih meradang), proliferasi (mengumpulkan “amunisi” untuk membangun kembali lapisan kulit), dan remodelling (menyusun kembali struktur kolagen yang rusak). Naiknya level cortisol menggangu proses kerja skin-healing ini sehingga inflamasi apa pun yang terjadi di kulit bisa lama sekali pulihnya.

KERUTAN-DIWAJAHMasalah kedua yang bisa tambah parah karena stres adalah psoriasis, yang gejalanya adalah timbulnya ruam-ruam merah dan kulit mengelupas. Ex-intern FD, Brina pernah menulis soal psoriasis, di mana salah satu penderita psoriasis yang ditemuinya berkata bahwa stres memang terbukti membuat psoriasis semakin parah. Saat stres, hormon cortisol memberi sinyal pada cytokines (perantara yang mengatur beberapa respon inflamasi dari otak ke kulit) untuk meningkatkan level inflamasi kulit, sehingga tanda-tanda psoriasis pun jadi semakin jelas.

Terakhir, atopic dermatitis juga merupakan target utama stres. Pada kasus atopic dermatitismoisture barrier dan kemampuan kulit untuk self-healing menjadi terganggu sehingga kulit menjadi jauh lebih sensitif terhadap alergen. Sama seperti psoriasis, atopic dermatitis juga bisa bertambah parah akibat aktivitas cytokines yang pro-inflamasi, dan efek psikologis yang “memerintahkan” otak untuk terus menggaruk ketika ada rasa gatal.

Meskipun stress dan masalah kulit adalah sebuah vicious cycle yang susah untuk dilepaskan, nggak ada salahnya untuk sesekali mendistraksi otak kita dari masalah kulit. Tanpa kita sadari, respon psikologis otak juga secara nggak langsung berpartisipasi dalam perkembangan masalah kulit yang kita miliki.