Cerdas dalam Menerima Review Produk Kosmetik

Kapan terakhir kali kamu membeli produk kosmetik karena melihat iklan yang menampilkan celebrity brand ambassador-nya di TV? 

Mungkin sudah 5 tahun belakangan ini, influence terbesar saya dalam membeli produk kosmetik adalah dari review di internet. Saya sudah jadi member Female Daily sejak SMA, sering baca-baca forum, apalagi sekarang ditambah dengan Female Daily Beauty Review dan Youtube channel FD yang memudahkan untuk mencari review produk spesifik. Kadang, referensi produk juga saya dapatkan dari beauty influencer lokal maupun internasional.

Sayangnya, sama seperti fenomena berita hoax, kadang “information overload” ini masih banyak disalahartikan oleh beberapa orang, termasuk sesama pecinta beauty. Konsep tentang honest review, personal opinion, dan constructive criticism masih sangat-sangat sering di-simplify, sehingga melenceng dari poin yang sebenarnya dan merembet ke hal lainnya.

Mungkin ini terdengar sepele, apalagi untuk topik seperti makeup dan skincare yang mungkin bagi sebagian orang hanyalah hal remeh temeh. Tapi buat saya, ketika pola pikir seseorang udah misleading dari awal, gagal paham bisa terjadi di mana aja, nggak cuma saat melihat review produk kecantikan.

Berikut contohnya:

Tidak Bisa Menerima Perbedaan Opini

Screen Shot 2017-09-03 at 7.21.12 PM

Screen Shot 2017-09-03 at 7.21.25 PM

Susah membedakan mana fakta dan opini adalah satu hal krusial yang menurut saya harusnya udah nggak jadi perdebatan lagi. Komentar-komentar ini muncul di video yang tayang minggu lalu, ketika talent video / Business Development Associate FD, Imani, memberikan first impression pada suatu lipstik yang menurutnya terasa kering di bibir.

Surprisingly, beberapa netizen menyampaikan “keheranannya” terhadap statement Imani, karena berdasarkan sudut pandang mereka, lipstik yang Imani coba enak, kok. Kok bisa-bisanya dibilang kering di bibir? Kemudian thread comments tersebut mengundang komentar-komentar lain yang bernada serupa, dan bingung kenapa di video tersebut lipstiknya dibilang kering.

Berangkat dari komentar ini, muncul lagi tuduhan-tuduhan lain seperti talent video nggak pernah coba brand lokal, hanya men-judge berdasarkan brand, lebih suka produk luar, dan lain-lain. Seperti saya bilang di atas, jadi merembet ke hal lain yang sebenarnya di luar konteks, kan? Yang namanya opini tentu berbeda-beda dan kita nggak bisa mempertanyakan keabsahan opini seseorang hanya karena opininya berbeda dengan kita.

Pengalaman, keadaan, kebiasaan, dan cara seseorang memakai sebuah produk tentu berkontribusi ke opini final orang tersebut. Jadi nggak usah heran kalau kamu melihat ada orang yang memakai produk yang sama dengan kamu tapi experience-nya berbeda. Fakta, mau dilihat dari sudut pandang manapun nggak akan pernah berubah, sedangkan opini sudah pasti nggak akan ada yang sama, apalagi dilihat dari macam-macam sudut pandang.

Kata “bagus”, “enak”, “terbaik”, itu sangatlah relatif. Kamu suka siomay, saya lebih suka batagor. Karena lebih banyak orang yang suka siomay, apakah artinya opini saya jadi nggak valid? Nggak, dong. That’s the whole point of reviewing products online: you share something based on your own perspective. Tujuan kita me-review sebuah produk tentunya adalah untuk berbagi pendapat kita sendiri, bukan menyamakan opini dengan orang lain.

Banyak komentar di Youtube yang bilang “Ih padahal kata si anu lipstik ini enak banget” “Ih itu kan lipstik favoritnya kak anu”. Kalau semua reviewers di YouTube bilang lipstik A bagus dan semua orang harus mengikuti, buat apa ada banyak-banyak referensi? Apakah harus dibuat pemilu khusus produk kecantikan, lalu kita semua pilih satu orang yang opininya paling didengar dan kita wajib suka apapun yang dia suka?

Untuk referensi bacaan, silakan cek blogpost skincare blogger Caroline Hirons yang membahas tentang perbedaan pendapatnya dengan skincare expert/ Paula’s Choice founder, Paula Begoun. These two women are the key players in the beauty community for such a long time, so if they can agree to disagree and get along well then so can we. Next!

(Catatan: poin saya di sini fokus pada komentar netizen yang nggak mau menerima opini lain, bukan untuk memojokkan atau mengarahkan opini negatif terhadap suatu brand. LT Pro is included in our very first Top 5 Local Matte Lipsticks video, so please don’t even try :))

Mengkritik Produk Lokal = Menghina

Jujur, ini stereotip yang menurut saya sangat menyebalkan. Tentu, kita semua bangga dengan produk-produk kosmetik Indonesia, baik brand-brand legendaris yang sudah ada puluhan tahun sampai brand-brand indie berdesain keren yang bermunculan sekarang ini. Tapi, bangga dan menghargai produk lokal bukan berarti kita jadi tutup mata dan nggak mau memberi kritikan. Kritik yang membangun tentu bisa menjadi input yang baik bagi brand-brand tersebut untuk membuat produk yang lebih baik.

Kalau dipikir-pikir, kenapa industri kecantikan di luar negeri sangat maju, dengan ribuan brand yang menciptakan produk inovatif setiap tahunnya? Ini karena mayoritas brand memiliki tim research yang kuat dan mendengar apa yang “diminta” oleh konsumen. Alasan beberapa beauty brand ternama menambah shade foundation-nya dengan warna-warna gelap pun karena adanya kritikan dari konsumen yang merasa kulit mereka nggak kebagian shade foundation.

Jangan serta-merta protes juga kalau harga kosmetik lokal sedikit naik karena adanya peningkatan kualitas produk. Lihat juga kemasannya, apakah lebih kuat dan tahan banting? Apakah ada website yang memudahkan pembelanjaan? Customer service yang memadai? Teknologi baru yang mendukung formulasi? Itu semua tentu berkontribusi pada penentuan harga.

Menghargai produk lokal bukan berarti “melindungi”-nya dari kritik. Ketika kita melihat ada ruang untuk perbaikan, tentu kita sebagai konsumen berhak menyampaikan. Yang membuat saya gerah adalah ketika kritik terhadap brand lokal dibilang menghina, tetapi nyinyir dan kasar terhadap brand high-end atau luxury bisa diterima. Isn’t that such a double standard? Good products are good products, bad products are bad products, regardless of the price.

Menyikapi info yang didapat di internet dengan kurang bijak nggak cuma bisa membentuk pola pikir yang misleading, tetapi juga menghilangkan esensi dari mencari referensi itu sendiri. Saya rasa nggak ada orang yang mencari review produk hanya untuk mencari kesamaan, justru yang dicari adalah referensi seluas-luasnya supaya kita bisa mendapat gambaran mengenai produk tersebut dari berbagai sudut pandang. If unanimous review is what you’re looking for in the beauty community, then you’ll be missing all the fun :)