Marissa Anita: “Nggak Menyesal Pernah Anoreksia”

Mengedukasi diri sendiri jadi kunci Marissa Anita bebas dari anoreksia. 

Pasti semua familiar dengan Marissa Anita, jurnalis perempuan yang dulu aktif bersama Metro TV dan NET TV. Nggak bermaksud lebay, tapi jujur dulu saya sering terpukau kalau lagi nonton Marissa di TV. Mukanya itu, lho, kesannya super friendly, senyum terus, terlepas dari fakta bahwa ya memang orangnya udah cantik (well, duh).

Dan, saya memang selalu kagum sama orang-orang yang passionate, apa pun bidangnya. Membaca (dan melihat sendiri) kisah Marissa di dunia jurnalistik selama sekian tahun, I kinda feel like looking at myself, yang memang bercita-cita jadi jurnalis sejak usia 12 tahun.

Sempat nggak nyangka, waktu saya membaca berita online kalau Marissa dulu sempat mengidap gangguan psikologis dan pola makan anoreksia selama enam tahun. I want to thank Marissa Anita, yang udah meluangkan waktu di tengah kesibukan studi S2 bidang Digital Media and Society di Inggris, lagi mengurus disertasi pula, untuk share di artikel Body Love kali ini mengenai anoreksia yang dulu dia alami, dan, sama sekali nggak ia sesali.

marissa-anita-anoreksia-2

Interesting, right? Menarik juga bagi saya sendiri untuk membahas hal ini, karena “pingin kurus” adalah sesuatu yang saya yakin banget, kita temui sehari-hari di lingkungan kita, dan tentunya penting agar goal lumrah ini nggak berubah menjadi sesuatu yang negatif.

Mungkin memang nggak sama, tapi akhir-akhir ini kita dengar kasus bunuh diri Chester Bennington, Chris Cornell, yang semua berawal dari issue kesehatan mental. It’s what’s going on in their head. Apa sih, pikiran yang saat itu memicu Marissa sampai terkena anoreksia?

“Jadi awalnya malah aku kurus banget. Usia 13, tinggi 165 cm, tapi berat badanku malah cuma 38 kg. Aku pun usaha naikin berat badan, sukses, dan naik 10 kg. Aku ingat banget, seorang supir jemputan gitu, komen kalau Marissa gemukan. Sepele banget sih, namun mulai dari situ aku justru aku merasa gemuk, jelek, dan mulai diet keras yang nggak sehat sampai akhirnya kena anoreksia. Selama enam tahun, dari tahun 1997 sampai 2003.

I think pengaruh waktu juga. Di usia remaja, puber begitu, lagi mencari jati diri dan sebagainya, dapat komentar sedikit dari orang langsung berpengaruh ke kepercayaan diri.”

Seperti apa efeknya?

“Sehari, aku cuma makan sekali. Menunya sayur dikasih ati ayam. Aku pun jadi cepat capek, cepat marah, karena lapar. Aku ingat, one day my dad matiin AC di kamar, dan aku jadi marah banget. So, aku juga jadi sensi.”

Apa akhirnya, setelah enam tahun, yang membuat Marissa berhenti?

“Suatu hari aku lagi di kamar mandi, mau minum obat pencahar agar makanan cepat keluar, dan tiba-tiba pilnya jatuh. Jatuh aja, gitu. Then I realized, aku nggak mau begini terus. Di tahun itu pun aku menemukan satu buku tentang psychological illness di perpustakaan, dan saat membaca bagian tentang anoreksia, aku sadar bahwa ini nih yang aku alami. Gejalanya sama. Di situlah aku baru sadar bahwa yang aku lakukan selama ini adalah sebuah illness.

“Untuk sembuh, nggak gampang ya. Butuh waktu satu tahun sampai aku bisa balik makan nasi normal lagi.”

Ada rasa menyesal nggak sih, selama enam tahun itu “menyiksa” diri dengan anoreksia?

I think…Everything that happened to my life, even though hard, looking back I don’t regret it. Pengalaman itu bikin aku justru semakin kuat. I wouldn’t change it.”

Apa pesan Marissa agar orang-orang yang berdiet keras agar pingin kurus, nggak sampai terjerumus ke anoreksia? Atau bahkan bagi orang-orang yang sudah mengidap anoreksia?

“Menurutku kuncinya self help, ya. Baca buku, cari faktanya. Aku sering baca buku-buku self help, karena rasanya bikin damai. Diet nggak masalah, but do everything in moderation. Diet untuk kurus, menurutku adalah misundertanding yang harus diubah. Diet itu bukan makan sedikit, namun mengubah pola makan, dengan tujuan agar sehat.

You have to feel good. Sudah tiga bulan ini aku jadi vegetarian. Awalnya karena nonton sebuah dokumenter di Netflix, di situ aku lihat bahwa memang dengan menjadi vegetarian itu, lebih banyak manfaatnya ya daripada keburukannya. Di film itu juga dijelaskan pengaruh menjadi vegetarian yang ternyata punya efek baik ke lingkungan. So I think, if this makes me feel good, and it also brings good impact to the environment, wah bagus sekali, ya. Intinya, you have to feel good.”