3 Alasan Orang Nggak Cocok Skincare The Ordinary

Wabah skincare The Ordinary super hebat, apa yang bikin sejumlah orang justru nggak cocok?

The Ordinary Rosehip Oil bikin glowing sampai Advance Retinoid sukses menghilangkan bekas jerawat, adalah beberapa glowing reviews The Ordinary di FD. What’s not to love from an effective yet affordable simple skincare? Terlepas dari hype dan segala keunggulan The Ordinary, tetap aja namanya skincare ya cocok-cocokan. Saya nih salah satu orang yang nggak cocok dengan The Ordinary.

To be fair, saya baru coba satu produk The Ordinary yaitu Niacinamide 10% + Zinc 1%. Saya sebagai pemakai sejumlah produk dengan kandungan utama niacinamide, sejauh ini cuma nggak cocok dengan gel Niacef yang biasa dijual di apotek. Alasannya, sama dengan nggak cocok Niacinamide The Ordinary ini, bikin bruntusan. Saya pun suspect kandungan Carrageenan (ekstrak seaweed merah yang biasa dipakai untuk menghasilkan tekstur gel untuk skincare) Niacinamide The Ordinary sebagai penyebabnya. Ingat kasus Niacef, mungkin soal formulasi yang jadi akar masalah.

3 Rekomendasi Produk The Ordinary untuk Jerawat-3

Saya nggak sendiri. Banyak member Reddit, member FD di Beauty Review dan juga thread forum DECIEM Company – All Brands, SKINCARE ONLY punya pengalaman yang sama dengan Niacinamide The Ordinary. Saya tambah nggak simpatik karena di awal, web The Ordinary sampe bikin statement yang inti isinya adalah, Carrageenan nggak mungkin bikin clogging. Eh, beberapa bulan kemudian,  The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1% diformulasi ulang dan Carrageenan-nya hilang. It’s good they listened to the costumers, tapi kenapa pake dibela mati-matian di awal?

Selain breakout, berikut sejumlah alasan lain yang bikin sejumlah orang nggak cocok dengan skincare The Ordinary, diambil dari FD Beauty Review dan forum:

Tekstur  Nggak Nyaman

Banyak produk The Ordinary, seperti Azelaic Acid dan Vitamin C Suspension, memakai base silikon sehingga gampang menggumpal saat dipakai, dan ini dikeluhkan banyak orang. Skincare guru Deszell/ Amalia Hayati pun merasa partikel-partikel sejumah produk terlalu besar, sehingga walaupun kandungannya concentrated, namun penyerapannya jadi kurang maksimal. She even said once, “Texture beneran mencerminkan harga”.

Saya juga ngerasa The Ordinary Niacinamide teksturnya terlalu thick, kurang fluid. Again, saya udah coba banyak produk niacinamide lho, dan walau kebanyakan yang saya coba teksturnya gel, bukan liquid gel, tapi jauh lebih cepat dan nyaman meresapnya di kulit.

Hasilnya Biasa Aja

“Udah habis satu botol, ya so far dapet lembapnya aja sih,”

“Udah pakai dua bulan, intinya nggak ada reaksi negatif apa-apa. Lumayan lah”

Kalimat review kayak gitu sering banget saya lihat untuk produk The Ordinary Buffet dan Niacinamide, dan biasanya diikuti dengan rating tiga dan “plan” untuk nyobain produk lain. Memang produk skincare itu harus sabar, hasil pasti mengikuti pemakaian rutin (selain kecocokan), apalagi untuk kandungan-kandungan anti-aging. “Salah”-nya menurut saya adalah, image The Ordinary ini saat muncul amat-sangat menggiurkan, promising dan no-bullsh*t. Jadi ibaratnya, saat orang pakai skincare The Ordinary dengan ekspektasi 100, merasa hasilnya hanya 70, rasanya jadi underwhelming.

Bad reviews aside, saya pribadi masih pingin coba kok produk The Ordinary. Belajar dari pengalaman orang-orang, banyak yang merasakan efek maksimal dengan combo beberapa produk The Ordinary (jadi bukan cuma nyobain satu), lalu Lactic Acid 10% rata-rata dinilai ngefek banget ke bekas jerawat ketimbang pencerah seperti arbutin/ azelaic acid, dan banyak yang impressed dengan hasil glowing dan tekstur kulit yang membaik dari pemakaian varian produk retinoic acid The Ordinary.

Gimana pengalaman kamu dengan produk skincare The Ordinary?