Fenomena K-Beauty, Bertahan Sampai Kapan?

Tahun 2017 tinggal 4 bulan lagi dan fenomena K-beauty semakin hits di mana-mana, termasuk Indonesia. Apakah kosmetik Korea akan benar-benar bersaing ketat, meskipun banyak brand Korea yang bahkan belum masuk ke Indonesia?

Jangankan brand Korea yang sudah lama ada di Indonesia seperti Laneige, Sulwhasoo, Etude House, atau Innisfree yang baru saja masuk ke Indonesia tahun ini. Brand-brand seperti Nature Republic, COSRX, Benton, atau Secret Key pun sudah punya following base yang besar tanpa ada offline store-nya di Indonesia.

Produk best-seller dari masing-masing brand sudah ada ratusan review-nya di FD Beauty Review, dan topik tentang K-beauty selalu banyak engagement-nya. Thanks to berbagai macam online shop dan jasa titip di luar sana, customer jadi sangat gampang mengakses produk-produk dari brand yang belum masuk Indonesia.

Untuk die-hard K-wave fans, fenomena K-Beauty mungkin udah lewat masanya. Saya inget banget sekitar tahun 2011, seorang teman membawa BB cream dari Korea aneka shade dan saya sempat kecewa karena warnanya nggak ada yang masuk ke kulit saya. Kalau nggak keputihan ya abu-abu, nggak cukup kuning untuk bisa masuk ke mayoritas undertone kulit Indonesia.

Sekarang? Nggak cuma BB Cream aja aja yang shade-nya semakin banyak yang masuk ke kulit Indonesia, tetapi lahirnya BB cushion (yang kemudian trennya diikuti Western brands) juga semacam mendefinisikan ulang natural complexion yang terlihat sangat halus, rata, tapi tetap terlihat seperti kulit. Itu baru complexion, masih ada tren ombre lips, straight brows, dan lain-lain.

Gimana dengan skincare? We all know how crazy people are with the multiple steps. Mau itu full 10 step, 12 step, atau bahkan versi singkatnya, semua orang penasaran pengen nyicip skincare Korea dan membuktikan keampuhannya di kulit. Berhubung bukan penonton K-Drama, saya juga baru tahu kalau salah satu alasan meledaknya skincare Korea adalah karena banyak scene di K-Drama yang menampilkan aktor-aktornya lagi pakai skincare!

HAUL-K-beauty-delivery-Korean-skin-care-K-beauty-Europe-Blog.-Missha-Etude-House-Thefaceshop-By-Wishtrend-Heimish-01Source

Di FD sendiri udah banyak kisah sukses karena skincare Korea dan saya pribadi optimis kalau skincare Korea, baik metode pemakaian maupun produknya, akan terus berlanjut dan mengalami banyak upgrade. Lihat aja dengan masuknya produk-produk K-Beauty ke Sephora US ataupun Target, ditambah beauty influencers luar yang tadinya jarang banget ngomongin K-Beauty tapi sekarang kontennya di mulai muncul produk-produk K-beauty.

Ada berbagai macam alasan kenapa orang tergila-gila dengan produk Korea. Selain karena faktor K-Drama atau sekedar seleb favoritnya menjadi ambassador sebuah beauty brand, faktor harga yang cenderung lebih affordable juga menjadi alasan utama. Kalau saya pribadi, alasan kenapa jadi tertarik dengan skincare Korea adalah karena produk-produk dan approach-nya yang gentle dalam menangani jerawat, serta bagaimana mereka menjelaskan kandungan produknya.

Tapi, maraknya produk Korea bukan berarti tanpa tantangan. Adanya kandungan non-halal di beberapa produk tentu membatasi minat customer Muslim di Asia, meskipun varian produknya nggak banyak. Selain itu, sebagian besar orang masih menganggap bahwa produk Korea hanya “main-main aja” dengan packaging dan nama-nama produknya yang lucu. The 10-step craze? It’s just marketing gimmick! Besides, for people who are entirely unfamiliar with the whole K-wave thing (including K-Beauty), they tend to think that it is just some trend that eventually goes away.

Ada pengguna setia produk-produk Korea di sini, baik yang sudah lama maupun newbie? Apa yang membuat kamu akan terus repurchase produk Korea dan rela hunting atau titip sana-sini untuk brand yang belum ada di Indonesia? What makes it worth the struggle? Silakan share di comments, ya!