Perhatian untuk Beautypreneur Kosmetik di Indonesia!

Belajar dari cerita The Bath Box, ini satu hal yang harus diperhatikan untuk beautypreneur kosmetik di Indonesia!

Saya nggak punya komplain khusus tentang beauty industry di Indonesia. Saya senang banget sama environment kosmetik lokal sekarang yang sedang striving dengan angka perkembangan yang luar biasa. Walaupun banyak indie brands, semuanya dilakukan secara serius dan niat, nggak ada yang main-main. Business plan-nya sustainable, nggak asal bikin ”gong” besar-besaran di awal, terus nggak dilanjutin lagi. Saya masih inget banget keselnya saya pas nemu produk lokal bagus yang cocok di kulit, tapi nggak bisa saya teruskan penggunaannya karena the business stopped its business.

Baca juga: Makeup Lokal Indonesia Nggak Akan Maju. Kalau…

Saya juga suka banget keberagaman jenis kosmetik di Indonesia. Mau yang halal? Ada! Yang natural, organik, bebas pengawet? Tinggal pilih sendiri mau brand yang mana. Yang dikemas secara millennial dan hipster banget? Produknya ngantri buat dicobain. Walaupun mayoritas masih mendominasi dengan liquid lipstick, saya tahu kok mereka bakal berinovasi dan product mix-nya akan makin luas. Banyaknya beauty enthusiast yang penasaran sama makeup lokal juga makin mengajak entrepreneurs di luar sana untuk join keseruan jadi beautypreneur di Indonesia.

Walaupun begitu, saya minta untuk seluruh beautypreneur yang serius dalam menjalani bisnisnya, untuk melakukan hal ini sebelum memasarkan produknya: pastikan Anda memiliki seluruh izin yang diperlukan untuk memulai bisnis Anda, dari tahap pre-produksi hingga pemasaran produk.

Sejujurnya, hal ini cukup tricky karena mengurus perizinan itu PR banget. Ribetnya prosedur dan birokrasi para civil servants di Indonesia juga menjadi faktor mengapa banyak bisnis yang nggak terdaftar. Dengan kosmetik, hal itu tambah dibikin ribet karena Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) saja nggak cukup, tapi harus dikirim ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga. Nggak cuma ribet, I’m pretty sure those licenses comes with a fee to pay, too.

Alasan saya membawa topik ini ke ”permukaan” adalah karena saya sedih banget saat The Bath Box harus berhenti memproduksi produk skincare-nya karena masalah perizinan. Situs pertama mereka, thebathbox.co.id sempat diblokir sebelum sekarang beralih ke thebathbox.co. Saya sudah menjadi konsumen The Bath Box sejak awal bisnis mereka dimulai. Produk pertama saya? Sabun Goats Don’t Lie Original-nya dalam bentuk batangan (tidak diproduksi lagi) yang sukses mengusir dry patches di kulit badan saya, jerawat di kulit wajah saya, dan meratakan hiperpigmentasi bekas psoriasis di dahi atas saya. This product was like a miracle to me  dan dari awal mencoba, saya selalu repurchase, selalu nyariin! Kalau berhenti pakai sabun ini, hasilnya kulit saya (at least, kulit badan) kembali kering dan perlu moisturizer ekstra biar nggak muncul dry patches. Intinya, saya udah attached banget lah sama produk ini. Jadi saat produksinya harus dihentikan, saya sedih banget.

Screen Shot 2017-06-19 at 11.38.30 AMImage: The Bath Box

Sambil menunggu urusan perizinannya selesai, The Bath Box sekarang berjualan barang-barang lifestyle seperti stationaries, peralatan makan, kaos dan tas. Tetap berkualitas dan bagus sih, tapi pasti nggak bisa menggantikan skincare products-nya yang sudah jadi holy grail banyak orang. Kalau baca-baca komen di Instagram The Bath Box, pasti tersentuh banget deh, karena produk The Bath Box nggak cuma membantu beauty enthusiast yang suka produk natural, tapi juga orang-orang yang kulitnya butuh special treatment khusus, seperti saya. Saya cukup nyesel kemarin nggak sempet nyetok beberapa botol sabun Goats Don’t Lie di Jakarta X Beauty 2017. If only I knew they stopped selling soon after.

Jadi, inilah pesan saya untuk beautypreneur di Indonesia, yang hopefully didengar dan direalisasikan! Mungkin mengurus perizinan secara konkret belum masuk akal untuk bisnis-bisnis baru yang masih belum yakin kesuksesan brand-nya. Tapi kalau dalam satu tahun, respon konsumen terhadap produk kamu positif dan brand kamu punya ruang untuk berkembang, please prioritize this matter! Sayang kan kalau sudah punya consumer base yang loyal, tapi tersendat karena hal yang sebenarnya bisa dicegah dari awal.

BLP Lip Coat

Beautypreneur yang bisa dicontoh? Lizzie Parra! Kalau kamu bingung kenapa BLP Beauty by Lizzie Parra nggak buka booth di Jakarta X Beauty 2017 padahal Lizzie Parra-nya muncul jadi influencer, alasannya cukup simpel. Lizzie Parra sempat memberi bocoran sama tim FD sebelum Lip Coat barunya rilis kalau mereka bakal mengeluarkan Lip Coat dengan formula berbeda, yang artinya BPOM-nya perlu diperbaharui. Sayangnya, izin BPOM-nya belum keluar saat Jakarta X Beauty 2017 kemarin diadakan. Untuk menghormati regulasi, BLP Beauty nggak buka booth untuk jualan Lip Coat. To me, this shows integrity and Lizzie Parra’s commitment to the brand she is building.

Saya nggak mau meng-discourage brand-brand lokal untuk berinovasi. Saya malah punya ekspektasi lebih soal hal ini, karena saya pernah baca di sebuah artikel bahwa Indonesia termasuk negara yang terdepan soal kosmetik dibanding tetangganya di kawasan ASEAN, dengan nilai ekspor 11 triliun per tahunnya. Dengan kesempatan seperti ini, saya yakin bakal banyak indie beauty brands yang bermunculan di masa yang akan datang, jadi pastikan bisnis kalian sesuai regulasi yang sudah ditentukan ya!