Hani Gani, Dari 95 Kilogram Sampai Jadi Bodybuilder

Apa sih yang ada di kepala kita saat mendengar kata female bodybuilder? Pasti badan yang penuh otot, “serem” dan seperti laki-laki. Hani Gani can’t be further from that image

We are all beautiful and unique, dan itulah kenapa kita semua harus PD, merasa cantik, dengan bentuk tubuh kita masing-masing. Betapapun bedanya dengan stereotype di masyarakat. To celebrate our beautiful uniqueness, maka FD punya segmen artikel baru yaitu Body Love, yang akan mengangkat berbagai sosok wanita dengan body image unik yang tentunya inspiratif. Hani Gani seems fitting to start it :)

Perempuan yang juga berprofesi sebagai personal trainer ini penampilannya super feminin dengan rambut panjang, kulit wajah flawless dan senyum yang super charming. Nggak cuma itu, foto-foto di account Instagramnya pun sering menunjukkan Hani menggunakan baju-baju “cewek banget” and of course she looks hot in them.

Tapi, waktu liat foto-fotonya saat ikutan kompetisi Muscle Mania, nggak diragukan lagi bahwa dia adalah bodybuilder yang serius. Karena dunia binaraga ini sesuatu yang asing banget buat saya dan saya penasaran, janjianlah kami untuk ngobrol sama di Rai Fitness Senopati, tempat Hani latihan sehari-hari. Nggak kerasa satu jam lebih kita habiskan untuk ngobrol, mulai dari masa kecilnya sebagai anak yang obese, sampai soal ibunya yang sangat relijius dan shocked berat ketika tau dia ikut kompetisi bodybuilding.

Terlepas dari stereotype tentang binaragawan perempuan, there is no doubt that Hani is a strong, smart, beautiful woman worthy of being a role model or #fitspo.

Simak ya obrolan saya dengan perempuan super rame ini.

Hani Gani-4

Hey Hani. Is it true that you were once overweight?

“Iya dulu berat badan saya 95 kilogram.”

What? Terus gimana ceritanya tuh dari 95 kilogram bisa jadi keren banget badannya kayak sekarang?

“95 itu hari biasa loh. Kalau bulan puasa bisa 97 kilogram hahaha… Jadi saya dari SD emang udah gemuk banget. Inget kan jaman dulu kalo SD pas imunisasi kita ditimbang juga? Itu aja berat badan saya udah 61 kilogram pas kelas 6 SD. I was always obese. Puncaknya ya 95 kilogram itu.

Sementara kalau gemuk itu kan debilitating, pakai seragam sekolah aja pulang-pulang saya nangis karena sakit kakinya. Saya pengen kurus tapi nggak tau harus mulai dari mana. Terus ada temen yang nyaranin crash diet aja. Jadi saya setiap hari makan kerupuk ikan yang kecil-kecil itu, tiga biji dan minum Diet Coke. Turun lah berat badan saya sampai 80 kilogram. Ini ceritanya agak kurang inspiring ya hahaha tapi begitu udah ada jump start-nya, saya makin semangat. Kebetulan adik saya pacaran sama bodybuilder. Dia jadi sering ke gym dan ngajakin saya. Waktu itu umur saya 22 tahun. Awal-awalnya sih nggak pernah latihan, nampang aja sama cowok-cowok yang ada di sana hahaha. Tapi lama-lama, udah dateng ya udah sekalian aja belajar latihan.”

Hani Gani-2

Olahraganya apa tuh?

“Nah saya dari dulu nggak pernah ter-expose sama olahraga cardio. Ikut aerobik baru lima menit udah kepanasan dan nggak kuat. Jadi discouraged deh. Sementara kalau weight lifting itu kan sekuatnya dan bisa diselingi dengan ngobrol-ngobrol.

Tapi ternyata perubahan yang kecil-kecil itu pengaruh banget. Saya mungkin dulu cuma latihan satu gerakan tiap hari but I felt good, karena datang ke gym selalu ada temen untuk ngobrol. Daripada di rumah ngemil, mendingan ke gym walaupun nggak latihan, kan?

Nah pas nikah, suami saya kebetulan banget suka olahraga juga. Tapi walaupun dulu saya gemuk, dia nggak pernah bilang ‘Kamu gendut deh, olahraga dong.’ Nggak pernah nyuruh ikut. Tapi dia sendiri rajin latihan dan karena saya rutin nemenin, akhirnya saya juga makin seneng latihan.

Makanya saya paling sedih kalau misalnya ada yang nanya gimana caranya turun berat badan dalam dua minggu atau satu bulan? Satu bulan itu sebentar, lho. Apapun yang kita lakukan nggak akan jadi habit atau lifestyle. Yang penting you have to feel good first. Kan nggak mau kurusnya cuma sebulan. Start with small habits. Itu pasti ada gunanya.”

Nah sekarang kamu malah jadi personal trainer dan ikutan kompetisi bodybuilder. Itu gimana ceritanya?

“Awalnya ya karena orang-orang yang ada di gym ini sih. Awalnya saya seneng ke sini karena gym-nya kecil dan deket dari rumah. Terus mereka yang latihan di sini emang ikutan kompetisi,  jadi saya diajak-ajak. Pernah liat kan meme yang tulisannya ‘Your tribe attracts your vibe”‘ Emang bener sih, kita harus pilih temen-temen yang positif, mau apapun itu bidangnya.

Ade Rai sendiri juga lumayan hands onBodybuilding juga ada ‘dunia hitam’nya, misalnya pakai steroid. Ade Rai ini natural banget, itu yang saya seneng banget. Dia juga care banget dan ngingetin kita untuk nggak pakai obat-obatan dan ke gym, dan latihan itu dibuat seneng.

Hani Gani-5

Kalau jadi personal trainer itu karena dulu saya sendiri waktu gemuk ngggak tau mau mulai dari mana untuk bisa turun berat badan. Malahan ada yang nyaranin suntik lah, diet ini itu lah. Secara teori saya juga tau sih mesti olahraga dan diet, tapi olahraganya apa? Mulai dari mana? Jadi  sebenernya I just want to help my 17 year old obese self but also help other people hahaha.”

Kapan mulai ikutan kompetisi?

“Sebenarnya saya pertama kali ikut kompetisi dan menang itu adalah Mixed Martial Arts, Extreme Fighting Championship untuk perempuan. Nah kalau bodybuilding itu di tahun 2014 yaitu Muscle Mania Body Building Show di Singapura. Kenapa Singapura karena sebenernya saya nggak bisa compete di Indonesia karena keluarga saya lumayan relijius, dan kalo compete harus pakai bikini hahaha.”

Oya karena nama kompetisinya kalau nggak salah juga Bikini Body ya?

“Divisi bodybuilding cewek ini namanya emang agak scandalous yaitu divisi bikini. Padahal ini nama weight class, kayak kalau di tinju ada kelas bulu. Jadi ini tuh dinamakan bikini karena kelasnya lebih kecil dibandingin bodybuilder biasa. Sekarang banyak cewek yang badannya kecil-kecil dan nggak mau gede-gede banget. Nah itu ada lagi di bawah Bikini kelasnya, namanya Wellness.

Pas saya menang, dulu di Asia belum umum orang ikut kompetisi ini, jadi waktu saya balik ke Indonesia yang nawarin foto adalah majalah-majalah pria dewasa karena mereka mikirnya ini Miss Bikini padahal it’s a sport! Dan divisinya tetep bodybuilding, bukan yang seksi-seksi gitu. Jadi memang divisi ini agak dipandang sebelah mata karena namanya bikini.”

Hani Gani-3

Banyak nggak sih bodybuilder perempuan Indonesia?

“Banyak, dan atlit Indonesia itu bagus-bagus, lho. Kalau kita ikut kompetisi di Singapura sebenarnya kontestannya tuh orang Indonesia, saking mereka nggak ada atlitnya. Atlit-atlit yang dari gym di daerah itu bagus-bagus banget lho badannya. Padahal mereka di daerah dengan suplemen yang terbatas, makanan terbatas dan alat yang mereka pakai udah karatan dan udah jelek karena “buangan” gym di Jakarta.”

Apa tantangannya jadi female body builder?

“Susah sekali untuk cewek untuk badannya bisa jadi gede banget. Latihannya harus ekstra, makannya harus banyak. Salah satu challenge-nya lagi, kalau kita udah persiapan nih untuk compete, eh pas hari H kita haid, ya udah selesai. Karena kan seperti saya bilang, kompetisinya harus pakai bikini jadi kebayang dong nggak nyamannya gimana.”

Ceritain dong persiapannya kayak apa sih?

“Bodybuilding itu persiapannya tiga-enam bulan sebelumnya. Itu bisa membosankan banget latihan dan makannya. Training sebenernya boleh dibilang hampir sama sih. Kalau latihan biasanya tiga-empat kali seminggu, buat kompetisi mungkin empat-lima kali dengan durasi yang sama. Paling lama satu jam. Karena dalam tiga bulan, perbedaannya sebenernya adalah di pola makan.

Nah, pola makan itu yang berat banget. It’s not easy. Apalagi saat diet kita kan nggak ada tenaga buat latihan padahal harus latihan.”

Hani Gani-1

Dietnya kayak apa?

“Jadi kita harus perhatiin macronutrients (macros). Macros kita itu ada protein, lemak dan karbohidrat. Setiap hari protein dan lemaknya harus banyak banget. Carbs-nya dikit banget. Sementara kalau makan ayam tiap hari kan seret. Jadi kadang-kadang ayamnya saya blender, saking udah nggak kuat ngunyah.

Menunya sama setiap hari. Pagi, siang, malam makan ayam dan brokoli. Terus banyak juga yang nggak kuat harus cut sodium. Garamnya dikit banget. Jadi lemes kan efeknya.

Dulu saya bahkan ngikutin trik di mana minum air aja dijatahin. Itu ngaruh because you want that “dry” look. Tapi begitu udah lomba, di backstage gitu kita dikasih Oreo, coklat dan lain-lain, sekitar lima sampai sepuluh menit sebelum naik panggung. Jadi badannya kayak dikagetin dengan makan gula-gula tersebut dan keluar deh tuh urat-uratnya hehehe.

Bukan berarti orang yang compete itu semuanya sehat, lho. It’s still an industry. Tetap harus ada estetikanya dan showmanship. Sehat itu tanggung jawab diri sendiri. Makanya saya kaget banget waktu ikut kompetisi pertama kali, besokannya naik tujuh kilogram! Karena biasanya kan nggak minum air banyak, nggak makan garam.”

Kalau nggak lagi compete, what’s your day to day diet like?

“Karena dulu saya gemuk, saya udah coba semuanya. Dari atkins lah, akupunktur lah, vegan lah, bahkan ya yang ekstrim seperti bodybuilding diet. Itu semua nggak ada yang sustainable. Paling sustainable menurut saya adalah Paleo atau whole foods. As close as the natural sources as you can. Jadi harus berkesadaran dengan apa yang dimakan. Mau paleo, vegan itu pun bisa aja yang kita makan tetap junk.

Kalo simple carbs kayak roti, nasi dan lain-lain ya itu sih harus lah ya dihindari.”

Itu yang susah ya.

“I know! Hello, obese? (Menunjuk ke dirinya sendiri). But If you put three nutritionists in one room together, pasti mereka akan bilang beda-beda apa yang sehat dan apa yang enggak. Buat saya, kalau makan makanan yang paling dekat dengan bentuk aslinya, nggak akan salah deh. Kalau pilihannya roti atau ubi, ya pilih ubi. Kalau keripik kentang atau Cheetos, ya keripik kentang yang bentuknya masih kayak kentang hehehe.”

Imagenya female bodybuilder itu kan cewek-cewek yang “serem” sementara elo sendiri jauh dari image itu.

“Emang sih semua hal itu kan pasti ada positif dan negatifnya ya. Positifnya emang pasti kita akan ngerasa bangga ngeliat hasil kerja kerasnya. It’s empowering and addicting at the same time. Oh ternyata badan kita bisa berubah ya dan memang banyak yang akhirnya kecanduan.”

Hani Gani-7

Punya tips untuk perempuan yang mau fit dan nggak tau mulai dari mana? Pembaca Female Daily banyak yang usianya antara 25-35 tahun nih.

“Umur 25-35 tahun itu perfect age untuk start building muscle yang nggak overboard. Kalau kamu sukanya lari, coba deh digabung dengan weight training atau resistance training juga. Karena weight training di umur berapapun, gunanya banyak banget. Resistance training nggak perlu pake beban loh, nggak perlu di gym.

Kalau nggak tau mau mulai dari mana, give youself a PT session. Sepuluh kali aja. Tapi jangan males ya. Karena PT pasti mau kasih tau latihan-latihan yang benar. Abis itu lanjutin sendiri aja dan diinget apa yang harus dilakukan. Ask somebody to teach you, remember it and start educating yourself. Ultimately, it’s still your own responsibility.”