4 Tipikal Habit Buruk Pasien Dokter Kulit

Hari Minggu lalu, video Cara Melepas Ketergantungan dari Krim Dokter Kulit naik di Youtube channel FD. Seperti yang bisa ditebak, topik yang udah banyak di-request ini langsung mendapat ratusan comments dari penonton FD dalam waktu kurang dari 24 jam!

Sebagai orang yang langganan ke dokter kulit sejak SMA dan sempat beberapa kali ganti dokter, saya paham banget dengan segala concerns mengenai dokter kulit. Wajar banget kalau  yang paling ditakutkan adalah ketergantungan, karena memang selain faktor treatment dengan dokter kulit itu lebih mahal, pemahaman bahwa kita akan menggunakan krim dokter selama-lamanya sepertinya agak berat dibayangkan.

Tapi sayangnya, menurut saya banyak anggapan-anggapan yang salah kaprah seputar perawatan di dokter kulit yang membuat sang pasien justru semakin susah merencanakan “exit” mereka dari dokter kulit. Nah, kalau kamu memang mau lepas dari dokter kulit, tinggalkan empat kebiasaan buruk berikut ini!

12924597_10154173107302566_8222011680611715586_n1. Meminta Cara Instan untuk Melepas Ketergantungan

Saya sudah menulis komentar di video tersebut yang mention tentang hal ini, tapi sepertinya penting untuk diulang lagi. Pada dasarnya, nggak ada cara instan untuk melepas ketergantungan dokter kulit karena masalah kulit kita semua tentu berbeda-beda. Kalau memang cara melepas ketergantungan dokter kulit bisa dilakukan dengan minum jus tomat dua kali seminggu dan mandi kembang setiap jam delapan malam, saya yakin semua orang nggak akan pusing mencari solusinya. Masalah kulit yang bikin kita datang ke dokter kulit aja nggak bisa selesai secara instan, kan? Nah, begitupun dengan melepaskan ketergantungan.

2. Menganggap Enteng dan Berpikir Bahwa Semua Krim Dokter Sama

Ada banyak comment di video-video Skincare 101 yang menanyakan, “Kalau krim dokter itu dipakainya sebelum atau sesudah serum, ya?”, “Urutannya pelembap dulu atau krim dokter dulu, sih?” Nah, di sini saya berasumsi kalau mereka mencampur sendiri krim dokter dengan skincare over-the-counter tanpa sepengetahuan sang dokter. Karena, kalau memang dokter kulitnya membolehkan pasien mengkombinasikan krim-krimnya dengan skincare yang dijual bebas, pasti akan dijelaskan secara rinci urutan pemakaiannya.

Mencampur-campur krim seperti ini menurut saya nggak boleh dianggap enteng, karena biasanya krim racikan dokter punya konsentrat bahan aktif yang lebih tinggi dibandingkan skincare OTC. Karena itulah krim dokter nggak bisa dibeli tanpa resep karena pemakaiannya harus dalam jangka waktu tertentu, nggak bisa terus-terusan, dan WAJIB di bawah pengawasan dokter.

Baca juga: Krim Dokter Bikin Perih dan Gatal, Harus Apa?

3

3. Menolak Kembali Konsul ke Dokter Kulit

Ngerti sih, ada banyak faktor yang bikin pasien malas bolak-balik ke dokter kulit. Tapi balik lagi, saat memilih dokter kulit untuk menangani masalah kulit kita, pasti sudah banyak hal yang dipertimbangkan, kan? Alasan seperti “kliniknya jauh” atau “malas antri” menurut saya sudah nonsense, karena hal-hal seperti itu harusnya sudah dipikirkan sebelum kita memutuskan berobat dengan dokter tersebut. Buat apa juga berobat ke klinik hits kalau ujung-ujungnya malah bikin kita malas konsul karena terlalu jauh atau ramai?

Perlu diingat juga kalau kulit kamu harus dicek secara berkala dan dipantau progress-nya oleh dokter kulit. Saran saya, diskusi lah sedalam-dalamnya dengan dokter kulit kamu. Selain tanya soal kandungan apa yang ada di dalam krim yang kamu pakai, tanya juga apakah ketika kulit kamu sudah membaik, pemakaian krim-krimannya dilanjutkan atau tidak? Apakah boleh dicampur skincare OTC? Kapan kamu harus kontrol lagi, dan sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu hanya bisa dijawab oleh dokter kamu, dan seperti apa yang Affi bilang, memutuskan untuk berobat ke dokter artinya harus siap mengikuti anjurannya.

Baca juga: Ingin ke Dokter Kulit? Lakukan Dulu Hal Ini

4. Lebih Fokus ke Melepas Ketergantungan, Bukan Menyelesaikan Perawatan

Setiap kali saya share soal perawatan saya di dokter kulit, ada satu-dua orang yang bertanya, “Dokter A itu bagus ya? Bikin ketergantungan nggak?” Nah, menurut saya, berhati-hati sih boleh-boleh aja, tetapi saat kita memutuskan untuk berobat ke dokter, akan jauh lebih baik untuk fokus menyelesaikan perawatan secara tuntas dan konsul sesuai waktu yang dianjurkan ketimbang memikirkan bagaimana caranya lepas dari dokter kulit.

Kalau belum apa-apa fokusnya sudah melepas ketergantungan, bisa jadi begitu kulit sudah terlihat agak mendingan, kita jadi tergoda untuk mencoba-coba produk lain (balik ke poin 2). Jadi, tetap fokus pada perawatan saat ini dan jangan terpaku dengan konsep ketergantungan obat dokter.