Makeup Dupes: Alternatif atau Justru Pembajakan?

Se-mupeng apapun kita dengan produk high-end, kalau memang harganya nggak cocok, siapapun pasti akan mundur teratur. You can guess what happen afterwards: finding the right “dupes”!

Saya inget banget produk dupe pertama yang saya beli adalah e.l.f Studio Blush shade Candid Coral sebagai pengganti Benefit Coralista yang waktu itu sudah hit pan. Dari reviews yang saya baca, banyak banget yang bilang kalau Candid Coral ini warna dan finish-nya sama persis dengan Coralista. Mengingat harga Coralista saat itu sekitar empat ratus ribuan, saya pun semangat banget nungguin paket Candid Coral yang saya beli di online shop seharga 80 ribu-an aja.

collageKetika akhirnya barangnya datang, jeng jeng, warnanya nggak keluar sama sekali, produknya nggak mau nempel di brush, dan pas dipakai di pipi yang terlihat cuma sekelebat glitter keemasan aneh di wajah saya. Nggak ada mirip-miripnya sama sekali sama Coralista! I remember being so bummed about it. Bukannya senang karena sukses menemukan dupe, yang ada saya malah diketawain ibu saya karena dikira ketipu membeli makeup abal-abal. Ha! :D

Tentu nggak semua produk dupe ternyata gagal saat dipakai. Contoh sukses produk dupe antara lain adalah Sariayu Duo Lip Color 08 yang warnanya mirip Girlactik Allure, L’Oreal Infallible Pro Spray & Set yang jadi dupe Urban Decay De-Slick Setting Spray, atau Milani Stay Put Brow Color sebagai dupe Benefit Ka-Brow, dan masih banyak lagi. In the end, kualitas dan performa produk tetap menjadi fokus utama, jadi nggak cuma soal harga murah saja yang dijadikan pertimbangan. Kalau harganya jauh lebih murah dan ternyata kualitasnya mendekati atau bahkan sama persis, then you have found the perfect dupe!

Meskipun dupe tentunya menambahkan alternatif untuk kita para konsumen, tapi nggak bisa dipungkiri produk dupe yang miripnya plek-ketiplek bisa mengundang masalah dari pihak high-end brand. Baru-baru ini, Kat Von D “menghardik” brand yang sudah dikenal banyak membuat produk dupe, Makeup Revolution. Lewat akun Instagramnya, Kat membandingkan produk Shade + Light Eye Contour Palette miliknya dengan produk Ultra Eye Contour Light & Shade dari Makeup Revolution.

Screen Shot 2017-03-21 at 2.03.11 PMNggak perlu dipelototin pun semua orang sudah bisa lihat betapa miripnya kedua produk di atas. Bukan cuma namanya aja yang mirip (Shade + Light vs Light & Shade!), tapi pemilihan warna, sampai komposisinya pun bisa dibilang identik. Perbedaan paling menonjol tentu ada di harga, dimana palette Kat Von D dijual seharga $48 (Rp643.000,-) sementara palette Makeup Revolution dijual kurang dari setengahnya yaitu $15 (Rp201.000,-).

Sebagai tambahan, Kat juga membuat video di Youtube yang menegaskan tentang sikapnya terhadap respon negatif yang ia dapatkan di postingan tersebut. Kat menjelaskan bahwa bagaimana ide sebuah produk nggak hanya muncul dalam semalam dan banyaknya proses yang harus dilewati saat ia dan timnya sedang mengerjakan sebuah produk. Di video yang sama, Kat juga memperlihatkan proses kreatif yang ia kerjakan untuk Kat Von D Beauty, mulai dari desain logo yang ia gambar sendiri, testing station berisi puluhan shade produk dengan tekstur yang harus di-approve, sampai berlembar-lembar hasil photoshoot untuk materi promosi. Mengutip kata-kata Kat,

“It does feel strange that some people praised a company that would just blatantly rip off another company. There are a lot of great companies out there that are at a drugstore price point that create good quality products, but they don’t go around selfishly taking things from other people. 

I think this is also a great time to talk about pricing because people asked me, “Why don’t you lower your price so other people won’t dupe you?” I think what people should understand is that there is a certain price to pay for a certain quality.”

Seperti yang dikatakan Kat, ada banyak pro dan kontra tentang hal ini. Banyak orang yang membela Kat dan mengatakan bahwa “immitation is the highest form of flattery” serta bagaimana Kat nggak perlu khawatir dengan keberadaan brand seperti Makeup Revolution ini. Namun, ada juga komentar yang mengatakan bahwa meskipun mereka mengerti kemarahan Kat, tetapi faktanya nggak semua orang bisa membeli satu eyeshadow palette yang harganya “…hampir sama seperti dua tangki bensin”.

Nggak cuma soal harga saja, tetapi alasan bahwa brand sekelas Kat Von D seringkali sold out setiap baru launching juga merupakan salah satu alasan mengapa pembeli memutuskan untuk membeli produk dupes-nya saja. Sekarang, pertanyaannya adalah, apakah produk Makeup Revolution ini akan merebut konsumen Kat Von D Beauty?

Baca juga: Fenomena Kosmetik Palsu Sampai ke Mall

mur

Untuk menambahkan, Makeup Revolution sendiri memang sudah dikenal sebagai brand yang memproduksi produk-produk . Nggak cuma Kat Von D, high-end brands lain seperti Charlotte Tilbury dan Too Faced pun kena ditiru produknya oleh brand asal Inggris ini. Mengutip dari Allure, spokesperson dari Makeup Revolution mengatakan bahwa dupe adalah sebuah fenomena yang nggak bisa dihindari di dunia fashion dan beauty karena suka atau enggak, consumers love it! Sama aja seperti fast-fashion industry seperti Zara atau Forever 21 yang juga sering meniru baju atau tas rancangan desainer, it has been going on and on for years.

Seperti yang dikatakan Kat di videonya, tetap harus ada garis lurus antara dupe dan straight-up plagiarism. Dari ribuan formulasi foundation di luar sana, pasti lah ada yang mirip-mirip antara satu sama lain dalam rentang harga yang jauh berbeda. Begitu pun dengan lipstik, pensil alis, blush on, dan produk beauty lainnya. Yang dipermasalahkan Kat di sini adalah imitasi berlebihan atas sebuah produk yang tentu nggak main-main proses kreatifnya.

Saya pribadi, setiap kali belanja makeup memang nggak pernah sengaja mencari dupe dari high-end brands. Kalaupun saya suka produk drugstore A, ya purely karena memang saya naksir produknya, bukan karena produk tersebut mirip dengan produk B. Saya sih senang-senang aja kalau bisa menemukan produk dupe, tapi kalau kasusnya sama persis seperti Makeup Revolution ini, menurut saya sih, memang agak too far, ya.

Nah, bagaimana dengan kamu? Apakah kamu suka mengoleksi produk-produk dupe? Sampai mana batasan kamu dalam menilai suatu brand sudah kebablasan dalam menciptakan produk dupe? Share tanggapan kamu di bawah, ya! I would love to know all your thoughts!

Baca juga: Kylie Cosmetics Dituntut Kasus Hak Cipta