Makeup Lokal Indonesia Nggak Akan Maju. Kalau…

Dari sisi produsen, makeup lokal Indonesia lagi naik-naiknya. Gimana dari sisi beauty enthusiast alias kita para konsumen? Sudahkah menunjukkan “Aku Cinta Indonesia”?

Di salah satu video Skincare 101, Affi pernah bilang kalau senangnya lihat brand skincare lokal sekarang adalah pemainnya bukan itu-itu lagi. Pilihannya sudah lebih banyak, dan begitu juga dengan brand makeup. Nggak terpikir dulu kalau setelah pensil alis Viva atau  bedak Marcks, bakal ada big hit seperti lipstik Purbasari dan BLP Lip Coat.

Mestinya, dengan jumlahnya yang meningkat, makin mudah dong untuk cinta sama produk Indonesia? Namun ada beberapa sikap beauty enthusiasts yang menurut saya malah jadi hindrance untuk kemajuan industri kecantikan lokal. Kalau nggak diubah, skincare dan makeup lokal Indonesia malah nggak akan maju. Apa saja?

DSCF4780

Kritik Kita Menjatuhkan

Saya bisa ngerti kalau case-nya kayak segambreng pembeli Kylie Lip Kit yang ngomel di YouTube. Udah senggol bacok saat pesan di web, bayar shipping fee mahal, tapi barang baru sampai setelah dua minggu, dan saat komplain ke costumer service malah di-direct ke sosial media. I get it, karena mereka sudah bayar tapi pelayanannya nggak memuaskan. Namun gimana dengan kritik konsumen terhadap produk lokal yang, kalau kosa kata pilihan Dara, shaming?

Tim FD pernah stumbled upon kritik pedas terhadap makeup lokal Indonesia di sosial media, padahal pernah beli barangnya, atau berhubungan langsung dengan penjualnya pun, nggak. Memang nggak ada asap kalau nggak ada api. Orang nggak akan komplain kalau nggak ada alasannya, entah itu kekurangan dari sisi produk, materi promosi, atau customer service. Tapi bukan berarti harus shaming dan diumbar…beneran sedih banget saya lihatnya sebagai pemakai kosmetik lokal sejak zaman SMA.

Gimana kalau omongan pedas kita berefek discouraging terhadap brand? Apalagi bagi brand-brand indie pendatang baru. Sayang kan kalau belum-belum mereka jadi minder, lalu malah  nggak berkarya lagi?

Kritik boleh banget sih, tapi ya harus membangun dan santun. Lebih baik lagi disampaikan melalui e-mail costumer service mereka, atau kalau nggak ada, reach aja lewat DM sosial media.

Nggak Ada Demand Berarti

Ibarat di restoran, menu yang nggak laku akan ditarik dan diganti menu lain. Begitu juga dalam industri makeup. This I know for a fact dari hasil bertemu sejumlah orang dari brand. Setiap ditanya, “challenge-nya apa?” pasti akan dijawab dengan unek-unek mengenai pasar yang masih mendewakan produk buatan luar, sehingga permintaan untuk produk lokal, even dengan banjir brand indie, masih kalah dibandingkan produk luar negeri.

Cinta produk kecantikan lokal bukan berarti kamu harus ganti semua isi makeup pouch dengan produk lokal. Saya boleh cinta sama bedak Sariayu, tapi soal foundation juga nggak bisa tuh, disuruh beralih dari Estee Lauder yang udah cocok banget.

Menurut saya sih, orang cenderung mencoba produk lokal yang: 1. Dikeluarkan brand yang sudah akrab di telinga macam Sariayu, Make Over, Wardah, atau 2. yang lagi hip/ viral. The others in between? Gimana kita tahu kalau ada produk bagus dari brand lain? Ini dia pentingnya banyak eksplorasi saat jalan-jalan ke mal, atau bisa juga browse di forum FD atau FD Beauty Review. Ini dia cara saya ketemu Eau de Parfum Mustika Ratu yang wanginya unik dan enak banget. You might be surprised with hidden gems here and there!

Harganya Harus Selalu Dirt Cheap

Ini poin yang menurut saya masih ada di mindset banyak orang. Produk lokal = murah. Di atas 100 ribu, mendingan beli brand luar. Tapi apa iya harus begitu? Salah satu komplain banyak orang adalah packaging produk lokal flimsy, ringkih. Ehmm…agar harganya bisa murah dan masuk ke mass market, lebih baik yang ditekan kualitas packaging atau the actual product hayoo?

Nah, masalahnya, begitu ada produk lokal yang harganya tinggi sedikit, tapi packagingnya bagus, produknya bagus, website-nya informatif, orang tetap komplain kemahalan :( Ini banyak menimpa produk-produk brand indie. Perlu diingat kalau brand indie kan nggak bisa seperti brand komersil yang sekali produksi bisa jumlah besar, sehingga harga jual satuannya bisa murah. Mungkin 11-12 dengan kasus orang malas beli batik tulis asli karena harganya jutaan. Padahal satu potong kain itu dibuat oleh satu orang dengan tangan selama sebulan,  jumlahnya pun sedikit sehingga motifnya lebih eksklusif.

Saya juga bukan tanpa kritik terhadap brand lokal. Kesal juga kalau ada yang latah ikut tren bikin contouring kit lokal tapi hasilnya malah kayak eyeshadow shimmer warna bronze. Banjir liquid lipstick, tapi maskara atau concealer lokal belum kunjung ada yang oke. Hopefully, dengan kita sebagai konsumen mencoba lebih “akrab” dengan produk lokal, aktif juga memberi masukan, we can make small baby steps to improve our beauty industry :)