Beauty Assistant Menyebalkan, Bagaimana Cara Menghadapinya?

Meskipun sudah banyak membaca rekomendasi atau review di Female Daily (ehem), tapi setiap masuk ke suatu toko untuk belanja beauty products, seringkali kita meminta bantuan beauty assistant atau BA. Nah, kalau BA-nya nggak membantu, gimana?

Baru-baru ini, saya mendapat pengalaman customer service yang bisa dibilang “kena” banget. “Kena” dalam arti positif ya, karena saya belum pernah mendapat pengalaman seperti ini sebelumnya dan dari saya keluar toko hingga berhari-hari seterusnya, saya kepikiran dengan BA yang melayani saya pada hari itu.

Sebulan yang lalu, saat berkunjung ke Korea untuk liputan, saya sempat jalan-jalan ke Myeong-dong dan mampir ke toko LUSH. Mumpung tokonya nggak ada di Indonesia, saya pikir, puas-puasin aja deh, cuci mata di sana. Saat masuk toko, saya langsung disambut oleh seorang BA perempuan yang menyapa saya dengan ramah.

Dengan bahasa Inggris yang lancar, sang BA ini langsung mengajak saya ngobrol. Sebelum berangkat ke Korea, saya sudah di-brief oleh seorang teman yang bilang kalau BA-BA di sana itu cukup agresif dalam melayani customer, terutama di Myeong-dong yang notabene adalah surga belanja beauty products.

Hampir di semua toko yang saya masuki di Myeong-dong, saya langsung diintilin BA-nya dan diberi keranjang. Semua produk yang saya sentuh diberi penjelasan, ini untuk kulit kering, ini masker untuk jerawat, ini mengandung aloe vera, dan seterusnya.IMG_9371Kembali ke LUSH, BA ini belum menyerah ketika saya bilang hanya mau lihat-lihat saja. Ia tetap mengikuti saya dan nyerocos tanpa henti,

“So, whenever you’re shopping for skincare, what do you usually look for? I mean, what’s your biggest skin concern? For me, I always look for something to shrink my pores, but sometimes my skin also breaks out…”

This is a really great move. Mau nggak mau, saya terpancing untuk menanggapi karena caranya mengajak saya ngobrol seolah-olah seperti teman yang sedang belanja skincare bareng, bukan seperti pegawai toko yang sedang jualan. Meskipun diintilin, tetapi ia juga tetap memberi saya personal space sehingga saya merasa nggak terganggu diikutin terus.

Menyerah, akhirnya saya menjawab, “Umm.. I usually have problems with my oily skin.

Dengan mata berbinar-binar, si BA menyahut, “Problems with oily skin? Okay! Now if you could just sit here, please. I’m gonna grab some stuff that I think will be amazing for your skin.”

Sedetik kemudian, saya mendapati diri sudah duduk manis di depan kaca dengan rambut diikat ke belakang. Si BA kembali dengan membawa beberapa produk dan mengajak saya cuci muka dengan produk-produk LUSH. Saat itu saya agak ragu karena belum pernah mencoba skincare LUSH sebelumnya dan harus diakui, tiba-tiba “ditodong” untuk mini facial on the spot itu agak intimidating. Tapi ya sudahlah, sudah kepalang basah, saya ikuti saja maunya dia. Toh saya memang penasaran dengan produk-produk yang direkomendasikan.

Sembari melakukan massage di wajah saya, si BA memberikan insight tentang kulit saya. Ia bertanya tentang skincare routine saya, produk apa saja yang digunakan, dan menjelaskan kandungan-kandungan produk LUSH yang saya pakai. Nggak cuma itu, ia bahkan sempat mengekstraksi beberapa blackheads, lho. Benar-benar seperti lagi ada di beauty clinic. Hahaha :D

Yang saya suka dari BA ini adalah ia benar-benar mengerti tentang kulit dan menguasai produk. Dari caranya memberikan saran juga nggak dengan nada condescending atau judging, suatu hal yang sering banget dilakukan BA-BA di Indonesia.

“Kulit kakak kan jerawatan ya, jadi bagusnya pake produk A.”

“Kakak kan mukanya berminyak ya. Udah coba produk B belum, Kak?”

Ngerti kan maksud saya? Saya sering banget bertemu BA yang bukannya menanyakan skin concern kita dulu, mereka malah langsung point out hal pertama yang mereka lihat di kulit kita. Saya pribadi kalau diperlakukan seperti itu oleh BA, langsung jadi malas konsul dan mau cepat-cepat keluar toko saja.

Dari sudut pandang saya sebagai customer, saya akan merasa lebih terbantu dan dihargai kalau BA mau dengar dulu apa keluhan saya, dibandingkan langsung “didiagnosa” A-B-C dan disodorkan produk. I don’t know, is it just me or any of you feel the same way? :)

Satu hal lagi yang saya perhatikan dari si BA LUSH, ia sama sekali nggak pernah mengada-ngada tentang suatu produk. Setelah selesai mini facial, ia menawarkan beberapa produk makeup LUSH untuk dicoba. Sesuai dengan ekspektasi saya, ia langsung mengambil beberapa warna yang kira-kira masuk dengan skin tone saya dan mencobanya langsung di wajah saya. Setelah menyadari kalau shade individual nggak ada yang cocok, ia pun langsung “mengoplos” beberapa shade hingga voila, akhirnya ketemu juga shade yang cocok dengan kulit saya.

Ini juga salah satu concern saya untuk BA-BA Indonesia yang terkadang suka misleading tentang shade foundation. Meskipun nggak semua BA seperti ini, tetapi sempat ada beberapa kali saya iseng mencoba foundation yang shade-nya terlalu terang di kulit saya, lalu BA-nya bilang “Iya awal-awal pake emang putih kak, tapi lama-lama nyatu kok warnanya ke kulit.” Errh..

Bahkan pernah ketika saya dan Mama sedang mencoba-coba foundation di suatu counter brand high-end, BA-nya menawarkan shade foundation paling terang untuk Mama saya yang kulitnya sawo matang. Ketika saya bilang kalau ini shade-nya terlalu terang, si BA menjawab “Iya nggak apa-apa kak, kan nanti jadi keliatan cerah kulitnya.” *rolls eyes*

Kesimpulannya, kenapa saya bilang pengalaman saya dengan BA LUSH ini memorable banget, alasannya karena BA yang agresif itu nggak selalu menyebalkan, kok. Kalau pendekatannya benar, mau mengajak ngobrol dan mendengarkan keluhan saya tanpa langsung “nyalip“, apalagi men-judge dengan tone menyebalkan, saya juga pasti mau dengar kok.

I’ve never felt connected with BAs before, but this LUSH BA has taken customer experience to a whole new level. Ia juga nggak sungkan-sungkan bilang kalau produk ini itu nggak cocok buat saya, instead of iya-iya aja dan menyuruh saya membeli semua produk yang saya sentuh.

Sayangnya, saya lupa menanyakan nama BA LUSH di Myeong-dong itu. Sampai hari ini pun saya masih bersyukur bisa ngobrol-ngobrol dengan dia karena cleanser LUSH yang ia rekomendasikan, Herbalism, ternyata cocok banget di saya dan sesuai dengan yang dia bilang, bisa mengeksfoliasi lembut tanpa memicu iritasi pada kulit acne-prone. Yah, kalau saja ia nggak bekerja di toko LUSH Seoul dan LUSH ada di Indonesia, mungkin saya akan sering-sering mampir dan konsul. Hahaha.

Kalau kamu gimana? Pernah nggak ada pengalaman tak terlupakan dengan BA? Pengalaman baik atau buruk yang kamu nggak pernah lupa sampai sekarang? Share di comments ya! I’d like to know! :)