Ina Thomas Membuat Medina Kefir, Semula untuk Diri Sendiri

Sudah pernah dengar produk masker alami Medina Kefir, dong? Nah, nggak afdol rasanya kalau kita nggak kenalan langsung dengan Ina Thomas, si penemunya. Yuk, simak obrolan saya bersama Ina Thomas!

Ketika saya akhirnya berhasil mengontak Ina Thomas, kami pun sepakat untuk bertemu di sebuah café, pada suatu sore yang cerah. Sambil menunggu, saya pun melihat-lihat foto-foto cantik yang diunggah Ina ke akun Instagram pribadi. She always looks adorable…Ina Thomas selalu terlihat cantik, memesona, layaknya sosialita ibukota. Hmm, saya pun mulai menduga-duga: “Wah, nanti pasti Ina Thomas akan hadir dengan makeup cantik, boho dress karyanya (Oh iya, Ina Thomas juga desainer busana-busana cantik, bohemian dress) dan nggak lupa menenteng designer bag papan atas, macam Hermes nih!”

ina-thomas-fashionTapi 15 menit kemudian, bayangan saya tentang Ina Thomas yang bakal hadir menemui saya, dengan penampilan bagaikan sosialita papan atas itu, terhempas dan sirna seketika! “Hallo, Mba, apa kabar? Saya, Ina,” kata perempuan cantik, yang hadir dengan wajah flawless look, bergaya casual: memakai kaos dan rok panjang yang terlihat nyaman, serta hanya menenteng tas kulit biasa. Ya, Ina Thomas, istri dari Jeremy Thomas, aktor ternama ini, ternyata saat dijumpai dan diajak ngobrol, sangat ramah, membumi, sederhana dan punya kepedulian sosial yang tinggi pada sesama! Penasaran ingin tahu apa sih motivasi Ina Thomas membuat Medina Kefir? Bagaimana bisnis ini dijalankan? Yuk, simak obrolan saya dengan the one and only, Ina Thomas.

Ina-Thomas Apa sih sebenarnya Kefir ini?

Kamu bisa googling sendiri kok tentang asal-usul Kefir ini. Ada yang bilang Kefir ini diperkenalkan pertama kali oleh Nabi Muhammad kepada masyarakat Kaukasus. Jadi, kalau saya cari di google, sejarah awal mula adanya kefir atau susu fermentasi ini diperkirakan sudah dikenal sejak 6.600 SM oleh masyarakat di kawasan Timur Tengah yang hidup secara nomaden atau berpindah-pindah. Nah, mereka biasa membawa susu yang disimpan di dalam kantung dari kulit kambing, sebagai perbekalan. Pengembaraan di bawah terik matahari dengan membawa kantung susu tersebut menjadikan aktivitas mikroorganisme yang ada pada kulit kambing (sebagai kantung susu) memfermentasi susu menjadi gumpalan (curd). Ternyata para pengembara yang mengonsumsi susu fermentasi tersebut secara terus-menerus, secara tidak sengaja, memberi manfaat kesehatan dan juga umur panjang. Begitulah kira-kira awal dikenalnya produk susu fermentasi atau kefir.

Nah, bagaimana dengan kamu? Kapan mulai berkenalan dengan kefir? Apa yang mendasari Ina membuat masker kefir?

Saat masih muda dulu, saya termasuk perempuan yang doyan banget pergi ke dokter kulit. Sejak umur 23, saya sudah mulai memakai berbagai krim-krim perawatan wajah dari dokter. Sementara banyak dari krim-krim wajah tersebut yang mengandung hydroquinone. Saya pun memakainya dalam jangka waktu yang panjang. Selain itu, saat muda dulu saya suka banget menjalani chemical peeling agar kulit wajah jadi kinclong seketika. Nah, padahal setelah itu, saya suka banget sun bathing. Hingga akhirnya menginjak usia 40an sekarang ini, kebiasaan tersebut membawa efek buruk pada kulit saya. Kulit wajah saya dipenuhi dengan flek-flek hitam berukuran besar, sehingga di wajah saya seperti muncul “pulau-pulau”. Saya sempat menjalani laser lagi untuk menghilangkan flek-flek hitam itu, pakai krim pengelupasan, tapi tetap saja tidak bisa hilang sempurna. Huhuhuuu…boleh dibilang itu adalah my darkness time! Walau suami tidak pernah complain tentang hal itu, tapi saya nggak pede sendiri. Tahu nggak, bila keluar rumah, saya harus pakai concealer, ditutupi lagi dengan foundation tebal, lalu sengaja saya menata rambut ke depan agar menutupi area pipi dan dahi. Duuuh…ngeri deh kalo inget kulit wajah saya dulu.

ina-thomasBefore-After: Kondisi kulit wajah Ina Thomas sebelum dan sesudah pakai masker kefir. Source: Instagram 

Efek lain dari perawatan kulit serta pemakaian aneka krim wajah yang kelewat agresif itu juga malah membuat kulit saya sangat kering. Kemudian, ketika di Amerika, seorang teman yang seorang cancer survivor mengenalkan saya dengan air dan susu kefir. Dia merasakan manfaat dari mengonsumsi kefir, antara lain stamina tubuh jadi lebih baik dan jadi jarang sakit. Waktu pertama kali meminum air kefir itu, karena tidak paham cara mengonsumsinya yang tepat,  saya minum sebanyak-banyaknya, hahahaaa…padahal air kefir itu hanya boleh diminum ½ gelas per hari. Akibatnya, setelah minum air kefir terlalu banyak, saya malah jatuh sakit, tepar.

Nah, lalu saya pun cari tahu tentang kefir. Di Amerika, saya pun mengambil kelas khusus tentang kefir, tentang nutrisi. Saya jadi paham bahwa di dalam kefir itu terdapat 5000 prebiotik yang sangat baik bagi tubuh. Kefir juga dapat meremajakan sel-sel tubuh, mendetoks liver dan memiliki antioksidan yang tinggi. Kemudian, saya merasakan manfaat baik dari mengonsumsi air kefir dan susu kefir, saya iseng mengoleskan susu kefir ke wajah. Awalnya memang bruntusan, karena sebenarnya pada saat itu, kefir sedang mendetoks pengaruh bahan kimia pada kulit wajah. Kemudian dari pengetahuan yang saya dapat, beberapa bahan natural akan memberi manfaat lebih atau menutrisi kulit bila dicampur dengan kefir. Dari situlah awal mula lahirnya Medina Kefir. Murni, awalnya saya membuat masker kefir itu untuk kepentingan diri sendiri, karena ingin menghilangkan flek-flek hitam di wajah.

Lalu, bagaimana kelanjutannya hingga kamu membuat produk masker Medina Kefir?

Setelah beberapa waktu memakai masker kefir, saya melihat flek-flek hitam di wajah saya mulai menghilang, yang mana efeknya sama sekali nggak pernah terpikirkan oleh saya. Beberapa teman dekat pun melihat perubahan signifikan pada kulit wajah saya. Mereka pun tertarik memakai masker kefir buatan saya. Nah, awalnya saya nggak terpikirkan sama sekali menjadikan Masker Medina Kefir ini sebagai bisnis.

Bahkan awalnya saya nggak pernah juga memikirkan logo maupun membuat 6 jenis masker. Semua terjadi secara alami. Awalnya, logo Medina hanya berupa tulisan nama saja. Nah, logo berupa siluet perempuan dari samping itu juga tercipta tanpa sengaja. Saat itu, saya sedang bereksperimen, mencampur kefir dengan biji rumput warna hitam. Kemudian, saya foto saja hasil adukan setengah jadi itu, kemudian saya kirim ke kakak. Dia lah yang mencermati bahwa hasil adukan saya itu seperti wajah seorang perempuan dari samping.

medina-kefir-masker

Lalu kakak bilang, ‘Ah ini cocok nih jadi logo Medina!’ Nama Medina sendiri terinspirasi dari kota Madinah yang merupakan sebuah kota suci. Medina juga terdengarnya sebuah nama yang feminin, kan? Lewat Medina ini, saya memang ingin berbuat banyak kebaikan untuk sesame. Dengan nama Medina, produk masker kefir ini memang bisa menjadi harapan bagi mereka yang mengalami problema pada kulit wajah untuk jadi lebih sehat, lebih halus, lebih kinclong.

Di tengah acara ngobrol akrab tersebut, tiba-tiba Jeremy Thomas, sang suami muncul dan akhirnya ikut nimbrung. Pasangan suami-istri ini tampak kompak dan sehati dalam mengembangkan Medina Kefir.

Bagaimana ceritanya Medina Kefir Mask berkembang jadi seperti sekarang ini? Nah, kali ini Jeremy Thomas, sang suami pun ikutan menjawab pertanyaan tersebut.

ina-thomas Source: Instagram

Medina Kefir Masker ini memang unik. Ina awalnya membuat untuk kepentingan dirinya sendiri. Eh, dari mulut ke mulut, akhirnya produk ini berkembang, dan sekarang jadi dijual secara online. Bisnis Medina Kefir ini tumbuh secara alami dan memberi pekerjaan baru pada banyak orang, lho! Medina Kefir ini memberi economy added value, menciptakan lapangan kerja dan solusi bagi banyak orang.

Ina, boleh dong share, apa saja sih isi dari Medina Kefir? Apa yang membedakannya dari produk serupa yang kini tiba-tiba bermunculan bagai jamur di musim hujan?

Saya menganggap kefir itu sebagai kehidupan. Kefir ini hidup, bila diperlakukan dengan baik, maka dari setitik bibit kefir, kamu bisa melipatgandakannya. Kini, saya  membuat kefir ini juga untuk misi social, yaitu menolong para perempuan yang ingin punya penghasilan tambahan untuk menjadi reseller. Dan, proses menjadi reseller Medina Kefir sendiri juga tidak pernah promosi, tapi para reseller kami, ya para pemakai yang sudah merasakan khasiat produk ini. Kemudian, sebagian keuntungan dari usaha ini, saya sumbangkan juga untuk kegiatan menyantuni anak yatim-piatu, membantu sesama yang kurang beruntung hidupnya.

Sekarang ini lumayan banyak ya yang ikut membuat masker kefir, bahkan ada juga selebriti yang ikutan. Tapi, saya yakin Medina Kefir nggak bisa dikalahkan baik dari segi kualitas maupun harga. Mengapa? Dari segi kualitas, hingga kini masih saya atau kakak saya sendiri yang meramu produk masker ini. Hanya saya yang tahu takaran pasnya. Kemudian bahan-bahan yang dicampurkan ke dalam kefir, antara lain sarang burung wallet, madu, kolostrum susu kambing Ottawa, dan lain-lain kebanyakan, saya dapat secara gratis dari kakak yang kebetulan memang punya bisnis peternakan dan perkebunan. Bahan-bahan tersebut bila harus beli, tentu saja akan membuat masker kefir buatan saya jadi sangat mahal, lho!

ina-thomasIna Thomas bersama Valerie, putrinya. Source: Instagram

Bagaimana rencana pengembangan Medina ke depannya?

Saat ini putri saya sedang membuat makeup berbahan natural, yaitu bedak dan lipstick. Ini saya pakai produk buatannya bedak dari bubuk jagung. Jadi ke depannya, Medina juga akan memiliki lini makeup natural.

Boleh tahu produk-produk skin care dan makeup andalanmu?

Setahun belakangan ini, saya hanya memakai masker Medina. Membersihkan wajah dengan sabun Medina, memakai moisturizer Medina dan pakai sunblock. Kemudian di malam hari saya pakai masker Medina yang dicampur dengan ekstrak lidah buaya dan kaviar.

Bagaimana dengan kamu? Sudah pernah coba Medina Kefir Masker? Yuk, tulis review di beauty review atau leave your comment on the section below!