9 Hal Paling Menyebalkan yang Dialami Makeup Artist

Suka menggunakan jasa makeup artist untuk hari spesial kamu? Wisuda, pesta ulang tahun, bachelorette party, menjadi bridesmaids, atau pesta pertunangan, mungkin? Nah, pernah nggak kamu melakukan satu dari sembilan hal ini? Hati-hati lho, bisa-bisa makeup artist-nya jadi bete! :D

Screen Shot 2016-02-24 at 3.47.35 PMPasti sudah pada kenal dong, dengan Gyanda (@andaws)?, video producer Female Daily yang juga seorang makeup artist. Video-video tutorial yang ia buat seperti Sweet & Dramatic Graduation Makeup dan Valentine’s Day Makeup with Urban Decay Naked 3 sudah banyak sekali ditonton di Youtube channel kami. Kalau kamu belum nonton, wajib banget klik videonya sekarang juga. :)

Nah, kemarin saya ngobrol-ngobrol dengan Gyanda seputar pekerjaannya sebagai makeup artist. Dari cerita-cerita Gyanda, ternyata sering lho, ada kata-kata atau perlakuan dari klien yang terkadang membuat sang makeup artist menjadi gerah, risih, atau bahkan tersinggung! Nah, kira-kira apa saja tuh, ya? Penting nih dibaca, supaya kita tidak menjadi klien yang menyebalkan!

1. Menanyakan rate lalu hilang

“Aku sering banget dikontak oleh calon klien dan ditanyai info soal rate. Beberapa bisa langsung oke, tapi ada juga yang setelah aku kasih tau rate aku, chat-nya cuma di-read aja dan nggak dibalas lagi. Aku nggak apa-apa kok kalau memang nggak jadi, tapi kan at least bisa bilang terima kasih atau basa-basi, ‘Okay, aku pikir-pikir dulu ya.’ Kayaknya kan lebih enak aja gitu, daripada tiba-tiba langsung hilang tanpa jejak.”

2. Disuruh menyebutkan produk apa saja yang dipakai

“Makeup artist itu kan pasti punya banyak produk ya, jadi sepertinya nggak mungkin kalau kita sebutin satu-satu produk apa saja yang dipakai,” jelas Gyanda. “Jarang banget ada makeup artist yang bisa pakai satu brand untuk seluruh muka.”

Masuk akal sih, menurut saya, karena makeup artist zaman sekarang kan juga jauh lebih kreatif. Bahkan ada yang mencampurkan 2 warna foundation dari merek berbeda untuk mendapatkan warna yang cocok untuk kulit klien.

“Buat aku, lebih baik ditanya “Makeup-nya mostly high-end atau drugstore?” daripada disuruh menyebutkan produk, karena memang ada makeup artist yang membedakan tarif antara makeup dengan produk-produk high-end dan drugstore,” tambah Gyanda.

3. Menawar harga berdasarkan ketebalan makeup

Ternyata ada lho, orang yang menawar harga lebih murah karena “minta makeup-nya tipis-tipis saja.” Menurut Gyanda, permintaan seperti ini seolah hanya mengukur jasa mereka hanya diukur dari tebal atau tidaknya hasil makeup yang diinginkan.

It doesn’t work that way. Mau tebal ataupun tipis, tentu jumlah makeup yang diaplikasikan akan disesuaikan dengan wajah sang klien. Tarif makeup juga kan pasti berbeda-beda, ada tarif makeup party, lamaran, photoshoot, wedding, dan lain-lain. Semua disesuaikan dengan acara yang akan didatangi. Jadi tebal atau tipisnya makeup nggak ada hubungannya dengan tarif yang diberikan oleh MUA.”

4. Ditanya makeup yang digunakan asli atau palsu.

“Kayaknya nggak butuh dijelasin lagi deh, kenapa ini nyebelin banget!” kata Gyanda sambil tertawa. Oke, paham banget, kok. :D

Klik, untuk tahu hal menyebalkan lainnya!>>