Resep Dhyoti Basuki, Head of PR Intel Sukses di Bidang Laki-Laki

Berlatar belakang pendidikan hubungan internasional, Dhyoti Basuki sekarang jutru sukses menjadi Head of PR & Digital Intel. Apa rahasianya bisa sukses keluar dari comfort zone, di bidang pekerjaan yang “laki” banget?

“Elo? Cewek? Masuk IT? Emang ngerti?” begitu kata teman-teman Dottie, panggilan akrab Dhyoti Basuki, begitu perempuan ini memutuskan bergabung dengan Intel tujuh tahun lalu. Maklum, selain bidang IT (information technology) identik dengan lagi-laki, pengalaman Dottie sebelumnya selalu menangani consumer goods. Tapi, Dottie pun menjawab dengan fearless, “Oh, watch me.”

Terbukti, kreativitas Dottie berjasa dalam mengubah image Intel di media, sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat biasa yang “buta” teknologi. Yuk, simak obrolan saya selengkapnya dengan Dhyoti Basuki.

dhyoti-basuki-intel-featured-1

Katanya ada cerita lucu saat akan bergabung dengan Intel?

“Jadi, tujuh tahun lalu, aku ditelepon pihak Intel dari Malaysia. ‘We are looking for a head PR for a semiconductor company.’  Aku nggak ngerti kan saat itu; semikonduktor? Lalu dia bilang, ‘Semiconductor, you know, processor?’ Jadi ternyata itu sebutan resminya untuk prosesor. Aku bilang sama bosku, “Are you sure? Because I’m not a tech person, I don’t do tech talks and all that,”, aku hanya mengerti gadget dari sisi pemakai aja.

Lalu dia menjawab, bahwa justru orang seperti akulah yang mereka cari, ‘creative crazy people from the consumer industry that can explain Intel’s technology with everyday language.’ Oke deh kalau begitu, I’m game!

Lalu perubahan apa yang kamu lakukan sebagai Head of PR?

“Kita harus bikin PR event yang consumer friendly, gimana caranya bikin ‘bahasa teknologi’ ini dimengerti masyarakat lewat wartawan lifestyle dan bisnis. Aku pakai bahasa analogi, seperti ibarat kopi, desktop itu adalah espresso yang ‘kenceng’, sedangkan notebook yang easy to carry itu, ibarat  latte. Sama-sama kopi, tapi lebih ringan.

Lalu, cara menjelaskan ke wartawan lifestyle, isi komputer tuh apa sih? Agar mereka mengerti, aku  ibaratkan prosesor dengan walk in closet. Memori komputer itu ibarat tempat masukin sepatu-sepatu, lalu prosesor itu seperti kunci lemarinya. Kalau nggak ada kuncinya, nggak bisa akses yang lain, kan? Seperti itu.”

Exactly. Ada kesulitan berkarier di bidang IT sebagai perempuan?

Dulu, IT is a men’s world. Tapi mulai 2012 itu, sudah mulai banyak perempuannya. Presiden Intel yang baru resign, Renee James, dia cewek lho. Mulai dari PR technical sampai di pabrik, sudah banyak juga cewek di bidang IT ini. Justru karena kita perempuan, interpretasi kita lebih consumer, mudah dimengerti, nggak seperti laki-laki yang lebih technical.

Dengan pengalaman dua belas tahun sebagai PR, apa rahasianya bisa menangani berbagai klien dan perusahaan berbeda yang bertolak belakang?

“Keep an open mind. Sebelum bersama Intel, aku empat tahun di brand susu. Kalau sudah mati gaya, aku senangnya turun ke pabrik, ketemu sama orang lab yang campur-campur bahan like a magician. Kita nggak tahu, kan, bapak di pabrik itu sudah tahu apa saja, dari zaman mengepak produk pakai tangan, sampai sekarang tinggal pencet-pencet tombol.

Jadi, siapapun yang kamu temui, keep an open mind, you’ll learn something from them. Even your Go-Jek driver can teach you something.”

Apa pesan untuk perempuan-perempuan agar nggak takut mencoba bidang pekerjaan baru?

“Berani aja. Jangan sedih, dulu aku kan juga nggak ngerti IT. Kalau berani, kita jadi lebih kuat. Kalau memang nanti pada akhirnya nggak suka bidang itu, ya sudah, you don’t have to do it again. Kan passion orang beda-beda.

At the end of the day, it will enrich you professionally and personally.”