Melihat Kecenderungan Modest Fashion Trend Tahun 2016

Tahun 2016 sudah di depan mata, modest fashion seperti apa yang kira-kira yang akan jadi trend?

Beberapa tahun lalu, menjelang pergantian tahun yang selalu dinanti adalah tayangan kaleidoscope, rangkuman kisah, berita yang menjadi sorotan selama setahun ini. Jaman bergerak, tren pun beranjak. Kini, era digital telah mengambil alih, jelang akhir tahun yang menjadi bintang adalah Google Statistic. Ia menjadi “gudang” dunia, world archive yang akan menguak apa-apa saja yang paling banyak tersimpan di dalamnya, selama setahun ini. Dan google list “The most.. of 2015″ ini yang kini lebih mewarnai akhir tahun kita semua. Statistik yang dikeluarkan Google sekali dalam setahun ini yang paling dicari dan dinanti.

 And when it comes to fashion, meskipun ini belum masuk dalam top search, saya yakin salah satu query yang akan banyak dicari pada awal tahun nanti adalah “trend 2016″.

Bicara trend fashion, istilah “trend” itu sendiri sekarang menjadi sesuatu yang unpredictable. People keep asking those designers, “Menurut Anda bagaimana tren di tahun 2016″?. And none of them answer the same. Yes, they create something based on certain inspiration, with a bit of expectation the collection will create some kind of ‘fashion trend’, a stream which many people will ride.

 Intinya, trend baru yang visible muncul karena pada dasarnya penyuka fashion, generasi muda selalu ingin mengembangkan identitas yang berbeda daripada orang lain. Begitu juga seorang desainer yang kerap disebut trend setter, mereka selalu berusaha menciptakan sesuatu yang berbeda, baru, dan inovatif. Tetapi jamaknya, tidak ada satu-dua elemen besar yang sama yang menjadi patokan atau acuan. Semua cenderung mencari identitasnya sendiri-sendiri.

Kini, jaman digital arah tren fashion sangat dipengaruhi oleh influenced people, mereka yang dalam sorotan di dunia digital, ataupun sosial media. Pelaku industri fashion cenderung sangat adaptif untuk menangkap apa-apa yang sedang digemari saat itu, berdasarkan current situation, bukan prediksi. Faktor-faktor penentu tren sangat bersifat sporadis, random, dan seperti yang saya sampaikan sebelumnya, unpredictable.

 Tetapi jika ada yang mengatakan bahwa ‘trend is something absurd, there’s no such thing’, I strongly disagree. Look how we can obviously see what’s favorable now, compare to last year. Misalnya celana kulot yang kini banyak diminati. Tahun lalu, tidak kan. Tetapi saya sangat setuju bahwa tren fashion itu selalu berulang. Tidak ada sesuatu yang baru, benar-benar baru. Fashion is always a fusion, mixture, dynamic. Dan yang membedakan saat ini dengan jaman dulu, kini tidak ada lagi major tren. Everything comes in small portion, yet still noticeable.
Now lets talk about modest fashion, yang akan kita kupas ‘perkiraan’ trennya di 2016 (saya akan lebih banyak menggunakan istilah modest fashion, dibanding muslim fashion. Tetapi intinya sama).
Akhir tahun 2014 lalu, seperti yang sangat jelas terbaca, bahwa unsur mode berwarna monokrom dan netral seperti hitam-putih-abu akan sangat mendominasi, dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tetapi ternyata bahwa kita -pada saat itu- luput menangkap tren yang ternyata sangat digemari di tahun ini, longer hem. Longer hem ini berarti bahwa kecenderungan modest fashion adalah batas baju yang lebih panjang, bila sebelumnya sebatas paha hingga di atas lutut, maka kini sebatas panjang di bawah lutut hingga betis, atau bisa disebut midi dress.
tren2

searah jarum jam: Maima Indonesia, Itang Yunasz, Khanaan Shamlan, Amber Feroz, Ria Miranda, Diana Nurliani

Jakarta Fashion Week 2016

Dian Pelangi x LCF

Ini unik, dan bisa disebut, modest/muslim fashion exclusive. Memang benar bahwa potongan ini identik dengan tunik, tetapi tunik yang biasa kita temui biasanya hanya sepanjang atau sedikit di bawah lutut. Midi dress yang kini sangat digemari, memiliki panjang sekitar sebatas betis, berpotongan longgar/loose dan masih didominasi oleh warna-warna monokrom dan material relatif berstruktur. Try to find this kinda item in mainstream fashion store, kita tidak akan menemukannya.

Siluet ini menandakan kesadaran dan keinginan untuk berpakaian dengan lebih bersahaja – modest – dan lebih comply dengan apa yang ditentukan syariat. Tetapi total looknya tetap busana 2 pieces, yang terlihat lebih modern, muda, dinamis dan membuka ruang untuk padu padan.
And then, how about next year, 2016? Saya cenderung ‘got the point’ dan sepakat dengan Restu Anggraini, ketika ditanya bagaimana kecenderungan mode muslim tahun mendatang, mengatakan bahwa modest wear akan lebih bersifat fungsional, mengutamakan fungsi. Maksudnya kira-kira seperti ini. Motivasi seseorang berpakaian tertentu salah satunya adalah untuk mengekpresikan diri. Ekspresi fashion ini bisa jadi diwujudkan dengan item-item yang menurut kita bagus, modern, berkelas, distinctive, dan lainnya. Dalam praktiknya, kita bisa saja memakai padu padan busana yang bersifat ‘estetis’ saja, seperti tambahan layers, atasan dengan bahan yang berstruktur tebal, material bertekstur unik, atau cropped top sebagai layers, dll.
Ke depan, tampaknya modestwear akan bergeser dari kecenderungan busana yang lebih estetis ini, kepada item-item busana fungsional, yang lebih menekankan pada fungsinya. Misalnya busana kerja, item-itemnya adalah yang mendukung tampilan profesionalitas, secara praktis. Semua itemnya -atasan, bawahan, outer- serve its purpose (potongan clean look yang menampilkan profesionalitas, material yang cukup teba untuk menahan dinginnya AC, dll). Kemudian, misalnya atasan dengan garis leher yang lebih tinggi, lingkar dada yang cukup longgar, sehingga atasan tersebut sudah dapat berfungsi menutup secara sempurna. Pemakaian bahan yang tepat, misalnya tidak menerawang, untuk menghindari memakai manset atau dalaman yang akhirnya kurang praktis.
Fungsional clothing ini selanjutnya akan lebih menegaskan perbedaan antara desain-desain non-modest atau mainstream fashion, dengan modest clothing. Ungkapan ‘ini juga bisa kok untuk baju muslim, tinggal tambah manset atau legging’ sudah hampir tidak berlaku lagi, karena memang siluet modest clothing yang berbeda. We do dress differently. Well, tentu saja pasti masih banyak yang bisa kita pakai atau beli di toko busana umum. Pernyataan di atas hanya menekankan pada tren yang bergeser.
tren1

Novierock – Rani Hatta – Restu Anggraini

ikyk2

I.K.Y.K

Lebih bersifat fungsional, bukan berarti looknya cenderung ‘plain’ dan klasik. Tantangan bagi desainer untuk menghadirkan functional wear yang juga stylish, detailed dan one of a kind. Karena itu mereka yang mampu berinovasi lebih dan mengeksplorasi apa yang menjadi kekuatan desainnya, akan diminati. Eksplorasi ini bisa melalui penciptaan motif yang khas, permainan tekstur dan detail.

Bercermin dari event mode utama Indonesia, Jakarta Fashion Week, young emerging muslim desainer masih yang paling dilihat dan diperhatikan oleh para modest fashion enthusiast (hijabers dan pemakai busana muslim). Dari keseluruhan tema, ide dan look, para perancang muda ini selalu membangun kesan muda dan dinamis, praktis dan sangat stylish. Look busana yang berstruktur dan mengarah ke gaya androgini masih akan sangat diminati, seperti tampak pada rancangan Rani Hatta, Novierock dan Restu Anggraini. Walaupun pilihan ready-to-wear nantinya akan lebih variatif, tidak sekedar hitam-putih-abu. Warna-warna seperti olive, army green, dusty colors dan turunan biru juga akan banyak dipilih, misalnya pada koleksi Maima Indonesia dan I.K.Y.K.

 So excited bukan membuka hari di tahun yang baru? Well take it slow, rejoice each and every moment that we have, mumpung masih suasana liburan dan meriah di penghujung tahun ini.