Koleksi Dian Pelangi yang Menjadi Buah Bibir: COIDENTITY

Jakarta Fashion Week sudah berlalu hampir satu bulan, tetapi menjelang tahun yang baru, percakapan dan referensi fashion Indonesia masih mengacu pada event tahunan fashion terdepan ini. Paling tidak hingga kuartal pertama tahun 2016 nanti.

Dari sekitar 200 peragaan koleksi yang berlangsung, tentu ada beberapa yang saya favoritkan, atau menurut saya unggul di antara yang lain. Hampir lupa menuliskan tentang hal ini sampai saya membaca sebuah liputan dan opini di sebuah majalah dwi mingguan.

Jakarta Fashion Week 2016

Nelly Rose, Dian Pelangi, Odette Steele

 

Show yang cukup mendapat sorotan untuk lini modestwear -porsinya sudah hampir sama dengan lini busana umum- adalah peragaan koleksi Dian Pelangi¬†“Coidentity”. Ini adalah koleksi Dian yang berkolaborasi dengan dua desainer tekstil lulusan London College of Fashion, Odette Steele dan Nelly Rose. Proses kerjasama ini memakan waktu yang cukup panjang sejak Maret 2015 lalu, dan melibatkan eksplorasi perpaduan teknik-teknik tradisional yang sangat ekstensif.

Seperti namanya, Coidentity, koleksi ini memang menjadi perwujudan perpaduan budaya dan identitas yang melekat pada dua desainer magang ini, dengan identitas Dian Pelangi yang sudah ada selama ini. Keduanya yang berasal dari Inggris dan Zambia, tidak dipungkiri benar-benar memberikan nuansa dan percikan baru pada koleksi.

Nelly memberikan sentuhan grafiti dan motif print modern-abstrak yang sering terlihat pada tatanan urban Eropa, dan Odette menuangkan tabrak warna-warni bold serta sulaman khas Afrika. Keduanya yang memang memiliki basis tekstil berekplorasi secara luas dengan teknik batik, bordir dan payet yang out-of-the-box. Surprisingly, gaya dan arahnya sangat selaras dengan karakter Dian yang selalu ekpresif menampilkan warna dan motif.

Dalam review salah satu media tersebut, penulis menggambarkan koleksi ini mengingatkannya pada onggokan kain pantai yang biasanya sering kita temui di Bali. Motif abstrak dan geometris dengan perpaduan warna yang sangat mencolok. Ditambah dengan styling busana di panggung yang over-the-top, kemeriahan yang rasanya sulit diterima mata.

I’ve got to say I disagree with that. Saya melihat keseluruhan koleksi ini sebagai sebuah rasa baru yang dinantikan dalam perkembangan fashion Indonesia. Lebih spesifik lagi, koleksi ini menampilkan karakter rancang Dian Pelangi yang cukup berbeda, berlepas dari ‘kebiasaannya’ selama ini. Bukan dalam hal permainan warna berani yang memang menjadi DNA-nya, tetapi dalam pengolahan material.

Dalam peragaan busana di runway saya melihat clash of colors yang memang agak berantakan, but in a good way. Kejutan-kejutan menyenangkan pada setiap look yang muncul bergantian, seperti busana monokrom dengan motif yang setelah diperhatikan ternyata tulisan ‘pelangi’, kemudian blocking colors yang bold dan bertekstur, payet dan embelishment yang ditebar, tidak seperti biasanya yang terkumpul di sebuah area.

dp1 dp2 dp3 Jakarta Fashion Week 2016

Tidak cukup menyaksikan di runway, saya pun penasaran untuk melihat dari dekat koleksi ini yang memang dipamerkan di area buyers room setelah peragaan. Dari dekat, busana-busana tersebut terlihat lebih menarik dengan detil yang membuat kita begitu penasaran, how they made these? Nelly dan Odette benar-benar memanfaatkan waktu mereka di workshop Dian Pelangi untuk mengeksplorasi segala kemungkinan yang bisa dikembangkan pada sehelai kain, melalui teknik yang sudah kita kenal, batik, tie dye, bordir dan lain-lain. Mereka membuat batik dengan bermacam tools dan strategi, membuat cipratan-cipratan, membuat goresan kuas besar, dan juga membuat tulisan tangan menggunakan canting. Walaupun tidak bisa juga disebut otentik (saya yakin sudah ada yang mempraktikkan demikian), tetapi tampilan yang mereka hasilkan terlihat baru dan sangat segar. Goresan abstrak motif-motif batik tersebut yang dibuat secara artistik, sesuatu yang menentukan sebuah karya memiliki value yang tinggi.

Demikian juga dengan sepotong kain yang ditindas bordir, bukan dengan bentuk-bentuk normatif seperti bunga dan sebagainya, melainkan berupa area-area geometris dan kotak, di hampir seluruh permukaan kain. Tentu dengan permainan warna dan bentuk yang menarik. Songket yang biasanya bermotif tradisional saja, kini dibikin serupa motif sangkar burung.

Saya melihat disini Dian dengan dua desainer tersebut, berani untuk membuat terobosan dan tidak bermain aman. Mereka bekerja keras dalam mengolah sepotong kain, agar dihasilkan tekstur, rona dan paduan warna yang benar-benar berbeda. This is genius. Walaupun masih ada busana bermotif tie dye yang menjadi ciri khas Dian, tetapi mempunyai ‘innovative factor’, faktor kebaruan dan orisinalitas yang sejatinya dimiliki seorang desainer.

Di tengah arus mainstream penggunaan kain tradisional/kain nusantara yang biasanya hanya berputar pada teknik itu-itu saja, Dian took a further step to scrutinize them and resulting in modern, rebellious look. Dan kita tetap bisa menyebutnya batik atau tenun yang memang asli Indonesia.

Dan ujian berikutnya adalah, apakah koleksi ini wearable. Well yes. Semua item busananya sangat wearable, terlepas dari styling dan penambahan aksesori di panggung yang memang kebutuhan sebuah show. Tidak ada bahan yang kaku dan terlampau ribet. Tidak ada bahan songket tebal yang biasanya cukup mendominasi koleksi lini utamanya. Bahkan terasa lebih ‘riil’ dan potensial daripada koleksi ‘sporty’nya yang juga ditampilkan di JFW2016.

Beyond that, koleksi ini menjadi sebuah pilihan aktual di tengah arus modestwear di Indonesia yang seakan lambat beranjak dari tren monokrom dan pemanfaataan kain nusantara yang minim olahan. Proses yang dilalui pada koleksi ini juga sangat menginspirasi bagi desainer lainnya, bagaimana menantang diri sendiri untuk berkreasi diluar zona aman dan nyaman, menghasilkan rancangan yang berkualitas dan ‘one of a kind‘. Dian sendiri mengatakan, bahwa terkadang dirinya sebagai desainer juga bisa mengalami kejenuhan berkarya, terjebak pada look desain yang itu-itu saja. Kolaborasi seperti ini seolah memberi napas dan nyawa baru, sekaligus memberi excitement dan long term inspiration about what to do next.

Lebih daripada sekadar membuat sebuah koleksi baru, mereka berharap kolaborasi lintas bangsa ini dapat memperpendek jarak antara modest dan mainstream fashion. Persepsi dunia mengenai modest wear akan semakin membaik seiring terbukanya wawasan bahwa busana tertutup bukan lagi soal keseragaman dan gaya yang itu-itu saja, namun telah berevolusi menjadi sebuah segmen fashion yang berjalan beriringan dengan perkembangan jaman.

Jakarta Fashion Week 2016

keseruan model di backstage (look at those eyeliner styles!)