Rahul Mishra dan Perwujudan Sebuah Sustainable Fashion

It’s a good thing Rahul Mishra bisa mempresentasikan karyanya pada Jakarta Fashion Week 2016 lalu. Yuk, kita lihat di sini kiprahnya!

 

Jakarta Fashion Week 2016

 

Rahul Mishra adalah desainer muda India yang sudah melanglang buana dan karyanya dikenal luas di dunia fashion Internasional. Namanya masuk pada jajaran #BoF500 pada tahun 2014, dan koleksinya hadir pada runway Paris Fashion Week FW 2015 dan SS 2016 yang baru saja berlalu.

Pada 2014 lalu, Rahul menjadi pemenang pertama International Woolmark Prize, sebuah kompetisi fashion bergengsi yang diadakan oleh The Woolmark Company. Dari sinilah debut kariernya di Paris Fashion Week pun terbuka lebar.

This facts were enough for me to make his show as a must watch. And he really did bring another level of fashion excellency on JFW runway, first day.

Saya dan semua mata yang melihat koleksinya dibuat takjub dengan semua kesempurnaan pada sebuah busana. Rancangan Rahul bukanlah sebuah karya haute couture yang serba mewah dan ekstravagant, ataupun rancangan imajinatif yang berbau fiksi. Ia menampilkan sekitar 40 karya ready-to-wear deluxe, yang sangat wearable dan bahkan banyak di antaranya bisa dibeli di department store terkemuka di Eropa.

Rancangan Rahul menggunakan material utama natural wool, yang kini menjadi spesialisasinya. Dan bukan koleksi jas serta business attire yang ia tawarkan, melainkan koleksi busana cocktail dan smart casual wanita yang sangat versatile, sangat universal.

Dua koleksi utama ditampilkan, yaitu tema The Village yang membawa detail embroidery pada wool yang menjadi material utama. Natural (fine) wool yang diolah dan ditenun secara sederhana, tetapi hasilnya sungguh menakjubkan. Sebagian besar tidak menyangka bahwa wool bisa diolah dengan sangat luwes, menjadi material yang bisa digunakan sehari-hari dan tidak tebal. Detail bordirnya pun sungguh menawan, rapih dan sangat teliti. Detail bordir pada atasan dan rok tersebut menggambarkan suasana desa -pepohonan, burung-burung, landscape- tempat Rahul berasal. Mengutip Rahul, “This collection is a soul-searching endeavour and creates a graphical sketchbook of images of a village, I grew up in. The Village, with an ecosystem – that offers an equilibrium between man and nature- of peaceful and sustainable coexistence.”

Koleksi kedua pun tak kalah mencengangkan, berjudul Fourth Dimension yang berfokus pada detail 3 dimensi. So intricate, yet so perfectly executed. Terinspirasi dari teknologi 3D printing yang nantinya akan menawarkan kebebasan tak terbatas, tetapi Rahul membuat semua detail ini dengan tangan, dengan teknik lama (old fashioned) yang ia gali kembali.

 

rahul1 rahul2 rahul3

 

Saya berkesempatan berbincang langsung dengan sang desainer, yang menjelaskan lebih lanjut “perjalanan” koleksinya yang sarat makna ini. Benang mentah wool “dipanen” di Gurrundah, sebuah desa di pelosok NSW Sydney, kemudian dibawa dan ditenun di sebuah desa (di pelosok pula!) bernama Baundpur, Calcutta. Proses ini mempertahankan ekosistem desa-desa tersebut, sekaligus memberdayakannya. Melalui koleksinya, Rahul bertujuan melestarikan keberadaan desa-desa, yang kini semakin terpinggirkan akibat pembangunan modern dan globalisasi.

Rahul bisa menjadi contoh bagaimana desainer fashion bisa menjadi garda terdepan mewujudkan fashion yang berkelanjutan (sustainable fashion), yang berorientasi pada keberlangsungan bumi dan ekosistem alaminya.

“I have always believed from the beginning of my career about sustainability; that is why sustainable luxury is the world for me. My idea is to create new jobs which help (people) in their own villages – I take work to them rather than calling them to work for me. If villages are stronger you will have a stronger country, a stronger nation, a stronger world. So my entire idea, my entire philosophy, revolves around that. The product will go through evolution – it will change, it will improve – but a philosophy is what is constant.”