Kosmetik Dalam Negeri Semakin Ditinggalkan?

Benarkah kosmetik dalam negeri semakin ditinggalkan? Simak di sini pengamatan kami akan perkembangan kosmetik lokal. 

Industri kecantikan di Indonesia bukanlah industri yang baru hadir kemarin sore. Sebut saja produk-produk ikonik seperti bedak Saripohatji, bedak Marcks’, Gizi Super Cream, pensil alis Viva, dan masih banyak lagi. Produk-produk tersebut adalah sebagian kecil dari produk kosmetik yang sudah ada sejak empat puluh tahun yang lalu, dan masih digunakan sampai sekarang. Namun, tidak sedikit juga merek kosmetik lokal yang gulung tikar dan akhirnya hanya tinggal kenangan.

Sejauh pengamatan saya, sebagian besar produk kosmetik lokal yang beredar di pasaran saat ini lebih banyak ditujukan untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Bisa dilihat sendiri jika sedang jalan-jalan ke pusat perbelanjaan dan masuk ke department store terkemuka, pasti yang pertama kita lihat di bagian kosmetik adalah merek kosmetik luar. Pilihan kosmetik lokal lebih banyak ragamnya di pasar tradisional atau modern, bukan di mall-mall besar. Meskipun terdapat juga gerai kosmetik lokal di department store yang harganya bersaing dengan kosmetik luar, tapi popularitasnya masih kalah jauh dengan kosmetik luar.

pensil alis viva-side

Jika ditanya mengapa kosmetik lokal “gaung”-nya masih kalah dengan kosmetik luar, alasannya bermacam-macam. Selain faktor-faktor yang masih harus ditelusuri lagi seperti tingginya pajak untuk memasukkannya di department store, terbatasnya teknologi atau minimnya literatur mengenai data untuk bahan penelitian, tentu ada faktor-faktor lain yang datangnya dari sudut pandang konsumen. Apa saja alasan-alasan tersebut?

Alasan pertama yang paling sederhana: gengsi. Ini merupakan sifat manusiawi yang saya rasa dimiliki hampir semua orang. Memakai produk luar negeri yang mahal menunjukkan kelas sosial dan prestise yang membuat diri kita merasa bangga. Yah, bicara tentang prestise, siapa sih, yang tidak mau terlihat hebat di depan orang lain? Saya pribadi pun sering merasa seperti itu. Seringkali saya merasa lebih terlihat keren saat memakai lipstik merek luar dengan harga yang sebanding dengan lima buah lipstik merek lokal. Namun, gengsi yang berlebihan ini terkadang membuat kita menutup mata dan tidak mau mencari tahu lebih lanjut tentang produk-produk lokal, bahkan sebelum kita mencobanya sendiri.

Kedua, meragukan kualitas dan performa kosmetik lokal. Anggapan ini sudah sangat umum dan tidak hanya berlaku di dunia kosmetik saja, bukan? Dimana apa-apa yang berasal dari luar negeri selalu dianggap lebih bagus kualitasnya. Tenang saja, saya tidak akan menyalahkan anggapan seperti ini, ‘cause I’m also guilty for that. Kadang kala kita terlalu “silau” dengan kosmetik-kosmetik luar sehingga menjadi malas mengeksplor atau mencari tahu produk kosmetik dari negeri sendiri.

Contohnya, minggu lalu saya merasa kecolongan sekali saat bertanya pada teman kantor, lipstik merek apa yang ia pakai. Sambil tersenyum ia menjawab bahwa lipstik tersebut adalah merek lokal yang ia beli di pasar dekat rumahnya. Harganya? Tentunya sangat aman untuk kantong! Teman saya juga berkata bahwa pigmentasi lipstiknya sangat baik, tidak membuat bibir kering dan cukup awet untuk dipakai seharian. Rasanya malu sekali ketika saya sadar bahwa selama ini tidak pernah “ngeh” dengan keberadaan kosmetik lokal tersebut, padahal pekerjaan saya adalah menulis tentang produk kecantikan.

Alasan ketiga adalah susahnya mencari produk kosmetik lokal ini di pasaran. Menyambung dengan alasan kedua, salah satu alasan mengapa banyak orang yang tidak familiar dengan produk kosmetik lokal adalah karena produk-produk tersebut banyak yang “bersembunyi” di pasar tradisional. Jumlah barangnya pun terkadang tidak banyak, sehingga tidak jarang ketika didatangi ke pasar pun banyak yang sudah sold out. Karena itulah saya mengatakan bahwa kosmetik lokal lebih ditujukan pada masyarakat kelas menengah ke bawah karena exposure mereka lebih besar di pasar tradisional dan tidak diimbangi dengan baik di pusat perbelanjaan. Selain itu, informasi akan produk ini juga cenderung lebih sedikit, paling hanya mouth-to-mouth saja seperti percakapan saya dan teman kantor saya tadi.

produk kosmetik lokal indonesia

Gambar dari sini.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Kalau batik dan wayang wajib dilestarikan, mengapa kita juga tidak mencoba melestarikan kosmetik lokal?

Bekerja di media yang fokus pada kecantikan telah memperluas akses saya untuk mencoba berbagai macam produk luar. Terkadang saya lupa, bahwa masih ada kosmetik dalam negeri yang butuh akan perhatian saya. Mengesampingkan alasan-alasan di atas, rasanya tidak sulit untuk menyempatkan waktu dan mencoba mengenal produk-produk lokal ini lebih jauh. Be spontaneous! Tidak ada salahnya sesekali melirik kosmetik lokal yang belum pernah dicoba sebelumnya. Cobalah satu lipstik atau eyeliner, produk paling umum yang pasti dimiliki semua orang. Kalau masih ragu untuk membeli makeup wajah, bisa dimulai dengan body lotion atau lulur, mana tahu Anda menemukan produk yang ternyata sangat cocok dengan Anda.

Di bulan Agustus ini, seiring dengan peringatan hari kemerdekaan Indonesia, tema editorial Female Daily adalah ‘Made In Indonesia’. Kami akan mengajak Anda untuk sama-sama mengeksplor berbagai macam produk kecantikan lokal, mulai dari makeup, skincare, hair products, hingga bath and body. Ajak ibu atau nenek Anda mengobrol tentang rutinitas kecantikan mereka dulu, dan tanyakan produk-produk apa saja yang menjadi andalan mereka. Kalau memang produk-produk tersebut masih ada sampai sekarang, tidak ada salahnya untuk dicoba dan ditulis ulasannya di Beauty Review, bukan?

Saya punya cita-cita untuk keliling dunia suatu hari nanti. Harapan saya, jika nanti saya menginjakkan kaki di negeri orang, saya bisa dengan bangga menggunakan kosmetik lokal dan memperkenalkannya pada masyarakat di sana. Masa, sama produk luar bisa paham luar dalam, tapi dengan produk negeri sendiri pengetahuannya nol? :)