Personal Branding, Untuk Siapa?

Saat pertama kali mendengar istilah personal branding, apa yang terlintas di pikiran Anda? Perlukah kita memiliki personal branding? Atau personal branding hanyalah untuk presiden, tokoh masyarakat, dan selebriti? Hari Kamis, (28/5) kemarin, saya menghadiri acara peluncuran buku “Personal Branding: Membangun Citra Diri yang Cemerlang”, karya Amalia E. Maulana Ph.D, Branding & Etnography Marketing Expert. Yuk, cari tahu lebih lanjut tentang pentingnya personal branding. Believe it or not, everyone needs it!

Bekerja di media online yang fokus pada dunia beauty tentunya membuat saya melek akan peranan beauty bloggers atau beauty gurus di industri kecantikan. Coba deh, tanyakan pada perempuan-perempuan di sekitar Anda, dimana biasanya mereka mencari info tentang beauty products. Saya yakin, sebagian besar akan menjawab dari beauty bloggers atau beauty guru di Youtube (dan Female Daily mungkin? Hihihi!).

Tidak bisa dipungkiri kalau para beauty guru ini memiliki hubungan simbiosis mutualisme dengan brand kosmetik. Banyaknya jumlah subscribers atau followers yang dimiliki beauty guru semakin memudahkan brand untuk beriklan. Namun beauty guru juga harus pintar pilah-pilih brand untuk bekerjasama dan menjaga agar konten yang ia tawarkan tetap otentik dan tidak semuanya ‘pesan sponsor’.

Para penggemar beauty guru yang jumlahnya banyak ini bukan hanya main ke akun beauty guru untuk mencari info tentang makeup, tetapi juga untuk engage dalam channel mereka. Jika sedang membicarakan suatu produk, mayoritas dari beauty guru ini berbicara dari sudut pandang yang sama dengan para penggemar, yaitu customer, sehingga mereka tidak terlihat ‘palsu’ ataupun hard-selling.

zoella

Gif Source

Salah satu beauty guru yang menurut saya paling influential saat ini adalah Zoella, yang memiliki nama asli Zoe Sugg. Video yang diunggah ke akun Youtube-nya kebanyakan adalah makeup tutorial, hairstyle tutorial, fashion haul, daily vlog, dan sebagainya. Tahun 2014 lalu, Zoe sudah memiliki lebih dari 6 juta subscribers di channel nya, menulis novel berjudul ‘Girl Online’ yang menjadi best-seller, dan meluncurkan lini produk bath and body yang dinamakan “Zoella”. Quite an achievement for a 24-year-old girl who first started a Youtube channel just for fun, eh?

Apa kekuatan yang dimiliki Zoe? Well, I gotta say that she has a very strong personal branding. Karakternya yang selalu terlihat ceria dan lucu di depan kamera membuat penggemarnya merasa bahwa Zoe seperti berbicara from friend to friend. Zoe pandai memposisikan dirinya sama seperti penggemarnya, yakni beauty enthusiasts yang sama-sama sedang belajar dan senang mengeksplor produk-produk baru. Kata-katanya tidak pernah terdengar sombong atau menggurui.

Personality Zoe yang ia tampilkan tidak hanya menjadi daya tariknya saja, melainkan menambah value-nya sebagai pribadi yang unik, genuine, namun tetap informatif. Itulah yang menjadi alasan mengapa ia menjadi incaran begitu banyak brand, sering diundang ke acara-acara televisi, dan menjadi pembicara dalam berbagai konferensi. When people think of “British beauty guru”, they immediately think about Zoe!

zoe oh yeah

Gif Source

Dalam buku “Personal Branding: Membangun Citra Diri yang Cemerlang”, Amalia E. Maulana Ph.D mengatakan bahwa tahapan pencapaian prestasi personal branding terdiri dari 4 tahap, yaitu: kenal, paham, interaksi, dan relationship. Nah, saya akan mencoba mencocokkan keempat tahapan tersebut dengan citra diri yang ditampilkan Zoe.

  • Kenal (dikenali melalui identitas yang jelas dan konsisten): Zoe, 23 tahun, beauty guru asal Inggris.
  • Paham (dipahami apa yang menjadi kekuatan dan tawaran-tawarannya): konten dari channel Youtube Zoe mencakup topik-topik beauty, fashion, dan lifestyle.
  • Interaksi (ada keinginan untuk berinteraksi dengannya): Zoe banyak mengadakan meet and greet yang selalu ramai dihadiri penggemarnya. Lihat videonya di sini dan di sini.
  •  Relationship: terjalin sebuah hubungan emosional dimana penggemar Zoe memiliki loyalitas yang tinggi.

Yang dimaksud dalam ‘loyalitas tinggi’ dalam poin terakhir adalah, jika seseorang memiliki personal branding yang kuat, ia akan punya ‘soulmate’, begitu istilah yang ditulis Amalia dalam bukunya, yakni orang-orang yang akan membelanya ketika orang tersebut tersandung masalah. Orang yang banyak dibela tentunya memiliki strong personal branding karena bentuk hubungan yang ia miliki dengan orang-orang di sekitarnya tidak hanya berbentuk transaksional, tetapi juga emosional.

Dalam kasus Zoe, kemarin sempat terjadi kontroversi seiring peluncuran novel perdananya, ‘Girl Online’, yang terjual sebanyak 78 ribu eksemplar di minggu pertama. Zoe diduga menggunakan jasa ghostwriter dalam penulisan novelnya dan ia dinilai tidak blak-blakan tentang hal ini dari awal.

Banyak kritik yang ditujukan pada Zoe untuk hal ini, dan tidak sedikit pula penggemarnya yang mengaku kecewa, tapi ternyata lebih banyak lagi penggemarnya yang menanggapi hal ini dengan baik dan memacunya untuk lebih semangat. Tidak ada yang berubah dari sepak terjang Zoe di dunia maya, malahan subscriber-nya sudah bertambah menjadi 8 juta. Sekarang, Zoe sedang dalam proses penulisan novel keduanya (tanpa ghostwriter!) yang dijadwalkan terbit akhir tahun ini.

zoe girl online

Image Source

Zoe telah membangun personal branding yang tepat untuk dirinya. Terbukti dari kasus ghostwriter “Girl Online” yang sempat membuatnya tertekan dan menjauh dari internet untuk sementara. Para penggemar yang tidak meninggalkannya adalah ‘soulmate’ yang sebenarnya, orang-orang yang mau membelanya ketika reputasinya terancam.

Kisah Zoe ini saya jadikan contoh untuk bahasan personal branding karena Zoe tidak mendapatkan reputasi yang ia miliki sekarang secara instan. Semua melewati proses panjang, dan seperti yang Amalia katakan, butuh waktu lama untuk membangun personal branding untuk diri kita, dan hanya butuh waktu lima menit saja untuk menghancurkannya. Thanks to her ‘soulmates’, Zoe did not have to defend herself because her ‘soulmates’ already did that for her.

Untitled

Jika Anda ingin belajar lebih banyak tentang personal branding, maka buku “Personal Branding: Membangun Citra Diri yang Cemerlang” yang diterbitkan oleh PT Etnomark ini adalah buku yang wajib untuk dibaca. Penulis buku ini, Amalia E. Maulana, adalah seorang brand consultant yang pernah bekerja selama belasan tahun di perusahaan multinasional. Amalia juga merupakan seorang dosen dan sering menulis tentang etnography marketing di berbagai harian cetak.

Untuk mendapatkan buku “Personal Branding: Membangun Citra Diri yang Cemerlang”, Anda bisa kirimkan email ke info@etnomark.com.

Good luck building your personal branding! :)