Kekayaan Motif Folk Art Dalam Koleksi S/S 15 NurZahra

Jakarta Fashion Week 2015

Sejak kemunculannya di tahun 2009, label busana muslim NurZahra sukses mendapat tempat di hati saya. Berbeda dengan label busana muslim lain yang digandrungi banyak hijabers, dari pengamatan saya, label yang dilahirkan oleh Windri Widiesta Dhari ini sukses memberikan nuansa baru dalam dunia fashion muslim, khususnya di tanah air. Masih teringat akan koleksi terakhirnya di ajang Jakarta Fashion Week (JFW) 2015 lalu, NurZahra diberikan dua kali kesempatan untuk menampilkan koleksi Spring/Summer 2015. Koleksi pertamanya yang bertajuk “Hanging Garden” ia tampilkan di hari pembuka bersama beberapa desainer Indonesia Fashion Forward (IFF) lainnya. Kemudian dilanjutkan oleh koleksi kedua bertajuk “Sacagawea” yang ia pamerkan dalam program Dewi Fashion Knights (DFK) yang sekaligus merupakan acara penutup JFW 2015.

Rasa kagum saya semakin hebat saat melihat koleksi Sacagawea di panggung runway. Menurut kabar yang saya peroleh, sang desainer sengaja mengangkat Sacagawea sebagai bentuk penghormatan tulusnya kepada sosok perempuan legendaris keturunan Native Amerika yang dijuluki ‘Si Pencari Jejak.’ Sacagawea sekaligus menjadi sosok penting dalam keberhasilan ekspedisi Lewis dan Clark dalam menjelajahi tanah Amerika Utara di abad ke-19. Melalui koleksi inilah, sang kreator NurZahra merefleksikan perpaduan unik antara kelembutan dan kekuatan perempuan yang hadir dalam sosok Sacagawea.

NZ1

Mengacu pada keberagaman budaya dan suku Indian asli tempat tinggal Sacagawea, koleksi ini hadir dalam motif tribal dan folk art yang menguatkan unsur siluet Ethnic Androginy. Hal ini mengingatkan saya akan koleksi Burberry untuk Fall/Winter 2014 yang juga sarat akan motif folk art. Meski sama-sama menghadirkan cutting busana longgar semacam flare pants, A-line dan loose fit-outer, koleksi Sacagawea hadir lebih unik berkat perpaduan motif modern dan Islamic Geometric yang lebih memperkaya unsur keragaman coraknya.

Dominasi warna dalam Sacagawea menonjolkan nuansa hangat yang sarat akan unsur warna tanah yang identik dengan pemukiman suku Indian. Palet warna netral bernuansa madu, merah kecokelatan, dan abu-abu berpadu serasi dengan palet warna biru yang beragam. Keseluruhan palet warna ini diaplikasikan pada sederet key items andalan NurZahra berupa long outer, jumpsuit, vest, dan cape beraksen rumbai. Koleksi Sacagawea tampak makin sempurna berkat material dasar yang digunakan berupa cotton voile, silk, dan doby weave.

NZ2

Persembahan NurZahra pada malam DFK semakin terasa lengkap karena sang desainer menghadirkan serangkaian aksesori yang sarat unsur etnik berupa syal bercorak geometris,  feather necklace, dan custom-made fringe. Layered styling khas milik NurZahra tentu juga menjadi personal touch yang kuat pada koleksi Sacagawea berikut pilihan knee-high suede boots dan ankle boots-nya.

Selain Sacagawea, Layers of Fidelity dari koleksi Autumn/Winter 2014 yang sempat ditampilkan dalam ajang bergengsi Mercedes Benz Fashion Week Tokyo 2014 juga menjadi koleksi favorit saya yang lain. Dalam pengamatan saya, penampilan perdana NurZahra di panggung internasional kian menunjukkan bukti kualitas produknya yang semakin matang. Gairah untuk selalu berkembang berbekal inspirasi penuh ragam dari sang kreator berhasil menonjolkan kesederhanaan busana muslimah dengan kreativitas yang menghapus batasan primordial.