Foundation Love: YSL Youth Liberator Serum Foundation

Sebelumnya saya mau membuat pengakuan. Saya bukan penggemar foundation. Jumlah foundation yang pernah saya miliki seumur hidup bisa dihitung pakai jari. Bahkan saking tidak berkesannya, saya lupa dan nggak bisa menyebutkan yang mana saja. Bukannya merasa kulit saya sudah sempurna, tapi saya merasa kurang nyaman mengenakan foundation untuk sehari-hari. Selain terkesan berat, saya malas jika harus menambahkan satu langkah lagi ke dalam ritual kecantikan pagi saya, makanya saya lebih memilih BB Cream yang praktis dan nggak membuat kulit terasa tebal.

 Anyway, segalanya berubah ketika saya mencoba Ysl Youth Liberator Serum Foundation. Awalnya saya nggak terlalu tertarik, ah palingan hanya gimmick, pikir saya. Tapi ketika sebuah sampel mendarat di meja saya, saya pun tergelitik untuk mencobanya.

IMG_0328

 

Ini adalah foundation yang membuat saya percaya dengan foundation. Iya, memang saya belum mencoba banyak foundation, tapi yang satu ini berhasil ‘membujuk’ saya untuk mau mempertimbangkan penggunaan foundation di luar acara kawinan.

Selain diperkaya dengan serum andalan YSL, Forever Youth Liberator Serum, yang memiliki kandungan anti-aging, foundation ini juga dilengkapi color tune up complex untuk menyulap kulit kusam menjadi cerah dengan instan. Bonusnya lagi, foundation ini juga dilengkapi dengan SPF 20.

Teksturnya ringan, meskipun liquid tapi cukup creamy, nggak runny, dan mudah dibaurkan ke seluruh wajah. Berhubung saya bukan pengguna foundation, saya nggak punya kuas khusus dan mengaplikasikannya dengan jari saja. Sesuai rekomendasinya, saya mengaplikasikannya dengan gerakan memutar. Nggak perlu banyak-banyak, satu pump buat saya cukup untuk bagian pipi kanan dan kiri, dan satu pump lagi untuk sisanya.

IMG_0340

Warnanya pun mudah menyatu dengan kulit. Ketika dibaurkan, teksturnya yang cair berubah menjadi agak powdery, menghasilkan kulit yang halus bak satin. Rasanya agak mengingatkan saya dengan Giorgio Armani Luminous Silk yang pernah saya coba. Hasilnya wajah terlihat sehat bercahaya, luminous tetapi bukan kilau berlebihan yang bisa membuat wajah terlihat berminyak. Foundation ini bisa menutupi kekurangan pada kulit dengan alami. Segala kemerahan pada wajah tertutupi dengan halus sehingga warna kulit tampak lebih merata. Pori-pori dan garis halus pun tersamarkan dengan sukses.

 photo-2

Untuk menutupi noda-noda bekas jerawat yang warnanya masih gelap memang masih perlu bantuan concealer, tetapi justru medium coverage ini yang membuat saya menyukainya. Kulit terlihat ‘flawless’ tanpa terkesan palsu, dan ada efek airbrushed yang membuat kulit terlihat dreamy.

Lalu, karena ada infusi serum Forever Youth Liberator, selama pemakaian foundation ini kulit terasa tetap ‘bernapas’, segar dan lembab. Nyaman sekali, deh, rasanya. Bahkan setelah berjam-jam, kulit tetap terasa hydrated dan terlihat sehat. Entah sugesti atau tidak, usai menggunakan foundation ini dan membersihkan wajah, kok, rasanya kulit terasa lebih kenyal dan lembab ya?

Karena kandungan SPF-nya ‘hanya’ 20 dan saya cenderung merasa insecure terhadap SPF yang nilainya kurang dari 35, jadi saya memakai Kiehl’s Ultra Light Daily Defense di bawah foundation ini. Berhubung foundation ini hydrating dan efeknya cenderung dewy, saya nggak memakai pelembab lagi. Takut hasilnya malah jadi terlihat berminyak. Kalau kulit sedang terasa kering, baru saya tambahkan pelembab. Oh iya, ketika mengaplikasikan Youth Liberator Foundation ini, saya sangat menyarankan lighting yang bagus, entah itu pencahayaan alami atau lampu putih. Saya pernah terlampau bersemangat mengaplikasikannya, dan hasilnya wajah saya malah seperti memakai topeng.

Dari berbagai ulasan yang saya baca, banyak yang menyatakan foundation ini kurang pas bagi yang kulitnya berminyak. Saya sih untungnya cocok-cocok saja, karena saya lebih banyak menghabiskan waktu di ruangan ber-AC. Lalu, karena sayang, saya juga nggak memakainya setiap hari, hanya jika saya merasa kulit perlu ekstra “oomph” atau jika malam sebelumnya habis begadang saja, hehe.