How to Maintain Your Clarisonic Brush Head

Good-Inexpensive-Clarisonic-Acne-Cleansing-Brush-Head-White-Green_1

Seperti pablohoney, saya juga mengandalkan Clarisonic (yang tipe Plus) dalam skincare arsenal saya. Harus diakui, Clarisonic memberikan perubahan yang signifikan terhadap kondisi kulit saya, langsung seusai menggunakannya. Saya yakin banyak juga yang ‘berhutang budi’ kepada sonic cleansing system yang mampu mengangkat kotoran dari permukaan wajah hingga 6 kali lebih bersih dari cara tradisional ini. Nah, menurut saya, nih, kekurangan dari Clarisonic adalah harganya yang tergolong premium, dan betapa high-maintenance-nya produk ini. Iya, high-maintenance karena sikatnya, si Clarisonic Brush Head, harus rutin dibersihkan dan diganti setiap beberapa bulan sekali. Sedangkan harga satu sikatnya saja bisa mencapai Rp. 300.000,-, tergantung kurs saat itu. Selain itu, Clarisonic belum secara resmi masuk Indonesia, jadi harus titip sana-sini demi bisa senantiasa menggunakannya. Yah… kira-kira harus mengeluarkan uang Rp. 100.000,- per bulan untuk sikat ini. Maklum saja, karena judulnya pembersih dan harus bersentuhan dengan kulit setiap harinya, sikat ini dapat menjadi sarang bakteri dan juga… jamur.

Ah, sayangnya saya sudah kadung cinta dan lumayan tergantung pada alat ini. Satu-satunya opsi agar bisa ‘berhemat’ brush selama mungkin adalah dengan merawatnya lebih seksama. Setelah hampir tiga tahun menjadi pengguna Clarisonic, saya merangkum beberapa kiat untuk memperpanjang usia sikat Clarisonic Anda, apapun jenisnya.

1. Bersihkan sikat Clarisonic seminggu sekali dengan menggunakan sabun antibakteri. Caranya adalah dengan menggosok bagian bulu sikat berikut celahnya dengan menggunakan sikat gigi yang telah dilumuri sabun tersebut. Jika belum pernah melakukan langkah ini, Anda akan kaget betapa berbedanya warna sikat sebelum dan sesudah ‘dikeramas,’ yang juga menjadi friendly reminder betapa pentingnya menjaga kehigienisan benda tersebut. Jangan takut rusak, sikatnya sudah didesain untuk di-abuse kok. Cuci dengan air hangat dan ulangi langkah ini untuk bagian gagangnya.

2. Copot sikatnya (brush head), dan taruh di tempat yang kering dan bersih. Jangan simpan Clarisonic di tempat lembab seperti kamar mandi, selain karena kamar mandi merupakan sarang bakteri, juga karena kelembaban dapat menyebabkan tumbuhnya jamur.

3. Rendam sikatnya dalam larutan disinfektan selama 3-5 menit, setiap sebulan sekali. Dalam forum-forum atau ulasan seputar Clarisonic, banyak yang menyarankan untuk merendamnya dalam larutan benzoyl peroxide, tapi sejujurnya saya nggak tahu mesti menemukannya di mana, jadi saya pakai cairan antiseptik saja.

4. Berhubung Clarisonic dapat dibilang salah satu cara untuk eksfoliasi, kurangi frekuensi penggunaannya dan eksfoliasi kulit dengan produk skincare pilihan Anda, baik itu scrub, liquid exfoliator, maupun masker. Semenjak mulai memasukkan liquid exfoliator dalam rutinitas perawatan kulit, tentunya saya nggak mau over-exfoliate yang malah akan memperparah kondisi kulit. Saya pun mulai mengurangi frekuensi mencuci wajah dengan Clarisonic, yang tadinya pagi dan malam, menjadi malam saja. Sekarang, saya hanya menggunakan Clarisonic ketika menggunakan makeup di siang harinya, seperti BB Cream atau foundation yang memang lebih ngeyel nempel di kulit wajah. Kapanpun saya merasa kulit nampak lebih kusam dari biasanya, barulah Clarisonic saya berdayakan. Selebihnya cukup double cleansing biasa.

Meskipun sudah menerapkan cara-cara tersebut, selama-lamanya perpanjangan usia Clarisonic Brush Head, saya nggak berani menyimpannya lebih dari 4 bulan. Hal ini tidak disarankan karena apabila produsen sudah mewanti-wanti untuk menggantinya setiap 3 bulan sekali, artinya sikatnya pun akan berubah kualitas setelah jangka waktu tersebut. Sikat yang kasar malah akan mengiritasi atau bahkan melukai kulit, dan timbunan bakteri akan memicu timbulnya jerawat.
Jadi, ketika sikat Clarisonic sudah mulai kelihatan kasar dan jabrik, waktunya mulai ngerepotin orang atau PO di Market Plaza, deh.