Up Close & Personal: Amy Wirabudi Tentang Tren Busana Muslim & JIFW 2013

 

Event khusus muslim fashion kembali hadir, dengan nama Jakarta Islamic Fashion Week 2013. Seperti sudah disampaikan Dhany pada artikel konferensi pers JIFW di sini, fashion week selama 5 hari ini akan diselenggarakan Rabu 26 Juni-Minggu 30 Juni 2013 di Cendrawasih Hall Jakarta Convention Center.

Paling menarik dalam event perdana ini adalah, desainer yang berpartisipasi dalam JIFW sebagian besar bukan muslim fashion designer, atau bukan desainer khusus busana muslim, seperti pada event sejenis lainnya. Pada JIFW 2013, kita akan menyaksikan karya Adjie Notonegoro, Stephanus Hamy, Widhi Budimulia, Adrianto Halim, Harry Lam, Ronald V. Gaghana, Samuel Wattimena, Barli Asmara, Rudy Chandra, dan nama-nama lain yang bukan perancang busana muslim.

Tertarik lebih jauh dengan konsep JIFW 2013, saya berbincang dengan Amy Wirabudi, Ketua Program dan Kurator JIFW 2013, berikut ini.

Menarik sekali mengetahui bahwa JIFW bukan saja membawa konsep baru untuk muslim fashion week di Indonesia, tapi juga membawa desainer yang bukan perancang busana muslim. Bagaimana awalnya hingga tercetus ide tersebut?

Sebenarnya ini terkait erat dengan latar belakang kita mengadakan JIFW, bahwa untuk berhijab, kita semua tentu melalui proses dan waktu tertentu, tidak ujug-ujug langsung mantap menggunakan hijab. Jadi JIFW mengakomodasi kecenderungan dan kebutuhan tersebut, kebutuhan akan modest dressing dan sekaligus muslim fashion. Dalam proses itu mungkin kita ingin mengubah gaya busana menjadi tertutup, tapi masih ada siluet badan. Kemudian menjadi serba longgar, hingga sampai menutup kepala/berhijab. Jadi di JIFW nanti tidak semua busana kita tampilkan image-nya dengan berhijab, tetapi semuanya mengacu pada busana tertutup/sopan.

Kalau keterlibatan para desainer tersebut, mereka memang melihat kebutuhannya besar, terutama, ya, memasuki Ramadan dan menjelang Lebaran. Dan bukan kali ini saja para desainer itu diminta untuk mendesain busana tertutup. Ketika Malaysia mengadakan Islamic Fashion Festival yang pertama, siapa yang diundang? Ya, desainer senior Indonesia seperti Sebastian Gunawan, Biyan dan Ghea Panggabean, yang notabene bukan muslim fashion designer.

Bagaimana proses kurasi terhadap karya para desainer tersebut?

Karena kaidah busana muslim itu sebenarnya cukup mudah dipahami; tertutup, tidak membentuk tubuh, dan tidak tembus pandang. Jadi kita cukup menyampaikan hal itu. Nanti pada fashion show mungkin tidak semuanya akan memakai kerudung, karena kita tidak membatasi, ada yang belum siap berhijab tetapi sudah ada kebutuhan untuk busana serba tertutup.

JIFW diadakan mendekati bukan Ramadan. Apakah memang memanfaatkan momen tersebut?

Oh ya, betul. Justru kita mempersiapkan sebuah fashion week untuk memenuhi kebutuhan Ramadan dan Lebaran, dan sekaligus menjadi acuan tren. Dan ini tidak hanya untuk kaum muslim saja, untuk mereka yang beragama lain juga ada kebutuhan untuk busana tertutup, lho. Jadi nanti setiap tahun waktu penyelenggaraan akan selalu menyesuaikan dengan bulan Ramadan.

Bagaimana positioning JIFW secara umum di dunia mode Indonesia?

JIFW diadakan oleh Kompas-Gramedia.. Jadi kita lebih melihat produk hasilnya, melihat tren, apa yang bisa kita tampilkan ke seluruh masyarakat melalui media. Kalau IIFF mungkin lebih mengarah ke pengembangan industrinya juga, kita sebagai media ingin membawa JIFW sebagai trend setter busana muslim.

Sangat menanti terlibatnya desainer-desainer senior tadi di JIFQ, yang bukan perancang busana muslim. Apakah mereka juga sudah menyiapkan koleksi ready to wear/mass production-nya (untuk mendukung koleksi show)? Karena faktanya, konsumen terbesar produk busana muslim fashionable adalah para hijabers muda.

Saya belum mengetahui pasti apakah mereka sudah menyiapkan lini ready to wear yang lebih terjangkau untuk segmen konsumen tersebut. Jelasnya, koleksi mereka di runway nanti akan menjadi angin segar dalam tren busana muslim.

Editor’s note: Barli Asmara adalah salah satu desainer yang sudah menyiapkan label ready-to-wear muslimnya, B by Barli Asmara yang juga berpartisipasi dalam booth exhibition JIFW 2013)


JIFW diadakan oleh Kompas-Gramedia, grup media yang juga menerbitkan banyak majalah fashion. Tetapi kenyataannya sekarang, busana muslim itu belum ada atau sedikit sekali penetrasinya di majalah-majalah fashion mainstream, jika ada, hanya pada edisi lebaran. Apakah ini adalah salah satu langkah Kompas-Gramedia untuk lebih memberi exposure terhadap dunia mode muslim Indonesia?

Kita juga menyadari itu, memang masih susah untuk memasukkan busana muslim untuk majalah fashion yang punya kebijakan berbeda. Itu semua sangat tergantung pada kebijakan masing-masing majalah, mungkin memang busana muslim tidak atau belum pas dihadirkan di majalah tertentu. Bisa jadi ini karena industri dan busana muslim as fashion ini masih muda -tetapi sangat pesat perkembangannya. Tetapi kita yakin nantinya penetrasinya akan lebih luas.

 

Mengingat Ramadan akan segera tiba, saya yakin sekali pekan mode yang satu ini wajib untuk didatangi dan tidak hanya oleh para hijabers tapi untuk seluruh kaum muslim yang pastinya sudah mulai pusing menyusun pakaian mereka untuk undangan buka puasa dan juga lebaran. Final word: don’t miss this event!