9 Summers 10 Autumns is a Must Watch Movie!

Minggu, 21 April 2013, berlangsung Gala Premiere untuk 9 Summers 10 Autumns The Movie.  Film ini disutradarai oleh Ifa Isfansyah, diangkat dari buku best seller karya Iwan Setyawan yang mengisahkan cerita yang terinspirasi dari perjalanan hidupnya.

Mengambil lokasi di XXI Epicentrum, beberapa pemain film ini dan juga tim yang terlibat pun ikut datang.  Tentunya Iwan Setyawan juga ada di situ.  Sebelum film dimulai, Iwan Setyawan bahkan dihujani dengan permintaan foto bersama dan wawancara dari beberapa media. :D Selain film ini juga terangkat dari kisahnya, Iwan Setyawan juga terlibat sebagai penulis skenario bersama Fajar Nugros dan Ifa Isfansyah.

Iwan Setyawan

The amazing director – Ifa Isfansyah

9 Summers 10 Autumns mengisahkan tentang Iwan, yang lahir di Batu, Jawa Timur yang kemudian menjadi Direktur di New York.  Sebagai anak ketiga dari lima bersaudara, dan juga sebagai anak laki-laki satu-satunya, ayah Iwan mengharapkan banyak hal dari dirinya.  Ayah Iwan yang bekerja sebagai supir angkot, terbiasa dengan pola pikir anak laki-laki harus bisa berkelahi membela diri, mengerti atau setidaknya bisa membantunya mengutak-atik mesin mobil, dan tentunya juga bisa mencari nafkah untuk keluarga.

Saya sendiri familiar dengan pola pikir seperti itu, karena memang kenyataannya masih banyak orangtua di Indonesia yang berpikir seperti itu.  Terutama yang tinggal di kota kecil atau desa.  Boro-boro terpikir mau menguliahkan anak, bisa makan hari itu saja mungkin sudah senang.  Dan setahu saya, pikiran orangtua yang kondisi ekonominya sangat terbatas biasanya hanya berharap anak bisa kerja “kasar” meneruskan apa yang mereka kerjakan, apalagi anak laki-laki, ya, dialah tumpuannya, dia yang diharapkan untuk menyambung nafkah keluarga dengan cara yang menurut orang tua ini adalah cara satu-satunya untuk melanjutkan hidup.   Tidak ada mimpi, atau mungkin mereka tidak mau bermimpi?

Di film itu jelas terlihat pergumulan Iwan, yang di satu sisi ingin membanggakan dan membantu ayahnya mencari nafkah di Batu, tapi di sisi lain dia haus untuk belajar dan ingin sekali melanjutkan pendidikannya agar bisa sukses dan lepas dari keterbatasan ekonomi.

“Iwan ndak takut hantu, Buk.  Iwan takut miskin.” Ini salah satu dialog yang diucapkan oleh Iwan kecil saat dia belajar di malam hari.  Memang Tuhan itu adil, ya.  Lahir dengan keterbatasan ekonomi, namun Iwan dikaruniai kecerdasan yang luar biasa. :)

Jujur, adegan di film ini yang sukses membuat saya mewek nggak cuma satu atau dua, lho.  *pengakuan*  Banyak sekali nilai-nilai tentang keluarga, pengorbanan, perjuangan, dan juga mimpi di film ini yang saya suka.  Kisah Iwan menunjukkan kesuksesannya tidak lepas dari dukungan Ibunya yang tidak pernah berhenti, keempat saudara perempuannya, dan juga ayahnya.  Bahkan ayah Iwan yang keras, yang tadinya tidak mendukung Iwan untuk kuliah di Bogor, pada akhirnya melakukan pengorbanan demi Iwan.  Saya nggak mau spoiler, deh, pengorbanannya seperti apa, padahal jari ini sudah gatal mau ngetik ceritanya.  :p

Nggak mudah, memang, untuk mencapai kesuksesan.  Prosesnya nggak secepat mengedipkan mata.  Bukan satu, dua hari langsung kelihatan buahnya.  Semuanya melewati proses.  Butuh perjuangan dan tekad yang kuat.  Semuanya berawal dari nol dan dari kegigihan untuk mencapai mimpi.  Semuanya berawal dari dukungan keluarga yang bahkan rela berkorban.  Ada konflik?  Tentu.  Ada air mata?  Pastinya.  Keluarga mana, sih, yang adem-ayem setiap saat.  Setidaknya ada adu mulut (kecil atau besar) dan perbedaan keinginan itu pasti ada.  Ya, pada akhirnya, sih, kembali lagi ke rasa sayang dan mimpi. Rasa sayang untuk anggota keluarga menurut saya bisa mengalahkan segalanya, mengalahkan ego pribadi, mengalahkan ketakutan, mengalahkan keraguan.  Mimpi untuk membawa keluarga untuk hidup lebih baik juga berperan besar untuk memotivasi setiap usaha dan langkah yang diambil.

“Impian haruslah menyala dengan apa pun yang kita miliki, meskipun yang kita miliki tidak sempurna, meskipun itu retak-retak.”

Ihsan Tarore

Hayria Faturrahman

Untuk akting para pemainnya, waduh, ini serius, saya suka mereka semua.  Apalagi ada aktor dan aktris senior seperti Alex Komang dan Dewi Irawan yang aktingnya sukses membuat saya terkagum-kagum, terpesona, dan terpana!  Hahaha, ini bukan lebay, tapi memang akting mereka berdua sebagai orang tua Iwan patut mendapat penghargaan, sih, menurut saya.  Ihsan Tarore yang dipilih untuk memerankan Iwan Setyawan pun saya rasa sangat tepat.  Ihsan bisa menggambarkan Iwan Setyawan dari masa-masa hidupnya yang di Batu, Bandung, Jakarta, sampai di New York dengan bagus.  Ada juga Agni Prathista yang di film ini mempunyai peran sebagai kakak tertua Iwan, juga ada Hayria Faturrahman sebagai teman masa kecil/cinta pertama Iwan. Masing-masing dari mereka sukses memerankan perannya.  Jarang-jarang saya suka film Indonesia sampai sebegininya.  Selesai nonton rasanya langsung ingin pulang dan mengajak seisi rumah ke bioskop!

9 Summers 10 Autumns diputar serentak tanggal 25 April 2013.  Saya sangat merekomendasikan film ini sebagai salah satu film yang WAJIB ditonton.  Silakan menonton ini bersama keluarga, teman-teman, pacar, atau mau nonton sendiri pun nggak masalah.  Selain cerita dan akting para pemain yang bagus, saya juga yakin selama dan sesudah film itu diputar pasti ada momen di mana kita akan melakukan refleksi diri, entah dari sisi meraih mimpi dalam hidup, atau dari sisi menghargai kerja keras dan dukungan orang tua, atau dari sisi lain yang tentunya masing-masing dari kita bisa temukan sendiri selama menonton film ini.

Jangan takut bermimpi, jangan takut melangkah.  :)

 

  • http://twitter.com/hanzkyy Hanifa Ambadar

    Congrats Mas Iwan. The book is definitely one of my favorite books. I’ll watch the movie soon!