Buku Tutorial Hijab, Perlukah?

Semua pasti hafal, kalau masuk ke toko buku, ada satu ruang display besar khusus buku-buku hijab fashion, yang sekarang sudah ratusan judul hingga tidak cukup lagi digabung di rak bagian kecantikan/fashion. Beda banget dengan … katakanlah 3 tahun lalu, di mana buku panduan hijab atau baju muslim masih sangat sedikit. Saya yakin fenomena inipun hanya terjadi di Indonesia, (ada yang bisa mengonfirmasi?).

Judulnya seputar inspirasi berbusana muslim, dengan atribut ‘gaya’, ‘simple’, ‘stylish’, ‘praktis’, dan atau khusus tutorial dengan bahan dan model kerudung tertentu. Namanya fashion guide, isinya hampir semuanya menampilkan model dengan busana muslim dan petunjuk pemakaian kerudungnya (tutorial). Hmm, kira-kira, perlukah sedemikian banyak buku tutorial berhijab?

Tren hijab fashion atau muslim fashion yang berkembang sangat marak di Indonesia, dominan dipengaruhi oleh internet dan sosial media. Jadi di internet sudah jauh lebih dulu tersedia inspirasi berbusana muslim dan berkerudung, melalui blog, sosial media dan YouTube. Semakin banyak muslimah muda yang berhijab juga karena kemudahan mencari ‘contoh’ yang bisa diakses melalui internet ini.

Lalu dimulailah tren membuat buku panduan berhijab, karena bagaimanapun bentuk buku fisik (masih) tetap diperlukan. Ikatlah ilmu dengan menulisnya (membuat buku), jadi ini satu tren sangat positif.

Sekarang dari sisi kita sebagai pembaca, seberapa perlukah buku-buku tersebut?
Kalau berdasarkan pengamatan (yang cukup komprehensif) terhadap banyak judul buku fashion hijab, beberapa poin berikut bisa dijadikan referensi;

  • Buanyaak buku dengan embel-embel ‘simple‘, tapi jangan dulu percaya. Bagi saya, kalau tutorial yang disajikan masih membuat dahi mengernyit karena bingung dengan langkah-langkahnya, berarti tidak simple lagi. Kalau ‘melibatkan’ dua atau lebih shawl di atas dalaman/inner, hmm tetap menurut saya itu tidak simple. Jadi poin ini maksudnya apa? Jika berniat membeli dan memilih gaya simple (yang benar-benar akan kita pakai setiap hari), maka lihat dan baca dulu isinya. Kalau melibatkan dua poin saya di atas, lebih baik cari yang lain.
  • Banyak buku yang isinya cenderung mirip. Pilih buku yang memberikan nilai lebih, yaitu menawarkan sesuatu yang berbeda, sehingga kita benar-benar mendapatkan inspirasi untuk gaya pribadi, bukan sekadar untuk mengikuti step-by-step tutorial yang diberikan.

Beberapa referensi buku-buku yang mempunyai nilai lebih dan berbeda, antara lain:

  • Gaya Kerudung Rajut (Irna Mutiara & Ade Aprilia). Kerudung rajut tidak sepopuler material lainnya, seperti kaos dan sifon. Banyak yang berasumsi menggunakan kerudung rajut itu panas. Padahaal … kerudung rajut yang berkualitas bagus sangat nyaman digunakan, dan mudah dibentuk, lho. Nah, yang ingin mencobanya, bisa melihat buku ini.
  • Optimize Your Hijab Style (Ina Rovi). Buku ini memberi fokus pada ‘make-over’ gaya kerudung yang sehari-hari kita pakai. Dengan kerudung yang sama, dan sedikit modifikasi cara pemakaian, bisa memberi total look yang sangat berbeda.
  • Heavenly Beauty. Buku eksklusif dari beberapa desainer muslim senior, yang berisi karya otentik masing-masing desainer dengan gaya masing-masing. Dengan konten dua bahasa, buku ini sekaligus memberi gambaran perkembangan busana muslim di Indonesia, dan buah pikiran dari para desainer untuk mengembangkan gaya personal kita, dengan identitas busana muslim.
  • Stylish with Simple Hijab (Fiminin). Walaupun menurut saya ‘simple’ disini tidak sesuai dengan isinya yang rada ‘ajaib’, tapi buku ini recommended, karena punya target market yang spesifik, yaitu mahasiswa! Penyajiannya sangat menarik dan kreatif, dan sesuai banget dengan dunia mahasiswa yang bebas. Bahwa berkerudung tidak harus menggunakan full makeup (seperti di hampir semua buku lain), sehingga pembaca bisa benar-benar melihat sosok mereka, bukan model.