Khairiyyah Sari; Guide to Jet Setting in Style

Bagi pelaku industri fashion, atau mungkin pelanggan setia majalah Femina, pasti sudah nggak asing lagi dengan nama ini. Khairiyyah Sari, atau yang biasa dipanggil Sari ini memang sudah lama sekali bergelut di dunia fashion dan media. Sekarang, walaupun Sari sudah tidak menjadi senior fashion editor lagi di Femina, tapi semua yang dikerjakan sekarang juga tidak jauh-jauh dari fashion. Sari sekarang menjadi seorang style consultant yang sering sekali memberikan training tentang pelatihan gaya busana dan grooming. Sari juga pemilik Bebelian, online shop tas desainer yang dimanagenya bersama Dewi Rezer. Uniknya, tas yang dijual di Bebelian.com adalah milik selebritas.  Ada juga Cahaya Lampu yang dia kerjakan bersama partner-nya. Sari juga aktif bercerita tentang hobi traveling-nya di The Style Travelista. Yang menarik dari The Style Travelista ini, Sari tidak hanya bercerita dari sisi jalan-jalannya saja tapi juga membahas kiat-kiat untuk tetap terlihat cantik ketika traveling.

Yuk, simak obrolan saya dengan Sari mengenai traveling in style.

Seberapa penting menurut Sari untuk tetap terlihat chic selama traveling?

Saya sudah ‘melihat dunia’ sejak tahun 1986. Sekarang saya berusia 36 tahun. Sering liburan sendirian juga sebelum menikah. Kalau melihat ke belakang, memang saya itu dari masih kecil sudah memikirkan apa yang mau saya kenakan di negara tersebut. Sari kecil di kelas SD sudah tahu ketika sedang packing kalau celana A dipakainya sama atasan B untuk ke tempat C :p. Bagaimana memakainya juga sudah dipikirin. (I will post my old traveling pictures since kindergarten for The Style Travelista, also).

Semakin beranjak dewasa, saya semakin percaya bahwa kalau kita bergaya cantik dan proper sesuai situasi dan kondisi yang ada di negara tersebut, hasil foto yang akan kita dapatkan selama berada di sana dijamin akan bagus juga. Saya sudah mengalami periode traveling (kebanyakan di era tahun 90-an) di mana saya memilih baju nggak keren, hasilnya? duuh jadi nggak banget deh foto keseluruhannya (tapi tetep akan saya upload di situs sebagai contoh ‘what not to wear’ :D )

Anyway, kenyamanan itu memang no. 1 saat traveling baik untuk pleasure maupun business. Tapi tetap harus chic dengan padu-padan yang ok, permainan aksesori (scarf, kalung, anting) dan warna pada celana/rok yang kita bawa.

Santorini. Kalau bajunya tidak berwarna senada, pasti fotonya tidak se-wow ini.

Pastinya kalau traveling kan lebih nyaman dengan sepatu flats. Ada saran untuk memilih sepatu flats yang nyaman, cantik dan cocok untuk segala outfit dan acara?

Sebaiknya saat packing bawa dua sepatu flats. Sepasang ballerina flats berwarna coklat tua yang bisa juga dipakai untuk kesempatan malam hari. Sepasang lagi sepatu flats warna beige atau cerah untuk sehari-hari. Paling tidak, kalau kita membawa kebanyakan busana berwarna basic yaitu hitam dan coklat, dengan aksen warna pada sepatu otomatis membuat penampilan menjadi lebih menyenangkan. Tapi ini tergantung cuaca di negara yang akan kita kunjungi juga, sih. Bila kita sudah tau dari awal bahwa cuaca akan hujan, harus ada sepasang sepatu ‘bandel’ (oxford/loafers) berwarna gelap yang tahan banting dalam cuaca seperti itu. Untuk traveling di musim panas/summer, pilih sepatu flats yang peep toe agar kuku-kuku cantik kita terlihat dan bisa ‘bernapas’.

Bagaimana dengan tas dan koper?


Tas tentunya crossbody/messenger untuk ke negara yang jauh selain Asia karena pasti perginya lama, kan? Kalau ke negara di Asia bisa pakai shoulder bag. Saya nggak pernah pakai backpack dari kecil karena kurang aman.

Saya usahakan agar tiap traveling tas yang dibawa nggak pernah sama, biar hasil fotonya nggak membosankan :) *tetap foto*

Untuk koper, saya selalu percaya pada merek yang memang khusus memproduksi tas traveling seperti Samsonite, Tumi, Delsey atau American Tourister. Saya agak kurang percaya dengan merk dari high end designer, meskipun punya 1 Prada black carryon (sepertinya sebentar lagi mau saya jual, deh, di www.bebelian.com hihi). Tapi sejak 3 tahun terakhir saya hanya memakai merek asal German, Rimowa untuk koper besar atau carryon.

Yang biasanya dipakai dalam perjalanan jauh di pesawat?

Pastinya celana bahan jersey atau silk jersey atau katun daripada jeans. Sepatu loafer atau ballerina serta kaus nyaman dan kardigan lengan panjang. Plus, sedia scarf juga di tas tangan.

Negara apa yang menurut Sari surga untuk belanja?

Amerika dan Hong Kong. Di Amerika semuanyaaaaa ada walaupun harus ditambah pajak. Sementara di Hong Kong juga semuanya ada tapi enaknya nggak pakai pajak, jadi bisa lebih murah dari di Amerika. Kalau kita penggemar label seperti Martin Margiela, Comme des Garcons atau Ann Demeulemeester, Hong Kong adalah surganya. Kalau saat sale, dijamin lebih murah ketimbang toko mereka yang ada di outlet di Eropa. Di Hong Kong juga banyak toko-toko kecil tanpa label yang juga lucu dan inspiratif.

Venice Beach

Ada nggak aturan yang diberlakukan dalam berbelanja ketika sedang jalan-jalan?

Biasanya sebelum pergi pasti sudah tahu apa yang mau dibeli dan sudah riset juga. Jadi sudah ada budget untuk apa saja yang mau dibeli dan toko apa saja yang ingin dikunjungi. Tapiii namanya juga kaum hawa, ya, di lokasi yang diinginkan tiba-tiba ada toko lucu di sebelahnya, nah pasti tergoda tuh. Selama ini setergoda-godanya, nggak sampai impulsif tak terkontrol gitulah. Karena semakin sering kita traveling dan berbelanja, kita jadi tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan. Oh, lalu kalau pergi di musim gugur atau musim dingin biasanya nggak belanja banyak karena baju-bajunya nggak akan saya pakai di Jakarta. Eeeerrr … kecuali kalau koleksi musim panas sebelumnya banyak yang sudah di-sale, ya. Yang pasti saya beli sih aksesori rancangan desainer setempat. Ini bagian dari memorabilia untuk jiwa saya (seperti kita beli magnet gambar kota untuk di kulkas gitu, lho, hehehe).

Personal style Sari sendiri bagaimana sih?

My personal style itu ibaratnya campuran dari Tsumori + Kenzo (saat Antonio Marras) + YSL + Marni + Margiela + Balenciaga + Pucci + Fendi! Hahahaha apa, tuh, jadinya. Sepertinya Vintage Boho Eclectic. Komposisi style saya adalah; curly (nggak pernah nyisir rambut), big bold earrings (clips, chandeliers, drops, pokoknya yang berukuran besar). In fact, I’ve been wearing giant size earrings since I was in junior high school. Plus, flat shoes and nail polish for my toes. I think I will always wear big size earrings, flat shoes and nail polish on my toes until I become a grandma.

In addition to that, you will always find lots of vintage stuff side by side with modern pieces in my closet. I love wearing vintage together with modern items. I’m a flea market and ebay addict. Sejak SD pun saya sudah pakai beberapa baju punya Mama (dari SD saya sudah tinggi badannya dan Mama saya mungil jadi bisa dipakai bajunya hehe).

Menurut saya, sebaiknya ketika kita traveling, harus tetap terlihat juga signature style kita.

San Francisco Golden Gate

Speaking of style during traveling, do you try to blend with the locals or do you want to stand out as tourist?

I always try to blend with the locals without forgetting my own style/personality. Makanya saya selalu pelajari dulu seperti apa karakter kota yang akan saya kunjungi itu. If we dress like locals or blend with locals (Ini nggak hanya untuk gaya busana tapi juga makanan, culture, adat istiadat, attitude dan pola pikir mereka, ya), it will be a much more satisfying experience for our soul. Perjalanan kita nggak akan sia-sia dan akan sungguh amat berharga. For me, traveling is for my soul, not for prestige. Oleh sebab itu saya selalu mencari apa yang unik dan lokal dari kota tersebut then try to embrace it and live with it. Blend in like locals itu ada keuntungan lainnya juga, lho. Kita jadi nggak diincar sama copet kaaan hehehehe..

What’s your next travel destination? Pasti sudah dipikirin mau bawa baju apa saja.

Jepang untuk libur lebaran dan Hawaii (liburan akhir tahun). Dari sekarang sudah terbayang bagaimana di sana nanti. ‘Ngayal’ itu kan sama dengan visualisasi. I really do believe in The Secret and The Power of Universe. Semua yang kita pikirkan sering-sering, pasti akan kejadian. Anyway, kalau jadi ke Jepang, pastinya saya akan bawa Marni strap sandal yang sedikit bulky (to get the feeling of Japanese edgy quirky style but also my personality karena ada motifnya), rok polkadot oranye transparan dari vintage Pierre Cardin dan loose cardigan Tsumori Chisato.


Los Angeles – Wina

Menurut Sari, apa cara yang harus ditempuh untuk membangun personal style?

  • Always, always, always learn from other people. Terutama dari orang-orang seperti desainer, fashion icon, fashion people atau orang-orang di industri yang memang mengerti tentang style. Selalu terbuka untuk menerima kritikan membangun dari mereka.
  • Harus melek tren tapi nggak perlu mengikutinya.
  • Sering-sering beli majalah luar, browsing Internet, lihat gaya street style untuk mendapat inspirasi.
  • Always remember your personality and body type. If a fashion icon is wearing a very low neck dress and looks elegan with it because her breasts are small, don’t copy her style if you have big breasts because you will look trashy instead of classy.
  • Sebaiknya kalau memakai baju, carilah yang selain enak untuk dipandang oleh mata sendiri, juga mata orang lain.
  • Belajar tentang seni juga membantu, lho. Seperti seni lukis, patung atau interior. Karena semuanya itu berkesinambungan. Desainer itu dapet inspirasinya kan juga dari seni, sejarah, musik, film, dll.  Oleh sebab itu, kalau traveling sebaiknya jangan mikirin shopping-nya saja. Pelajari sejarah, dan bangunan interior yang ada di kota tersebut. Buat saya, museum merupakan hal paling wajib untuk dikunjungi, selain furniture department di department store. Don’t forget to visit local bookstores/cafes/bars, too.

______________________

Terima kasih Sari sudah berbagi cerita dan kiat-kiatnya. Can’t wait to see more of your traveling in style story in The Style Travelista.

Bagaimana, jadi ingin jalan-jalan nggak setelah membaca ini?