A Chat With FRAI’s Fry

FRAI—sebuah fashion brand yang kedengarannya masih asing bagi kita, padahal sebenarnya nggak, lho. Masih ingat Unique Horn? Waterfall jacket-nya pernah kami tampilkan di sini. Ternyata FRAI adalah Unique Horn, yang resmi berganti nama sejak awal 2012.

I have always loved their cute, simple, yet uber-stylish pieces, maka saya nggak melewatkan kesempatan ngobrol bareng Frida Yasmin atau Fry (baca: Frai), pendiri dan otak dibelakang brand ini di suatu siang. Yuk, kenalan lebih jauh dengan FRAI!

Hai Fry! Ceritain dong, awal berdirinya FRAI? Dulu masih dikenal sebagai Unique Horn, ya.

Berawal dari tiga tahun lalu. Waktu itu, saya diajak oleh dua orang sepupu untuk berbisnis jualan baju. Kebetulan salah satu sepupu saya itu memang sudah duluan jualan, meski bukan bikin brand sendiri, namun menjual baju-baju impor dari Cina dan Thailand.

Kalau dari cerita sepupu saya sih, katanya seru, untungnya bagus, dan lebih enak daripada repot-repot kerja kantoran. Akhirnya saya tertarik ikutan, karena pada dasarnya saya memang suka dengan ready-to-wear fashion [sebelumnya Fry pernah bekerja sebagai stylist di sebuah majalah remaja wanita, dan sempat mengikuti pelatihan singkat di ESMOD].

Kami memutuskan memakai nama Unique Horn, dan langsung mulai bekerja. Sayangnya, sebelum launching, salah satu sepupu saya mengundurkan diri, dengan alasan kurang bisa membagi waktu dengan pekerjaan kantorannya. Unique Horn pun tinggal berdua.

Sepupu saya yang masih bertahan adalah yang sudah mempunyai usaha baju sendiri itu. Sebelumya, dia sudah rutin berjualan di fashion bazaar mingguan di Cilandak Town Square, dan menyarankan Unique Horn untuk ikutan juga. Jadi ‘pasar’ pertama kami di Cilandak Town Square itu.

Lama-lama, sepupu saya semakin sibuk dengan usahanya sendiri yang lain, dan saya semakin merasa kerja sendirian di Unique Horn. Setelah ngobrol-ngobrol, dia memutuskan untuk mundur saja.

Ya udah, akhirnya tinggal saya sendirian, menjalankan usaha ini tanpa background apa-apa di dunia bisnis. Tapi nggak apa-apa. Saya sih koboy aja dan jalan terus.

Sampai sekarang saya masih rutin berjualan di fashion bazaar Cilandak Town Square, utamanya karena saya belum menemukan bazaar lain yang cocok dengan brand dan produk kami.

Bagaimana ceritanya sampai ganti nama menjadi FRAI?

Dari dulu, suami saya kurang suka dengan nama Unique Horn. Menurut dia ribet, dan nama plesetan begitu [Unique Horn adalah plesetan dari Unicorn] sering membuat orang bingung. Memang iya, sih. Di bazaar, banyak orang menangkap nama kami sebagai Unicorn atau bahkan Unique. Setelah tahu nama kami yang benar pun, banyak yang akhirnya lupa. Mungkin karena namanya panjang, ya, jadi kurang nempel.

Mulailah saya mencari-cari nama pengganti. Syaratnya harus simpel, dan mudah diketik di komputer atau mobile phone. Akhirnya saya memutuskan memakai nama panggilan saya, FRAI. Awal 2012 ini, kami resmi berganti nama.

Seiring dengan perubahan nama brand ini, saya juga ingin FRAI semakin serius dan lebih terkonsep. Sebelumnya ‘kan saya total bego banget. Nggak ngerti apa-apa soal bisnis. Mendesain baju juga hanya berdasarkan selera pribadi, jadi masih asal.

Selama ini kan FRAI hanya ikut bazaar. Ada rencana membuat toko tetap secara online atau offline?

Ada banget. Untuk toko offline, ada tawaran bergabung di concept store, di sebuah mall Jakarta. Konsepnya mungkin sejenis Level One di Grand Indonesia. Kalau jadi, Insya Allah akan launching pertengahan tahun ini. Tapi konsekuensinya adalah harga produk-produk FRAI pasti akan naik karena ada konsinyasi yang cukup besar. Padahal saya selalu menjaga agar harga produk kami nggak terlalu mahal.

Saya jadi deg-degan soal ini, meski sebenernya harga tetap akan sama dengan brand-brand lokal lain pada umumnya, sih. Target saya di kisaran Rp200,000-300,000an.

Ada juga rencana membuat online store yang ‘serius’, sekaligus membuat katalog FRAI. Saya juga ingin menyebar produk FRAI ke beberapa reseller, jadi nggak hanya jualan di online shop sendiri.

Kendala dari ketiadaan toko?

Bahan. Dengan tidak adanya toko, saya nggak produksi banyak. Palingan hanya membuat empat pieces untuk satu model. Nah, disaat produknya habis dan harus restock, saya sering nggak menemukan bahan yang sama, biasanya karena habis. Dengan demikian, baju-baju kami jatuhnya one-of-a-kind ya. Makanya saya selalu bilang ke pembeli, kalau ada yang ditaksir, langsung beli aja, karena kemungkinan besar akan cepat out-of-stock.

Selain itu, karena saya hanya ikut bazaar, brand ini nggak terlalu tersebar. Kurang banyak yang tahu.

Darimana inspirasi desain setiap koleksi FRAI?

Inspirasi dari mana aja, sih. Saya nggak pernah membuat moodboard, lalu merancang koleksi berpatokan kepada moodboard itu, atau metode-metode sejenis. Kalau saya lihat orang pakai baju bagus di mall, bisa saja jadi terinspirasi. Internet juga jadi sumber inspirasi. Suka-suka, lah.

Apa sih hal-hal yang identik dengan FRAI?

Baju-baju simple pieces, yang nggak ribet, nggak bermodel aneh-aneh, tapi tetap terlihat menarik dan stylish saat dipakai. Menurut saya, orang nggak harus pakai baju miring sana-sini untuk terlihat stylish.

Hal lain yang juga identik dengan FRAI adalah outerwear yang selalu ada di tiap koleksi kami, karena saya sendiri suka dengan outerwear.

Produk best seller FRAI?

Outerwear. Contohnya, jaket model waterfall tuh laku banget, mungkin karena modelnya memang cocok untuk siapa saja.

Umumnya outerwear FRAI yang berpotongan loose banyak disukai, karena memang bagus di semua tipe badan.

What can we expect from your next collection?

Karena koleksi terakhir sudah main di warna gelap, pinginnya sih sekarang menggabungkan warna gelap dengan warna terang, misalnya kuning mustard. Saya juga ingin lebih banyak main di-print.

Soal model, yang pasti mau ada jumpsuit panjang karena kemarin-kemarin FRAI sudah buat jumpsuit pendek.

Lalu yang pasti akan ada outerwear dengan model-model baru.

Pengalaman yang paling berkesan selama menggeluti bisnis ini?

Mmm… Pengalaman bergabung di Indonesian Fashion Week 2012 kemarin ini cukup berkesan.

Sebelum ikut IFW 2012, emosi saya naik-turun terhadap bisnis ini. Penjualan di bazaar Cilandak Town Square ‘kan nggak ketebak, ya. Kadang bagus banget, kadang hanya laku sedikit, utamanya karena harga kami nggak bisa bersaing dengan stand-stand yang menjual baju kodian impor.

Sementara di IFW 2012, respon terhadap FRAI bagus sekali, dan itu membuat saya merasa percaya diri. Saya jadi bersemangat untuk menseriusi FRAI. Alhamdulillah, suami juga sangat mendukung. Jadi IFW bisa dibilang turning point untuk saya, deh.

Pengalaman menarik lainnya adalah kenalan sama customer. Saya bisa lho, kenalan lalu jadi akrab banget sama pembeli, bahkan sampai jalan bareng dia dan suaminya. Jualan tuh memang ajang bagus untuk cari teman, ya. You’ll never know who’s going to be your costumer, kan? Hanzky yang tersohor aja tau-tau mampir beli produk kami ;)

Siasat menyiasati permintaan pembeli yang semakin meningkat?

Saat ini, PR saya yang utama adalah mencari tempat yang menjual bahan dalam partai besar. Kalau di Mayestik dan pasar bahan umum lainnya ‘kan saya saingan sama banyak orang. Jadi saya harus cari tempat yang nggak banyak diketahui, dan menyediakan bahan dalam jumlah besar.

Lalu mungkin menambah penjahit. Penjahit kami sekarang hanya dua orang, tapi hebat banget bisa menyelesaikan orderan banyak dalam waktu mepet. Sewaktu IFW – Market Plaza Day bulan lalu tuh mereka sukses membuat 100 pieces dalam seminggu, lho. Tapi kayaknya tetap butuh penjahit tambahan, sih.

Rencana FRAI untuk tiga tahun kedepan?

Yang pasti ingin agar FRAI gampang dijangkau dimana-mana, entah lewat online store atau offline store. Ingin menjangkau luar Indonesia juga.

____________________________

Sukses untuk FRAI ya, jangan lupa update kami dengan hal-hal terbaru dari FRAI :)

Untuk yang ingin melihat koleksi FRAI bisa melihatnya di akun Facebook atau Twitter mereka.