JFW 2012 Day 7 – Dewi Fashion Knights, part 2

Hati saya sudah tidak enak begitu model pertama dari koleksi Sapto Djojokartiko tertatih-tatih keluar dari backstage. Awalnya perasaan takut ini muncul dari palet pakaiannya yang gelap, dan rambut model yang dipanjangkan sampai punggung. Ditambah dengan jalan mereka yang terseok-seok, saya seperti melihat sosok-sosok makhluk mistis, membuat saya siap-siap lari keluar tenda JFW.

Namun setelah para model muncul di panggung dengan jelas, ketakutan saya kontan bercampur iba. Selalu berusaha membuat sensasi dengan footwear-nya, kali ini Sapto kembali ‘menyiksa’ para modelnya dengan sepatu-sepatu super tinggi. Namun bukan tingginya yang menjadi masalah, tetapi platform sepatu yang terbuat dari kerangka-kerangka tipis itulah yang membuatnya fragile dan susah dipakai berjalan. Meminjam istilah kampung—oglek. Ditambah dengan ketatnya gaun yang membungkus badan, saya tak pernah menyaksikan ekspresi ketakutan dan kekhawatiran yang begitu nyata di wajah seorang model.

Sepatu-sepatu mengerikan tersebut membuat jalan menjadi berantakan, dan alur menjadi sangat lambat. Hanya dua ekspresi yang saya temukan di para penonton—mengantuk atau cemas (bahkan Ibu Pia Alisjahbana menutup mukanya di barisan front row). Namun ‘dosa’ terbesar sepatu-sepatu tersebut adalah mencuri perhatian dari koleksi baju yang dipamerkan.

Sungguh sayang, karena koleksi ini cukup kuat. Sapto mengambil inspirasi dari legenda Bali, Calon Arang (yes, you can Google it first, because I’m sure most of you—like me—don’t remember what the story’s about), yang juga diceritakan ulang oleh Pramoedya Ananta Toer lewat buku The Priest, The King, and The Witch. Legenda beraroma horor sekaligus pengekangan wanita tersebut diterjemahkan Sapto menjadi gaun-gaun berpotongan mermaid yang penuh bordir dan payet. Palet gelap berunsur metalik serta ukiran khas Bali di bagian bustier yang merambat sampai muka para model menambah unsur mistis atas interpretasi Sapto tentang tokoh Calon Arang yang tangguh.

Terlepas dari kegeraman saya atas sepatunya, I applauded Sapto for his strong concept and execution.

Bicara soal strong concept and execution, koleksi terakhir datang dari Tex Saverio, ‘pangeran’ haute couture Indonesia yang selalu total dengan konsep, desain, dan eksekusinya.

Kali ini Rio terinspirasi oleh sebait ayat di alkitab, “Maka timbullah peperangan di surga.” (Wahyu 12:7), dan menjadikan surat tersebut menjadi fondasi koleksinya. Sebagai latar belakang, surat Wahyu atau The Revelation di alkitab Perjanjian Baru menceritakan peperangan antara Mikail dan para malaikatnya melawan sang Naga (perwujudan dari Iblis) yang datang bersama malaikat-malaikat pembangkang Tuhan. Di akhir, Iblis dan para malaikat pembangkang tersebut dikalahkan dan jatuh dari surga, diasingkan ke bumi.

Tentu saja, diperlukan ilmu Teologi yang mendalam untuk memahami konsep eskatologika war in heaven ini. Ada berbagai interpretasi atas konsep tersebut, termasuk interpretasi versi Tex Saverio.

Seperti biasa, Rio seakan-akan menutup mata kepada komersialitas dan daya jual pakaian-pakaiannya, dan malah membuat karya seni rupa dengan imajinasi liar. Gaun-gaun teatrikalnya nyaris tak berbentuk gaun lagi, melainkan seni pahatan yang bercerita mengenai peperangan antara yang baik dan buruk.

Sadar betul bahwa ia sedang mewakili kisah epik di alkitab, Rio tak mau main-main. Bahkan kemunculan busananya pun menggambarkan urutan kejadian dalam surat tersebut, mulai dari tenangnya surga, munculnya sang Iblis dalam wujud naga, peperangan Mikail melawan sang naga, hingga kembali hadirnya ketenangan dalam surga, semua digambarkan dalam sembilan kostum.

Tidak lagi ‘gila’ volume, kali ini Rio memfokuskan diri menjadi ‘gila’ detail dan teknik craftsmanship yang sangat tinggi.

Bravo, Dewi Fashion Knights. We’ll see how you’ll top this one next year. Until then!