JFW 2012 Day 7 – Dewi Fashion Knights, Part 1

Save the best for last, maka Jakarta Fashion Week 2012 pun menyimpan acara andalan mereka untuk penghujung acara, agar perhelatan mode ini ditutup dengan kuat dan penuh kesan. Dengan kata lain, to close it with a bang.

Acara andalan itu adalah Dewi Fashion Knights. Setiap tahun, majalah Dewi mengumpulkan perancang-perancang terkuat di Indonesia (yang dititah sebagai fashion knights) untuk memamerkan karya terbaru mereka di JFW. Dan ada akhirnya, Dewi Fashion Knights memang tidak pernah gagal menjadi klimaks.

Para ksatria untuk tahun ini adalah Sebastian Gunawan, Auguste Soesastro, Sally Koeswanto, Sapto Djojokartiko, dan Tex Saverio, bernaung dibawah tema ‘Celebrating Women’.

Seba menampilkan kain print dengan motif tribal berwarna mencolok. Kain tersebut diolah menjadi pieces yang modern dan ultra-stylish melalui siluet unik namun ready-to-wear.

Print ini sangat mencuri perhatian, sehingga meski dipadukan dengan headpieces dan aksen dramatis (misalnya, yang berbulu-bulu, atau berenda-renda), mata dijamin tetap tertuju ke kain print tersebut.

And I spied with my little eye, di ujung barisan front row, seorang ibu-ibu bersasak besar—sudah pasti teman atau klien baik Seba—yang sudah mengenakan salah satu dari koleksi yang sedang dipamerkan (envy!). Terbukti sudah, bahwa karya Seba ini memang bisa dikenakan langsung off-the-runway. I definitely could picture myself wearing it (in my sweet, sweet dreams).

 

Koleksi kedua keluar, dan semua napas berhenti. Koleksi tersebut adalah Restu Bumi, rancangan Auguste Soesastro.

Restu Bumi sangat mengingatkan saya kepada obrolan dengan desainer Kleting. Ia sempat berkomentar bahwa pagelaran mode Indonesia seharusnya bisa lebih banyak membawa buyer untuk sang desainer, bukan hanya membawa penonton yang haus akan koleksi-koleksi heboh—haute couture! Gaun-gaun besar! Lautan payet!—dan kecewa dengan rancangan-rancangan klasik dan minimalis. Apakah semakin dramatis itu berarti semakin bagus?

Kleting, sih, sudah pasti tidak berpikir seperti itu, dan tampaknya Auguste Soesastro juga tidak.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Auguste adalah seorang environmentalist, maka ia mendedikasikan Restu Bumi untuk alam. “Industri mode itu dunia yang sangat merusak lingkungan,” kata Auguste, dikutip dari Seputar Indonesia. “[Saya] berusaha melakukan sesuatu, salah satunya dengan selalu menggunakan serat alam dalam setiap koleksi saya,” Sehingga seluruh koleksi Auguste yang bersiluet struktural ini menggunakan material alam, mulai dari serat nanas hingga pisang.

Karya dari hati, akan menyentuh hati juga. Dan hati penonton tidak hanya tersentuh oleh koleksinya yang klasik, teduh, juga wearable dan tampak berkualitas. Tidak. Tetapi kami juga tersentuh dengan presentasinya yang menyejukkan dan, somehow, mengharukan.

Video latar belakang menunjukkan padang rumput tandus yang berwarna senada dengan baju-baju yang ditampilkan, para model berjalan dengan tenang, dan di akhir showcase, muncul Paquita Widjaja dengan keanggunannya yang sederhana diiringi dua bocah yang tertawa-tawa. Saya seperti melihat Ibu Pertiwi bersama bibit-bibit penerusnya. Sungguh klasik dan berkesan. Restu Bumi pun menjadi favorit banyak orang malam itu.

Sally Koeswanto sempat menyebutkan bahwa inspirasi dari koleksinya ini berakar dari dirinya sendiri. Hasilnya adalah koleksi Love, Passion, and Lust yang terdiri dari pieces feminin, sensual, misterius, dan memegang erat unsur Oriental. Headpieces yang terbuat dari kipas dan sumpit, gaun-gaun yang konsisten berpotongan cheongsam hingga ornamen bebatuan menekankan poin terakhir tersebut.

Burung phoenix juga menjadi unsur dekoratif yang dominan. Sally berujar bahwa phoenix berkonotasi positif, sebagai simbol cinta dan kebahagian, dan juga representasi ratu dan wanita.  Saya paham phoenix adalah makhluk mitologi yang kuat, tapi saya tak yakin jika ia mencerminkan “cinta dan kebahagiaan” di koleksi ini, karena gaun-gaun Sally justru mempunyai kesan dangerous femme fatale yang menonjol.