Oscar Lawalata Bicara Proyek Terbarunya dan Kain Indonesia

Saya beruntung sekali mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai Oscar Lawalata dan miliner kenamaan dari Inggris Justin Smith mengenai kolaborasi mereka untuk koleksi yang akan dipertunjukkan malam ini di Jakarta Fashion Week 2012. Wawancara tersebut dilakukan Jumat sore kemarin di butik Oscar yang bertempat di Jl. Panglima Polim 7/137B, Jakarta Selatan. Keduanya hadir dalam wawancara tersebut, merupakan waktu yang tepat buat saya untuk menanyakan lebih dalam tentang kolaborasi mereka, tentang koleksi nanti malam lebih dalam dan pendapat mereka tentang tekstil tradisional yang merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang saya kagumi.

Oscar yang pada tahun lalu bekerja sama juga dengan seniman fashion internasional, kali ini kembali berkolaborasi untuk mempersembahkan koleksinya di Jakarta Fashion Week. Jika tahun lalu berkolaborasi dengan Laura Miles, designer tekstil asal Inggris, kali ini Oscar didampingi oleh Justin Smith, sang milliner atau pengrajin topi. Bagaimana koleksi hasil kolaborasi Oscar dengan Justin nantinya, dan bagaimana pula pandangan Oscar terhadap topi dan tekstil Indonesia? Simak penjelasan Oscar dalam interview berikut.

Bagaimana perasaannya untuk kesekian kalinya diajak tampil dalam Jakarta Fashion Week dan berkolaborasi dengan seniman fashion internasional ?

Terus terang saya suka tantangan atau hal baru, dan saya melihat topi di Indonesia hanya menjadi topi busana tradisional atau topi pengantin, padahal itu kan part of fashion. Dan saya memang suka kebudayaan Indonesia dan Justin juga. Dengan latar belakang yang berbeda, Justin ingin mengolah inspirasinya dari kekayaan yang kita punya, akhirnya saya melihat ada yang menantang lagi nih, hal baru. Akhirnya saya tertarik untuk melakukan kolaborasi ini.

Sejauh ini pelajaran apa yang telah didapat dari kolaborasi-kolaborasi yang sebelumnya?

Kita bisa meningkatkan skill dan pengetahuan kita. Jadi kita juga bisa dapat inspirasi yang kadang tidak bisa datang dalam waktu singkat, apa yang ada di kepala kita bisa kita simpan untuk diolah di masa yang akan datang. Untuk kolaborasi dengan Justin ini tentu saya menginginkan ada kontinuitasnya, tetapi saya punya bisnis sendiri dan Justin juga, tetapi apa yang tertempel di hati kita itu yang penting menurut saya.

Justin kali ini ingin mengolah inspirasinya dari tikar dan kain ikat, yang merupakan sebagian kecil dari budaya kita. Kita masih punya silver, batu-batuan, dan banyak lagi yang ke depannya bisa diolah. Jadi saya rasa ini baru awal, untuk ke depannya masih sangat terbuka untuk kontinuitas dari apa yang kita buat.

Koleksi yang akan ditampilkan di JFW 2012 nanti akan seperti apa?

Tema kita nanti adalah Culture Incarnation karena kita melihat budaya itu bisa dilahirkan kembali dengan pengolahan baru, dengan bentuk yang baru, tetapi dengan dasar kita ingin menghargai dan meneruskannya. Karena dengan era kemajuan teknologi, bukan berarti kita meninggalkan budaya yang lama dan kita berangkat dari situ.

Sedangkan yang ingin saya tampilkan nanti lebih kepada keragaman, ada tenun, ada batik ada ikat. Sebenarnya merupakan suatu perayaan budaya. Walaupun kita tahu (koleksi seperti ini) sifatnya masih eksklusif, tetapi bukan berarti tidak bisa menginspirasi orang. Dan kalau dari warna-warnanya lebih monokrom dekat dengan warna-warna alam.

Bagaimana kolaborasi dengan Justin Smith ini memberi pengaruh terhadap koleksi yang akan ditampilkan di JFW 2012?

Dengan kolaborasi ini, saya lebih kepada, ada ide apa di kepala saya dan Justin juga punya ide apa. Dan ketika Justin datang, saya melihat artworknya dan saya lalu mendapat inspirasi “oh, ini sesuatu yang sangat elegan.” Yang dipikirkan adalah bagaimana merangkainya untuk menjadi suatu presentasi yang balanced. Sehingga orang tidak melihat konsepnya sebagai sesuatu yang freak, tetapi bagaimana kita menampilkannya secara indah. Something beautiful dari yang Justin pikir, apa yang saya pikir, bagaimana bisa menggabungkan dan menyeimbangkan keduanya.

Tujuan apa yang diharapkan dari kolaborasi ini?

Tujuannya lebih kepada bagaimana kita mengeksplor kebudayaan. Yang penting bagi saya adalah bagaimana kebudayaan itu terlihat dari kacamata orang luar. Kita sebagai orang Indonesia bukan berarti kita tidak menghargai bangsa sendiri, tapi kadang orang-orang di luar mempunyai perspektif yang berbeda, karena mereka hidup dalam dunia yang berbeda, dengan environment yang berbeda, sehingga mereka juga membei perspektif-perspektif baru bagaimana kita meningkatkan teknologi kita, skill kita. Jadi saling menginspirasi.

Adakah kendala yang dihadapi selama proses riset dan pembuatan koleksi untuk kolaborasi ini?

Kendalanya adalah waktu dan jarak, saya punya kesibukan, dia punya kesibukan dan jarak juga cukup jauh. Tetapi itu berubah menjadi suatu tantangan, bagaimana dengan jarak yang cukup jauh, komunikasi juga terbatas, tapi kita tetap berada di tujuan yang sama.

Kain tradisional Indonesia apakah yang menurut Oscar perlu digali dan dikembangkan?

Tenun ikat dari Nusa Tenggara Timur karena daerahnya masih terpencil, industrinya masih berjalan dengan cara yang sangat sederhana dibandingkan daerah lain. Saya melihat sudah cukup maju secara iklimnya, secara industrinya. Dan sebenarnya masih banyak daerah-daerah pelosok lain juga yang masih bisa dieksplor seperti tenun ikat itu, songket juga. Daerah Sumatra juga kainnya bisa dikembangkan seperti kain tapis dari Lampung. Kalimantan juga industrinya masih sederhana.

Thank you Oscar! Tidak sabar rasanya mau melihat koleksi kolaborasi dengan Justin Smith nanti malam! Jangan lewatkan juga interview saya dengan Justin Smith yang akan kita publish segera.