Fashion Satu Hari

Kemarin, Fashionese Daily diundang ke acara private screeningnya film Fashion Satu Hari. Sebuah film semi dokumenter tentang jurnalistik fashion. Film ini sudah kita tunggu-tunggu karena, selain kita sebagai fashion bloggers yang sedikitnya bekerja layaknya jurnalis fashion, film ini sangat kredibel karena dibuat dan didukung oleh para pekerja industri fashion yang memang sangat passionate dibidang fashion. Sutradaranya adalah  Syahmedi Dean yang memang sudah berkarir sebagai wartawan fashion sejak tahun 1996  dan diproduseri oleh Boedi Basoeki serta dibintangi oleh Samuel Mulia sebagai pemeran utama.  Pemain pendukung lainnya juga sarat dengan para insider fashion seperti Dewi Utari, Aimee Juliette, Andreas Odang, Fitria Yusuf, Reza Bustami, Jeffry Tan, Quartini Sari dan Cicilia King. Ada juga lho penampakan Mario Testino, Anna Wintour, Karl Lagerfeld dan banyak lagi.

Tidak seperti film fashion lain yang lebih bercerita dari sisi shopaholic dan glamorama dunia fashion, film ini melihat fashion dari kacamata wartawan. Jadi seperti behind the scene dari sebuah majalah. Di film ini kita bisa melihat tentang kultur dan kesibukan kerja para wartawan fashion, suasana tim redaksi dan proses pembuatan sebuah fashion spread. Diceritakan juga secara singkat tentang serunya perjalanan liputan fashion week di London, Milan dan Paris.

Salah satu misi dari film ini adalah memperkenalkan kepada anak muda tentang karir sebagai wartawan fashion. Selama ini, banyak yang masih menganggap pekerjaan di fashion hanyalah fashion designer atau boutique owner. Memang sih sekarang sudah mulai banyak yang melirik pekerjaan menjadi fashion editor di sebuah majalah. Sayangnya, mereka tertarik karena melihat dari sisi wahnya saja karena fashion identik dengan orang orang yang gaya, wangi dan selalu tampak kinclong.

Nah, disini lah yang mau diluruskan oleh Syahmedi Dean dan Samuel Mulia. Bahwa dunia fashion bukan hanya yang wangi wanginya saja. Walaupun fashion tidak bersinggungan langsung dengan kehidupan orang banyak, wartawan fashion tetap harus menjunjung tinggi etika pemberitaan. Jadi seorang wartawan tidak bisa seenaknya memberitakan bahwa something is back (contohnya Hippie is back) dengan hanya memberikan referensi yang sangat minim. Syahmedi Dean juga menambahkan bahwa kehadiran Google yang memudahkan proses riset justru menjadi boomerang untuk para wartawan. Kalau dulu wartawan harus pergi ke perpustakaan, membaca buku dan menulis ulang serta mempelajari baik-baik tentang suatu hal, sekarang mereka tinggal mencarinya saja di Google.  Hal ini mengakibatkan mereka untuk cenderung menggampangkan dan tidak mempelajarinya sampai mendalam karena nanti kalau lupa toh tinggal Googling lagi.

Secara keseluruhan, film ini tentunya sangat menarik. Sayang hanya berdurasi 37 menit dan saya agak kesulitan menangkap percakapannya kata demi kata.  Dari segi sinematografinya juga keren karena kwalitas gambar dan editingnya bagus serta akting yang sangat natural. Yang paling mengesankan adalah aktingnya Andreas Odang dan tentunya styling rambutnya Dewi Utari yang hits!

Scene awal dari film ini juga secara khusu menarik karena menggambarkan keadaan Pasar Cipulir pada jam 2 pagi. Di mana di belahan dunia lain seperti London sedang ada fashion show. Entah kesan apa yang ingin disiratkan dari scene itu, mungkin ingin menekankan dari awal bahwa walaupun kehidupan wartawan fashion jauh dari kebecekan pasar basah tetapi hanya mereka yang tahan banting lah yang akan bertahan.

Ingin menonton film ini? Nantikan penayangannya di TIM, gratis untuk mahasiswa.