Alien by Thierry Mugler

AlienMugler

Kesalahan fatal orang Indonesia adalah mencampur teh dan melati dalam minuman. Ini berakibat sangat besar pada kemampuan kita menjejak teh dan melati secara terpisah. Alien adalah bukti hidup.

Ada yang bilang, Alien antitesis dari Angel yang 14 tahun sebelumnya merajai penjualan Mugler. Salah. Alien, itu adik Angel yang lebih manis dan muda. Beberapa, bahkan advertorialnya mengatakan kalau wanginya sangat etheral dan seperti dari luar bumi. Ini juga berlebihan. Kita bisa dapat wangi macam ini di dalam gelas (atau botol).

Top sampai mid notes dikuasai melati. Ini yang jadi rancu karena beberapa orang di sekitarku bilang: “Ih bau teh nya enak banget” atau “Aduh wangi tehnya bikin haus.” Persepsi seperti ini lumrah di Indonesia yang gemar “nyeruput” teh hasil fermentasi bersama melati. Akhirnya, bau teh di Indonesia cenderung kemelati-melatian (kalau tidak mau bilang ya total melati). Kasus yang sama ditemukan pada Susu dan vanila. Susu putih wangi vanila. Waktu disajikan minyak vanila dalam laurtan jojoba, kita akan langsung berteriak susu!

Alien dibangun dari tiga pondasi besar: melati, cedar, dan amber. Diletakkan tepat di top, mid, dan basenotes. Komposisi penunjangnya sangat banyak. Aku bahkan bisa mencium mint di beberapa sesi midnotes. Wangi Alien condong pada manis dan ringan. Tidak sekeras Angel, tapi bukan berarti transparan. Alien cukup potent dengan kualitas sillage yang unggul. Ia bisa bertahan lebih dari 6 jam dengan progress yang cantik. Banyak orang mengeluhkan melati di topnotes wanginya sintetis. Aku yakin, orang Indonesia yang suka minum teh-melati, justru akan jatuh cinta di top notes. Akhir perjalanan Alien ditutup dengan woodsy-vanilla. Menggairahkan.

Terlepas dari aroma teh-ala-Indonesia, aku justru keberatan dengan botol yang diwarnai ungu dengan bentuk spektakuler. Tidak relefan dengan isi di dalamnya. Orang bisa salah kira. 7/10 to me.

Alien in adj:
level 1: space
level 2: jasmine carnal
level 3: warm sand

image: moodiereport.com