Mad about Madness

Dear FD-ers, lets get up-close and personal with Project Madness. I just interviewed one of the three designers who happens to be my old friend, Bonnie Natasha Arief. And you know what, apparently the another one was photographed for our Street Snap page. Remember Ajeng in ‘Turban and Boots’? Yes, it’s her. :) Okay, let’s begin!

Awal tercetus ide buat kerjasama bareng?
– Sebenernya madness itu project colab 3 designers. Jadi sebenernya sih madness bukan brand. Awalnya kita partner in crime di kampus, terus kita punya satu kegilaan yang sama. Kita ngerasa punya alter ego yang lebih kreatif dari diri kita sendiri

Kisahnya bisa masuk ke Alun-Alun Indonesia?
– Awalnya kita sok akrab aja sama Kak Chitra Subijakto. Gue dulu pernah ketemu sama Kak Chitra waktu gue kerja di Barli. Trus doi tertarik dan minta barang kita ditaro di alun2. Kak Chitra itu kan emang creative buyer alun-alun untuk teens, jadi yah emang pasti masuknya lewat desse..

Jadi target pasar Madness lebih ke remaja?
– Bisa dibilang begitu. Umur-umur 20-30 rich kids sih hahahaha. Sebenernya bebas aja siapa pun bisa pake accessories kami.

Selain di Alun-Alun Indonesia, kita bisa dapetin barang-barang Madness di mana?
– Sampai saat ini masih online via blog kami sih. Tapi kami bakal launching paling lambat awal Januari. Nanti lebih variatif, nggak cuma ethnic aja.

Madness sendiri itu stylenya kayak apa sih? Apakah mengikuti trend, atau punya signature style sendiri?
– Sebenernya style Madness sendiri bukan yang ethnic gitu. Karena masuk Alun-Alun Indonesia, kami harus combine style kami dengan citranya Alun-Alun. Style Madness sebenernya lebih ke warna-warna hitam and turunananya, tribal, dan bold. Kami nggak fashionable. Kami bukan fashion junkie. Dan kami nggak trendy. Apa yang kami buat biasanya bold dan nggak terlihat seperti mainan. Kalo emang pas kami bikin barang dan ternyata tiba-tiba hits ya itu bukan salah kami. Hahahaha. Yang jelas setiap piece dari Madness adalah buah karya kedua tangan kami sampai berdarah dan setiap design cuma ada maximal 3 piece. Signature style Madness kalo bisa di deskripsikan mungkin lebih ke surreal dan strangely beautiful.

Karena designernya ada tiga, menyatukan inspirasinya bagaimana?
– Masing-masing punya inspirasi sendiri, tapi kita cari benang merahnya. Biasanya sih inspirasi dari our nightmare. Some depressive tunes macam explosion in the sky, tribal, Sylvia Plath. Hahaha. Unpredictable lah pokoknya.

Terakhir, kisaran harga barang-barang Madness berapa?
– Mulai dari Rp. 300.000,- sampe Rp. 1.000.000-an. Yang satu jutaan itu lebih ke tas yang bahannya genuine leather atau sepatu.

Thanks Bonnie and The Project Madness for taking your time. Fashionese Daily LOVES Madness :)

Photos courtesy of : Madness