Day 4: Couture Mix by Barli Asmara

Di saat kebanyakan perancang Indonesia berlomba-lomba berkreasi dengan corak khas Indonesia atau sekedar mengimprovisasi busana daerah menjadi pakaian siap pakai yang stylish dalam Jakarta Fashion Week 2008, Barli Asmara lebih memilih untuk berkreasi dengan kain polos. Ya, polos. Tanpa motif, tanpa payet, apalagi renda. Barli justru berkreasi dengan cara menganyam kain-kain polos tersebut atau yang dikenal dengan teknik menjahit smock. Ini jelas jauh lebih sulit bila dibandingkan dengan teknik menganyam kertas berwarna atau sedotan menjadi tikar seperti di pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian pada jaman Sekolah Dasar dahulu.

Saya sempat memotret adegan ‘penganyaman’ kain-kain tersebut sebelum dijahit menjadi sebuah baju dan diperagakan di Jakarta Fashion Week kemarin, namun saya sama sekali tidak menyangka bahwa kerajinan tangan tersebut dapat bertransformasi menjadi sebuah adibusana. Setidaknya ini bukan sekedar adibusana biasa, penghargaan terhadap jerih payah para ‘pengrajin’ anyaman kain tersebut terjewantahkan dalam citra adibusana karya Barli Asmara. Dengan kreasi seperti inilah Barli menunjukkan keistimewaannya yang membuat dirinya patut diperhitungkan di kancah mode Indonesia, dan layak mendapatkan standing applause di Jakarta Fashion Week kemarin.